Ruang Kosong
Ruang Kosong

Ruang Kosong

0 Shares
0
0
0

Malam itu hujan turun sangat deras, membasahi rumah kecil milik Aiko. Suara rintik air memenuhi seluruh ruangan, membuat suasana terasa semakin dingin dan sunyi. Aiko duduk sendirian di atas tempat tidurnya sambil memeluk lutut. Sejak ibunya meninggal dua bulan lalu akibat kecelakaan mobil, rumah itu tak pernah terasa sama lagi. Tidak ada lagi suara denting alat masak dari dapur, tidak ada lagi aroma teh hangat setiap malam sepulang kerja. Yang tersisa hanyalah kesunyian yang perlahan membuat Aiko takut tinggal sendirian.

Kepergian ibunya meninggalkan luka dan trauma yang mendalam. Sejak saat itu, Aiko mulai merasa seolah ada seseorang yang terus mengawasinya. Hampir setiap malam ia mendengar langkah kaki berat di lorong rumah. Kadang pintu dapur terbuka sendiri, padahal sudah dikunci rapat. Beberapa kali ia juga melihat bayangan hitam berdiri di ujung lorong sebelum menghilang begitu saja. Awalnya Aiko menganggap semua itu hanyalah halusinasi karena rasa sedih yang belum hilang. Namun semakin lama, ketakutan itu terasa semakin nyata.

Malam itu Aiko mencoba tidur lebih awal. Ia memejamkan mata sambil menggenggam liontin kecil, hadiah terakhir dari ibunya sebelum kecelakaan terjadi. Dalam hati, ia terus berdoa agar bisa bertemu ibunya, walau hanya lewat mimpi.

Tengah malam, suara benda pecah dari dapur membuatnya terbangun. Dengan tubuh gemetar, Aiko keluar kamar dan berjalan perlahan menuju dapur yang gelap. Saat sampai di sana, ia melihat sebuah gelas pecah berserakan di lantai. Padahal sebelum tidur semuanya masih baik-baik saja.

Napas Aiko mulai putus-putus.

Ketika ia menoleh ke belakang, seseorang berdiri diam di ujung lorong rumah. Sosok tinggi berpakaian gelap itu hanya memandanginya tanpa bergerak sedikit pun.

Aiko panik. Ia segera berlari ke kamar sambil menangis ketakutan lalu mengunci pintunya rapat-rapat. Tubuhnya gemetar saat ia memojok di atas tempat tidur.

“Bu… Aiko takut…” bisiknya lirih.

Entah kapan ia tertidur sambil terus menangis hingga air matanya membasahi bantal.

Saat membuka mata, Aiko mendapati dirinya berada di tempat asing yang dipenuhi kabut putih. Udara di sana terasa sangat dingin. Tak butuh waktu lama baginya untuk menyadari bahwa tempat itu adalah jalan tempat ibunya meninggal dunia.

Dari balik kabut, muncul sosok tinggi berpakaian hitam berjalan perlahan bersama seorang wanita berpakaian putih. Wajah wanita itu dipenuhi luka bakar.

Air mata Aiko langsung jatuh.

Wanita itu adalah ibunya.

Ibunya memeluk Aiko erat sambil berbisik agar ia selalu berhati-hati. Dengan suara lemah, ibunya mengatakan bahwa gelang hitam yang ditemukan di dalam mobil merupakan bukti penting dan tidak boleh jatuh ke tangan siapa pun.

Sebelum sosok itu menghilang, ibunya sempat berkata pelan,

“Asahi bukan orang baik, Aiko…”

Aiko langsung terbangun dengan napas memburu dan jantung berdegup kencang. Ponselnya bergetar di atas meja samping tempat tidur. Nama Asahi muncul di layar.

Asahi adalah sahabat Aiko sejak kecil. Setelah kematian ibunya, laki-laki itu selalu menemani dan membantu Aiko melewati masa sulitnya. Namun, ucapan sang ibu di dalam mimpi terus terngiang di kepala Aiko.

“Aiko, aku dan Hana mau ke rumahmu. Kamu di rumah, kan?” tanya Asahi dari balik telepon.

“Iya…” jawab Aiko pelan.

Tak lama kemudian, Asahi datang bersama Hana. Mereka mencoba menenangkan Aiko yang terlihat pucat dan ketakutan. Namun, malam itu, Aiko mulai menyadari sesuatu yang aneh dari Asahi.

Saat Aiko tanpa sengaja menunjukkan gelang hitam yang ditemukan di mobil ibunya, tatapan Asahi langsung berubah. Matanya terus tertuju pada gelang itu. Beberapa kali ia meminta izin untuk memegangnya dengan alasan hanya ingin melihat lebih dekat.

Semakin malam, suasana rumah terasa semakin mencekam.

Hana akhirnya tertidur di kamar tamu, sementara Aiko duduk di dapur bersama Asahi. 

Aiko menyiapkan camilan dan teh hangat untuk mereka. Di tengah suasana sunyi, Asahi tiba-tiba mengungkapkan perasaannya pada Aiko. Namun, Aiko hanya menganggapnya sebagai sahabat.

“Aku nggak pernah mikir lebih dari itu, Asahi…”

Senyum Asahi perlahan memudar.

“Ibumu juga pernah bilang hal yang sama,” katanya pelan. “Dia nggak suka aku dekat sama kamu.”

Suasana berubah dingin. Tatapan Asahi yang biasanya hangat kini terasa asing dan menyeramkan. Aiko merasa sedang berhadapan dengan orang yang sama sekali berbeda.

Tiba-tiba, lampu rumah padam.

Dalam gelap, suara Asahi terdengar sangat dekat di telinga Aiko.

“Aku yang bunuh ibumu, Aiko.”

Tubuh Aiko langsung kaku.

Beberapa detik kemudian, lampu kembali menyala. Asahi berdiri sambil memegang sebilah pisau kecil. Mata Aiko berkaca-kaca. Ia tak percaya orang yang selama ini selalu ada di sisinya ternyata adalah orang yang paling ia takuti.

Dengan senyum tipis, Asahi mulai mengakui semuanya.

Ia mengatakan bahwa ibu Aiko mengetahui obsesinya terhadap Aiko dan berusaha menjauhkan mereka. Karena itulah Asahi mulai menyimpan dendam.

Sebelum ibu Aiko pulang kerja malam itu, Asahi diam-diam mengikuti mobilnya. Ia menyabotase rem kendaraan hingga kecelakaan itu terjadi. Semua dilakukan karena rasa cintanya yang berlebihan.

Hana yang ternyata mendengar pengakuan itu segera menarik tangan Aiko untuk berlari menuju kamar ibunya. Mereka berdua panik mencari tempat bersembunyi sampai akhirnya menemukan ruang kecil tersembunyi di bawah tempat tidur. Di dalam ruangan itu terdapat dokumen, rekaman suara, dan beberapa catatan milik ibu Aiko yang berisi bukti kejahatan Asahi.

Tak lama kemudian, suara langkah kaki mendekat.

Asahi berhasil menemukan mereka.

Namun, sebelum laki-laki itu melakukan sesuatu, suara sirine polisi terdengar dari luar rumah. Hana ternyata diam-diam sudah menghubungi polisi sejak awal karena merasa sikap Asahi malam itu sangat mencurigakan.

Asahi hanya tertawa kecil sebelum akhirnya ditangkap.

Saat dibawa keluar rumah, ia masih menatap Aiko dengan senyum aneh di wajahnya.

“Aku cuma terlalu sayang sama kamu…” ucapnya lirih.

Beberapa bulan setelah kejadian itu, rumah Aiko akhirnya kembali tenang. Tidak ada lagi suara langkah kaki di malam hari atau bayangan hitam di lorong rumah. Semua misteri tentang kematian ibunya akhirnya terungkap.

Suatu malam, Aiko duduk di dekat jendela kamar bersama Hana sambil memandangi hujan. Saat itulah, ia melihat sosok ibunya berdiri di halaman rumah sambil tersenyum hangat ke arahnya. Perlahan, sosok itu menghilang bersama cahaya putih.

Untuk pertama kalinya sejak kematian ibunya, Aiko tidak merasa sendirian lagi.

Siniar Audio

Citation is loading...
2 comments
  1. Awalnya saya menduga bahwa awal cerita ini tentang sesuatu yang horor soal makhluk halus, ternyata tentang obsesi cinta. Memang benar apa yang dikatakan orang-orang, bukan hantu yang harus kita takuti melainkan manusia. Manusia dengan kejahatan dan kelicikannya bisa membuat hidup kita tak tenang, apalagi menghadapi kesukaan orang yang berlebihan terhadap kita.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *