Domba, Rumput, dan Cara Pandang yang Membutakan
Domba, Rumput, dan Cara Pandang yang Membutakan

Domba, Rumput, dan Cara Pandang yang Membutakan

0 Shares
0
0
0

Pernahkah Anda membayangkan bagaimana rumput memandang dunia?

Bagi rumput di padang sabana, domba adalah penjahat kejam. Setiap hari, domba datang dengan moncongnya yang rakus, menggigit dan merenggut helai demi helai. Tak peduli pagi atau sore, domba adalah teror yang tak pernah lelah. Rumput hanya ingin tumbuh, tetapi domba selalu datang untuk memotong hidupnya.

Lalu bagaimana dengan singa? Bagi rumput, singa justru pahlawan pelindung. Ketika singa menerkam domba, rumput berbisik lega: “Akhirnya, musuhku mati.” Singa tidak pernah memakan rumput, jadi baginya, singa adalah pembawa keadilan.

Namun, tunggu. Pernahkah Anda bertanya kepada domba?

Domba akan tertawa getir. “Kami hanya makan untuk bertahan hidup. Rumput tumbuh lagi, tapi kami mati jika tak makan. Dan singa? Dia bukan pelindung rumput, dia pembunuh kami yang paling kejam. Singa adalah penjahat sejati.”

Siapa yang benar? Rumput atau domba?

Belum lagi jika setan bicara. Bagi setan, malaikat adalah musuh besar. Kebaikan, kasih sayang, dan keikhlasan adalah bentuk “kejahatan” karena semua itu menghancurkan kerajaannya. Dari sudut pandang setan, orang baik adalah penjahat yang mengganggu tatanan “kebebasan” miliknya.

Tentu kita tak akan setuju dengan setan. Namun, di situlah letak persoalannya: tidak semua hal di dunia ini dinilai menurut versi Anda.

Kita terbiasa menganggap sudut pandang kita sebagai kebenaran mutlak. Si A yang menikam kita dari belakang adalah orang jahat, padahal mungkin dia sedang menyelamatkan kita dari bahaya yang tak kita lihat. Si B yang selalu membantu kita adalah malaikat, padahal mungkin diam-diam dia meracuni kita pelan-pelan.

Bukan berarti semua kebenaran itu relatif, lalu tak ada yang benar atau salah. Yang perlu disadari adalah bahwa setiap kebenaran bergantung pada tempat Anda berdiri. Jika kita hanya melihat dari satu sisi, kita akan mudah jatuh ke dalam arogansi: menganggap orang lain salah hanya karena cara mereka melihat berbeda.

Jadi, sebelum menghakimi domba sebagai perusak, ingatlah rumput yang menganggapnya penjahat. Sebelum membela singa sebagai pahlawan, ingatlah domba yang menganggapnya sebagai teror. Dan sebelum mengutuk setan sebagai sumber kejahatan, sadarlah bahwa kebaikan versi Anda mungkin adalah malapetaka versinya.

Bukan berarti berhenti berpendirian. Namun, berhentilah merasa bahwa dunia harus berjalan sesuai peta yang hanya Anda miliki.

Karena rumput, domba, dan singa hidup di padang yang sama. Dan padang rumput tak pernah memihak. Alam semesta pun demikian: ia hanya berlangsung tanpa harus setuju dengan versi siapa pun.

Siniar Audio

Citation is loading...

Latih Pemahaman Membaca

Uji pemahaman Anda tentang artikel ini dengan menjawab beberapa pertanyaan interaktif yang dirancang khusus oleh AI kami.

Mulai Latihan Sekarang →
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *