A. Prawacana
Berkaitan dengan penggunaan istilah metode, dapat dijumpai pula istilah-istilah lain yang cenderung digunakan secara tumpang tindih (overlap) dalam bahasa Indonesia. Istilah-istilah tersebut adalah pendekatan, strategi, metode, dan teknik. Pada umumnya, jika dipertanyakan, misalnya kepada seorang mahasiswa tahun pertama di institusi pendidikan tinggi tenaga kependidikan, maka jawaban atas pengertian istilah pendekatan, strategi, metode, dan teknik cenderung sama, yaitu: cara. Jawaban itu jelas tidak tepat, apalagi jika dikaitkan dengan konsep dasar keberadaan kata dalam suatu bahasa. Intinya, tidak ada kata atau beberapa kata yang memiliki makna yang benar-benar sama. Paling tidak, perbedaan makna kata itu terletak pada nuansa pemakaiannya.
Relevan dengan rasionalisasi di atas, dalam bab ini dideskripsikan pengertian dan penerapan konsep istilah-istilah yang terkait dengan pembelajaran bahasa, yaitu (a) pendekatan, (b) strategi, (c) metode, dan (d) teknik. Diharapkan, setelah membaca dan memahami bab ini, pembaca dapat menjelaskan kembali perbedaan gradual antara pendekatan, strategi, metode, dan teknik dalam teori pembelajaran bahasa dan interaksi belajar-mengajar (IBM).
B. Pembahasan
1. Kedudukan Pendekatan, Strategi, Metode, dan Teknik dalam Pembelajaran Bahasa dan IBM
Menurut Anthony (1963), istilah pendekatan atau approach, metode atau method, strategi atau strategy, dan teknik atau technique merupakan serangkaian istilah yang digunakan dalam rancangan dan pengembangan proses pembelajaran dalam arti umum. Seluruh istilah tersebut memiliki acuan makna suatu kegiatan yang pelaksanaan dan pengaturannya mengikuti tingkatan hierarkis.
Teknik dikembangkan atas dasar metode, metode dikembangkan atas suatu strategi, dan strategi dilandasi oleh suatu pendekatan. Jadi, jika diurutkan dari atas ke bawah, maka urutan yang logis berkaitan dengan cakupan makna istilah-istilah itu adalah (a) pendekatan, (b) strategi, (c) metode, dan (d) teknik.
a. Pendekatan Pembelajaran
Pendekatan merupakan langkah awal guna memahami dan merumuskan sesuatu (misalnya teori). Seluruh kegiatan keilmuan selalu diawali oleh proses pendekatan. Oleh sebab itu, pendekatan sangat bersifat filosofis. Jika dirumuskan secara sederhana, pendekatan adalah usaha untuk mendekati sesuatu. Inti dalam pendekatan adalah apakah itu apa (what is what’s).
Sebagai ilustrasi, pada suatu kesempatan, seseorang mendengar kata PC, dan sekilas dipahami juga bahwa PC itu merupakan singkatan dari personal computer. Jika orang tadi ingin mengetahui lebih lanjut tentang PC, maka langkah awal untuk menjawab keingintahuannya adalah dengan menanyakan atau menemukan jawaban atas pertanyaan, “Apa itu PC?” Setelah orang tadi memperoleh jawaban, atau misalnya melihat secara langsung benda yang disebut PC, maka dalam sistem pemahaman orang itu akan muncul (serangkaian) aksioma tentang PC, misalnya (a) ternyata PC merupakan peralatan elektris (menggunakan arus listrik), (b) ternyata PC dapat digunakan untuk mengetik (sebelumnya, orang itu sudah mengenal mesin ketik), (c) ternyata PC itu juga dapat digunakan untuk mengolah data (sebelumnya, orang itu sudah mengenal kalkulator), dan seterusnya. Semakin orang itu mengembangkan rasa ingin tahunya tentang PC, akan semakin banyak aksioma yang dapat dirumuskannya.
Perlu ditambahkan di sini, sesuai dengan ilustrasi di atas, aksioma adalah rumusan (verbal maupun nonverbal) yang berisikan suatu kebenaran tentang sesuatu yang didekatinya (dalam ilustrasi, sesuatu itu adalah PC). Aksioma selalu berisikan kebenaran. Namun, perlu dipahami juga bahwa kebenaran itu dapat bersifat personal dan dapat juga bersifat kolektif (jika sudah dijustifikasi atau dibenarkan oleh sekelompok orang). Alat pembenaran atau justifikasi itulah yang mengakibatkan keragaman jenis dan kesahihan (validitas) kebenaran, misalnya kebenaran dalam bidang hukum, kebenaran dalam bidang ekonomi, kebenaran dalam bidang keilmuan atau ilmiah, kebenaran dalam bidang agama, dan sebagainya.
Berdasarkan ilustrasi dan uraian tersebut, diperoleh gambaran bahwa pendekatan adalah usaha untuk mendekati atau memahami sesuatu sehingga akhirnya melahirkan (serangkaian) aksioma. Dengan kata lain, pendekatan bersifat aksiomatis.
Jika konsep tentang pendekatan tersebut diterapkan untuk menelaah teori pembelajaran bahasa, maka pada dasarnya seluruh teori itu didasarkan atas hasil pendekatan. Aspek-aspek yang didekati tentunya bukan hanya satu aspek, tetapi multiaspek, terutama berkaitan dengan apa itu (a) bahasa, (b) belajar bahasa, dan (c) teknologi pembelajaran bahasa.
Usaha untuk melakukan pendekatan terhadap bahasa pada akhirnya melahirkan bidang disiplin ilmu linguistik. Dalam linguistik, dikemas hasil para linguis (pakar kebahasaan) memahami secara cermat apa itu bahasa. Jadi, perbedaan aliran dalam linguistik (tradisional, struktural, dan transformasional), dalam konteks ini, dapat dipahami sebagai akibat dari perbedaan, atau mungkin lazimnya perkembangan para linguis memahami apa itu bahasa.
Usaha untuk melakukan pendekatan terhadap apa itu belajar (bahasa) pada akhirnya melahirkan bidang disiplin ilmu psikologi, khususnya psikologi belajar (bahasa). Dalam psikologi, para psikolog (pakar psikologi) memahami secara cermat apa sesungguhnya yang disebut belajar (bahasa) itu. Oleh sebab itu, perbedaan aliran dalam psikologi (misalnya psikologi tradisional, behavioristik, kognitivistik, dan konstruktivistik) dapat dipahami sebagai akibat perbedaan dan perkembangan para psikolog dalam memahami apa itu belajar (bahasa).
Berdasarkan hasil pendekatan tentang apa itu belajar bahasa, barulah dapat dirumuskan apa itu mengajar (bahasa). Lazimnya, ranah ini merupakan kajian pedagogik. Subbidang pedagogik yang membicarakan tentang bagaimana mengajar adalah didaktik metodik. Sama halnya dengan adanya aliran dalam linguistik dan psikologi, dalam pedagogik dan didaktik metodik pun ditemukan beberapa aliran. Crawford (1974) menyatakan bahwa pemahaman tentang apa itu mengajar sangat dipengaruhi oleh aliran psikologi (belajar) yang sedang berkembang. Dengan kata lain, Crawford menyatakan bahwa perkembangan teori mengajar relatif tertinggal dibandingkan dengan perkembangan teori belajar, sebab terdapat pemeo umum di kalangan praktisi pengajaran bahwa:
Teaching is something one does, not something one studies.
Salah satu aspek yang sangat penting lainnya adalah teknologi pembelajaran, khususnya teknologi pembelajaran bahasa. Realitas menunjukkan bahwa pendekatan terhadap bahasa dan belajar bahasa juga berdampak terhadap pertumbuhan dan perkembangan teknologi pembelajaran bahasa. Sebagai ilustrasi sederhana, sebelum pemberlakuan Kurikulum 2013, diyakini adanya empat keterampilan berbahasa, yaitu menyimak, berbicara, membaca, dan menulis. Namun, semenjak pengimplementasian Pembelajaran Bahasa (Indonesia) berbasis Teks, keyakinan itu berubah. Keterampilan berbahasa bukan hanya empat, tetapi enam, yaitu menyimak, membaca, memirsa (dikenal sebagai keterampilan reseptif), serta berbicara, menulis, dan menyaji (dikenal sebagai keterampilan produktif). Salah satu pemicu perubahan tersebut adalah adanya realitas bahwa teks bukan sekadar lisan atau tulis, tetapi juga dapat dikomunikasikan menggunakan media multimoda (perpaduan antara lisan-tulis, bahkan verbal dan nonverbal), misalnya dalam bentuk film, video, file presentasi (PowerPoint atau Canva), atau media tayang lainnya. Jadi, ketika dimanfaatkan media multimoda, diperlukan dua keterampilan, yaitu memirsa dan menyaji.
Teknologi pembelajaran bahasa pun berkembang sejalan dengan realitas tentang eksistensi dan esensi teks. Oleh karena itu, berkembanglah media pembelajaran bahasa yang bersifat digital, atau memanfaatkan kecanggihan digital untuk dijadikan sarana teknologi pembelajaran bahasa. Pemanfaatan teknologi pembelajaran bahasa tersebut juga semakin subur setelah dikembangkan media pembelajaran yang memanfaatkan pertemuan maya (misalnya Zoom, Google Meet) dan sebagainya sehingga pembelajaran bahasa dapat dilakukan secara daring (dalam jaringan) maupun secara luring (luar jaringan). Bahkan, pembelajaran daring juga dapat dilakukan secara sinkronus maupun asinkronus.
Dari ilustrasi dan uraian di atas, kini dapat dipahami bahwa merumuskan teori belajar bahasa itu tidak sesederhana yang kita duga. Untuk merumuskan teori belajar bahasa, pertama-tama, kita harus mengadakan pendekatan paling kurang berkaitan dengan apa itu (a) bahasa, (b) belajar bahasa, (c) mengajarkan bahasa, dan (d) teknologi pembelajaran bahasa.
Sejalan dengan simpulan sementara tentang pendekatan di atas, kita juga disadarkan oleh kenyataan bahwa untuk memahami teori belajar bahasa (dan IBM) ternyata diperlukan serangkaian pengetahuan siap. Yang dimaksudkan dengan serangkaian pengetahuan siap itu adalah pengetahuan (dan tentunya juga pemahaman) tentang (a) linguistik, (b) psikologi, khususnya psikologi belajar, (c) pedagogik, khususnya didaktik metodik, dan (d) teknologi pembelajaran bahasa.
b. Strategi Pembelajaran
Kembali ke ilustrasi sebelumnya, tentang seseorang yang berusaha mengetahui (mungkin juga memahami) apa itu PC. Jika setelah orang itu mampu merumuskan (serangkaian) aksioma tentang PC dan ingin memahami lebih mendalam, atau bahkan ingin dapat mengoperasikan PC, maka langkah selanjutnya yang lazim ditempuh orang itu adalah memikirkan bagaimana caranya untuk dapat mengoperasikan PC. Terhadap pemikiran itu, tentunya orang itu memiliki serangkaian alternatif sekaligus implikasi atas alternatif tersebut. Sebagai contoh, alternatif yang dapat diambil orang itu mungkin (a) mengikuti kursus komputer, (b) membeli PC, (c) meminjam PC, (d) mengikuti privat, atau mungkin juga (e) mengajak kawan yang diketahui dapat mengoperasikan komputer, pergi ke rental komputer, dan belajar di sana.
Di samping memikirkan serangkaian alternatif, orang itu juga harus memikirkan efek atau implikasi atas alternatif yang dipikirkannya. Jika alternatif yang menarik adalah membeli komputer, maka orang itu harus memikirkan bagaimana menyediakan uang untuk membeli komputer, siapa yang akan diajak untuk membeli komputer, ke mana akan membeli komputer, jenis komputer yang mana, dan serangkaian implikasi lainnya.
Proses memikirkan alternatif serta implikasi atas alternatif itu untuk menindaklanjuti hasil pendekatan disebut dengan strategi. Berdasarkan ilustrasi di atas, misalnya, dapat disimpulkan bahwa strategi itu terkait dengan aspek implikasi (hal-hal atau kegiatan-kegiatan yang harus diadakan sebagai efek logis alternatif yang dipilih atau dipikirkannya). Dengan kata lain, strategi bersifat implikatif.
Memikirkan dan merancang strategi pembelajaran juga berarti memikirkan dan merancang bagaimana mewujudkan hasil pendekatan sehingga siswa dapat terlibat dalam aktivitas belajar. Karena pendekatan dalam teori belajar bahasa secara khusus mencakup pendekatan terhadap (a) bahasa, (b) pembelajaran, dan (c) pengajaran bahasa, maka kemungkinan strategi yang dapat dirancang juga bersifat jamak. Artinya, dari satu pendekatan dapat dirancang beberapa strategi untuk mewujudkan pendekatan tersebut.
Supaya penjelasan tidak terlampau teoretis, cermatilah contoh berikut. Seorang guru, berdasarkan pencermatannya terhadap (a) bahasa, (b) pembelajaran, dan (c) pengajaran, merumuskan tiga aksioma utama. Ketiga aksioma itu adalah (a) bahasa itu merupakan alat komunikasi, (b) belajar itu merupakan usaha memecahkan masalah, dan (c) mengajar itu mengembangkan iklim agar siswa terlibat dalam aktivitas belajar (dalam hal ini: memecahkan masalah). Berdasarkan tiga aksioma itu, guru memikirkan, ”Bagaimana saya mengembangkan iklim pembelajaran sehingga siswa terlibat dalam aktivitas memecahkan masalah dengan menggunakan bahasa sebagai alat komunikasi?” Apa yang dipikirkan guru itu adalah strategi pembelajaran.
Secara teoretis, Alschuller (1994) menyatakan bahwa jenis strategi pengajaran ada tiga, yaitu (a) strategi penyajian (presenting strategy), (b) strategi penyanggupan (enabling strategy), dan (c) strategi penemuan (discovery strategy). Strategi penyajian lazim digunakan untuk menyajikan materi melalui teknik (masalah teknik akan dibicarakan sesudah uraian tentang metode) kuliah, misalnya ceramah dan tanya jawab klasikal. Strategi penyanggupan lazim digunakan untuk menyajikan materi melalui teknik-teknik tertentu sehingga siswa terlibat dalam aktivitas individu/sosial dalam jaringan ungkap pendapat, misalnya melalui berbagai teknik diskusi (termasuk debat, panel, simposium, sumbang saran, dan sebagainya). Strategi penemuan lazim digunakan untuk menyajikan materi melalui teknik tertentu yang memungkinkan siswa terlibat dalam aktivitas menemukan. Jika proses penemuan itu bersifat murni, tanpa bantuan guru, maka teknik yang digunakan mengarah ke teknik inkuiri, sedangkan jika penemuan itu dilaksanakan siswa melalui bantuan guru maka teknik yang digunakan mengarah ke teknik diskoveri. Contoh diskoveri: guru memberikan instruksi, “Cermati teks yang sudah saya bagikan, baca dengan teliti! Dalam teks itu terdapat kesalahan penerapan ejaan, yaitu kesalahan dalam penggunaan tanda tanya, tanda titik, dan tanda koma. Sekarang, salin kembali teks tersebut sehingga seluruh kesalahan tadi dapat Sdr. perbaiki!” Contoh inkuiri: guru memberikan pengarahan, “Cermati teks yang telah saya bagikan. Teks itu belum dilengkapi dengan pemakaian ejaan. Tulis kembali teks tersebut sehingga menjadi teks yang sudah dilengkapi dengan pemakaian Ejaan yang Disempurnakan!”
Kembali ke ilustrasi sebelumnya, ketika seorang guru sudah dapat merumuskan aksioma berdasarkan hasil pendekatannya terhadap (a) bahasa, (b) pembelajaran, (c) pengajaran bahasa, dan (d) teknologi pembelajaran bahasa, melalui berbagai pertimbangan, akhirnya guru itu memutuskan untuk menggunakan strategi penyanggupan. Metode yang dipilih adalah metode diskusi kelompok.
c. Metode Pembelajaran
Ketika berdasarkan hasil pendekatan dan perumusan strateginya seseorang sudah menentukan apa serangkaian tindakan yang akan ditempuh (lazim disebut prosedur), maka berarti orang itu sudah memasuki tindakan memilih metode. Kembali ke ilustrasi tentang seorang guru yang sudah menetapkan aksioma tentang bahasa, belajar bahasa, dan mengajarkan bahasa, berarti guru itu sudah memiliki serangkaian alternatif prosedur apa yang dapat ditempuh. Untuk mewujudkan aksioma (a) bahasa itu merupakan alat komunikasi, (b) belajar itu merupakan usaha memecahkan masalah, dan (c) mengajar itu mengembangkan iklim agar siswa terlibat dalam aktivitas memecahkan masalah, sebenarnya guru itu memiliki tiga pilihan jenis strategi yang dapat digunakan, yaitu (a) penyajian, (b) penyanggupan, atau (c) penemuan.
Ketika guru dalam ilustrasi di atas menetapkan pilihan strategi yang akan digunakan, misalnya strategi penyanggupan (tentunya pilihan itu berdasarkan atas banyak pertimbangan), maka guru itu juga memiliki serangkaian pilihan; apakah menggunakan metode diskusi kelompok, apakah debat, apakah kolokium, simposium, dan sebagainya. Jadi, dapat disimpulkan bahwa satu kemungkinan pendayagunaan strategi dapat diwujudkan melalui beberapa metode.
Setiap metode berisi serangkaian langkah atau tindakan yang harus ditempuh. Dengan kata lain, metode itu bersifat prosedural. Misalnya, jika guru sudah menetapkan akan menggunakan metode diskusi kelompok, berarti guru itu sudah merencanakan apa prosedur yang harus ditempuh sehingga diskusi kelompok dapat terselenggara dengan baik dan mengacu pada pencapaian tujuan yang dikehendaki bersama antara guru dan siswa. Tujuan inilah yang lazim disebut sebagai tujuan pembelajaran, tujuan pengajaran, atau tujuan instruksional.
d. Teknik Pembelajaran
Supaya relevan dengan uraian sebelumnya, kita kembali ke ilustrasi sebelumnya ketika pada akhirnya seorang guru menetapkan bahwa metode pembelajaran yang akan digunakan itu adalah metode diskusi kelompok. Sesuai dengan keputusannya itu, sang guru tadi pun mempersiapkan segala sesuatunya (lazim disebut perangkat pembelajaran), dan masuk ke kelas.
Setelah masuk kelas, guru membuka pelajaran dan memberikan pengantar tentang apa yang akan dipelajari serta dikerjakan siswa pada pertemuan hari itu. Setelah guru yakin bahwa siswa mengetahui apa yang akan dikerjakan, guru itu pun memberikan pengarahan tentang pelaksanaan diskusi kelompok. Langkah berikutnya, guru (a) membagi kelas menjadi beberapa kelompok, (b) menyajikan masalah yang akan didiskusikan, (c) memberikan kesempatan agar seluruh kelompok terlibat dalam aktivitas diskusi kelompok, (d) menyatakan bahwa waktu untuk berdiskusi sudah habis serta menugasi pemimpin kelompok melaporkan hasil diskusinya sehingga diskusi kelompok berkembang menjadi diskusi kelas, (e) mengarahkan agar diskusi kelas berjalan dengan tertib dan dinamis, (f) menyatakan waktu diskusi kelas sudah habis, (g) menyimpulkan hasil diskusi kelas, (h) memberikan tugas untuk pertemuan mendatang, dan akhirnya (i) menutup pelajaran.
Apa yang dapat Sdr. simpulkan dari tindakan kepengajaran guru dalam ilustrasi di atas? Guru itu sudah melaksanakan serangkaian kegiatan yang disebut teknik pembelajaran. Apakah untuk melaksanakan metode diskusi kelompok harus diterapkan langkah-langkah atau kegiatan seperti ilustrasi di atas? Ternyata jawabannya: tidak. Banyak kemungkinan tindakan kepengajaran guru untuk mewujudkan metode diskusi kelompok. Mungkin, guru lain menggunakan langkah yang berbeda, misalnya memberikan permasalahan yang akan didiskusikan baru membagi kelas menjadi beberapa kelompok, sementara guru lainnya terlebih dahulu membagi kelas menjadi beberapa kelompok barulah menyajikan permasalahan yang akan didiskusikan.
Selain itu, dapat ditarik simpulan lain. Simpulan tersebut adalah: teknik pembelajaran adalah segala sesuatu tindakan kepengajaran yang dilaksanakan bersama-sama antara guru dan siswa dalam rangka mencapai tujuan pembelajaran. Penerapan teknik pembelajaran bersifat observable atau dapat dilihat, dapat diamat-amati. Sementara itu, metode, strategi, dan pendekatan bersifat abstrak, tidak dapat dilihat atau diamat-amati. Jadi, jika pendekatan bersifat aksiomatis, strategi bersifat implikatif, metode bersifat prosedural, maka teknik pembelajaran bersifat implementatif atau implementasional (jika di-Indonesiakan, teknik itu bersifat pengejawantahan).
2. Penerapan Konsep Pendekatan, Strategi, Metode, dan Teknik dalam Teori Belajar Bahasa dan IBM
Dalam teori bahasa dikenal pandangan struktural dan pandangan fungsional. Pandangan struktural cenderung menyatakan bahwa bahasa merupakan sistem unsur-unsur yang berhubungan secara struktural dan memiliki makna (pendekatan). Oleh sebab itu, sasaran pembelajaran bahasa menurut pendekatan ini adalah agar siswa menguasai unsur-unsur sistem ini yang biasanya dibatasi dengan istilah unit-unit fonologis, gramatikal yang terdiri atas klausa, frasa, dan kalimat, operasional gramatika misalnya menambahkan, menghilangkan, menggabungkan atau mentransformasikan unsur-unsur leksikal, sebagai contoh kata-kata yang memiliki makna tanpa konteks struktur dan kata-kata yang bermakna secara struktural (strategi).
Pada sisi lain, penganjur pendekatan fungsional cenderung menyatakan bahwa bahasa merupakan alat ekspresi yang bermakna fungsional. Teori ini lebih menekankan dimensi semantik dan komunikatif daripada hanya karakteristik gramatikal atau unsur-unsur tata bahasa dan struktur. Dalam perancangan metode pembelajaran bahasa, tidak hanya dimasukkan unsur-unsur tata bahasa dan makna, tapi juga topik-topik nosi dan konsep-konsep yang dibutuhkan pembelajar untuk berkomunikasi.
Selain kedua pandangan tersebut di atas, masih terdapat pandangan lain, yaitu pandangan interaksionis. Penganjur pandangan ini cenderung menyatakan bahwa bahasa merupakan alat untuk merealisasikan hubungan antara pribadi dan pembentukan hubungan sosial di antara individu-individu. Bahasa dilihat sebagai alat untuk kreasi dan memelihara hubungan sosial. Dalam hal ini, pembelajaran bahasa harus melibatkan analisis interaksi dan analisis percakapan (juga wacana), serta didasarkan atas tinjauan masalah etnometodologisnya (pengkajian bahasa berdasarkan unsur sosiobudaya).
Ketiga pandangan di atas memunculkan metode-metode pembelajaran bahasa, di antaranya dikenal dengan nama Metode Aural, Metode Audiolingual, Aural-Oral Approach, dan sebagainya. Akan tetapi, perlu diingat bahwa pemunculan metode pembelajaran bahasa bukan semata-mata didasarkan atas hasil pendekatan linguistik terhadap bahasa, tetapi juga atas dasar hasil pendekatan tentang pembelajaran bahasa, bahkan dari teori pembelajaran pada umumnya. Oleh sebab itu, metode-metode pembelajaran bahasa modern sejak awal abad XVIII hingga sekarang tetap bermunculan, bukan hanya metode-metode yang telah disebutkan di atas. Hal ini didasarkan pada dua hal pokok selain perkembangan teori linguistik. Kedua hal pokok tersebut adalah perkembangan teori pembelajaran, khususnya pembelajaran bahasa, dan perkembangan sistem instruksional, terutama berkaitan dengan teknologi pendidikan.
Pelaksanaan suatu metode (misalnya Metode Audiolingual), meskipun memiliki prosedur yang jelas, dalam penerapannya tetap bersifat personal. Artinya, jika ada dua orang guru yang sama-sama menerapkan Metode Audiolingual, maka pada tataran teknik pembelajaran kedua orang guru itu tidak selalu menunjukkan tindakan pembelajaran yang sama.
Salah satu alasan perbedaan pendayagunaan teknik pembelajaran dalam satu metode yang sama adalah pertimbangan guru berkaitan dengan pengembangan interaksi belajar mengajar. Permasalahan pengembangan interaksi belajar mengajar yang dihadapi oleh seorang guru bahasa jelas berbeda dengan guru bidang studi lain. Guru bahasa, berdasarkan pemahamannya tentang apa itu bahasa, belajar bahasa, dan mengajarkan bahasa, tentunya menyadari bahwa fungsi utama bahasa adalah alat untuk berkomunikasi. Oleh sebab itu, jika pemahaman itu diperluas, maka dapat diturunkan serangkaian pemahaman, misalnya (a) belajar bahasa itu sebenarnya mengajarkan anak berkomunikasi menggunakan bahasa target (bahasa yang diajarkan) dan (b) mengajarkan bahasa berarti mengajarkan bagaimana berkomunikasi menggunakan bahasa target.
Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa pertimbangan tentang pengembangan interaksi belajar mengajar dalam pembelajaran bahasa merupakan pertimbangan praktis sebelum seorang guru mewujudkan metode pembelajaran dalam bentuk teknik pembelajaran. Dengan kata lain, kedudukan pengembangan pola interaksi belajar mengajar berada di atas tingkat teknik tetapi berada di bawah metode. Meskipun demikian, penganalisisan tentang penerapan interaksi belajar mengajar bahasa dapat dilihat atau diamat-amati selama proses belajar mengajar berlangsung atau selama guru menerapkan teknik-teknik pembelajaran. Dengan kata lain, interaksi belajar mengajar itu bersifat teknis.
C. Pascawacana
Pada umumnya, masyarakat awam cenderung menyatakan bahwa acuan makna kata (a) pendekatan, (b) strategi, (c) metode, dan (d) teknik cenderung tumpang tindih. Keempat istilah itu cenderung dimaknai cara untuk mencapai suatu tujuan. Berdasarkan uraian dalam bab ini, dapat disimpulkan bahwa keempat istilah itu ternyata memiliki makna dan cakupan teoretis yang berbeda.
Jika ditampilkan secara gradual (dari atas ke bawah), maka cakupan makna yang terkandung dalam empat istilah itu adalah pendekatan – strategi – metode – teknik. Pendekatan adalah usaha untuk mendekati atau memahami sesuatu sehingga akhirnya melahirkan (serangkaian) aksioma. Dengan kata lain, pendekatan bersifat aksiomatis. Strategi adalah pemikiran alternatif serta implikasi atas alternatif itu untuk menindaklanjuti hasil pendekatan. Strategi bersifat implikatif. Metode berisi serangkaian langkah atau tindakan yang harus ditempuh untuk merancang tindakan sesuai dengan perumusan strategi yang telah ditetapkan. Dengan kata lain, metode itu bersifat prosedural. Teknik pembelajaran adalah segala sesuatu tindakan kepengajaran yang dilaksanakan bersama-sama antara guru dan siswa dalam rangka mencapai tujuan pembelajaran. Penerapan teknik pembelajaran bersifat observable atau dapat dilihat, diamat-amati, atau bersifat implementasional.
Secara teoretis, ada tiga jenis strategi pengajaran. Ketiga jenis strategi itu adalah (a) strategi penyajian atau penyampaian (presenting strategy), (b) strategi penyanggupan (enabling strategy), dan (c) strategi penemuan (discovery strategy). Jika istilah-istilah pendekatan, strategi, metode, dan teknik dapat digunakan dalam berbagai konteks, misalnya konteks ekonomi, keamanan, dan sebagainya, maka istilah interaksi belajar mengajar bersifat teknis. Istilah interaksi belajar mengajar hanya digunakan dalam konteks pembelajaran dan pengajaran.
Kedudukan interaksi belajar mengajar dalam pembelajaran bahasa berada di atas tataran teknik tetapi berada di bawah tataran metode. Dengan kata lain, pemikiran tentang corak interaksi belajar mengajar dikembangkan sebelum seorang guru merancang apa teknik pembelajaran yang akan didayagunakan. Oleh sebab itu, interaksi belajar mengajar bersifat teknis.
Tampaknya, penempatan dan pemaknaan istilah-istilah dari pendekatan, metode, teknik, strategi, dan interaksi belajar-mengajar dalam konteks pembelajaran bahasa sudah tuntas. Namun, pernyataan tersebut ternyata tidak sepenuhnya tepat karena pada perkembangan selanjutnya, terutama setelah pengimplementasian Kurikulum 2013, terjadilah revolusi penggunaan istilah. Hal ini akan dibahas pada tulisan selanjutnya.