Mengapa Menjadi Biasa Kini Terasa Seperti Kegagalan?
Mengapa Menjadi Biasa Kini Terasa Seperti Kegagalan?

Mengapa Menjadi Biasa Kini Terasa Seperti Kegagalan?

0 Shares
0
0
0

Ketakutan manusia modern untuk menjadi biasa bukan lahir dari anggapan bahwa kehidupan biasa tidak bernilai, melainkan dari kebiasaan menggantungkan makna diri pada pengakuan sosial.

Sejak kapan keberhargaan manusia harus dibuktikan melalui pencapaian?

Pertanyaan itu mungkin terdengar berlebihan. Bukankah manusia memang perlu belajar, bekerja, dan menghasilkan sesuatu? Bukankah prestasi adalah buah dari usaha yang pantas dihargai? Persoalannya bukan terletak pada pencapaian itu sendiri. Masalah baru muncul ketika pencapaian perlahan berubah menjadi syarat agar seseorang merasa dirinya berharga.

Hari ini kita hidup di tengah masyarakat yang sangat menghargai keberhasilan. Gelar akademik, jabatan, penghargaan, sertifikat, pengalaman organisasi, hingga produktivitas sehari-hari sering kali dijadikan ukuran untuk menilai seseorang. Semakin banyak yang berhasil diraih, semakin tinggi pula penghargaan yang diberikan. Tanpa disadari, ukuran itu perlahan kita gunakan untuk menilai diri sendiri.

Akibatnya, kehidupan yang sebenarnya berjalan dengan baik terasa tidak lagi cukup. Kita mulai menganggap hidup biasa sebagai sesuatu yang harus dihindari. Tidak sedikit orang yang merasa tertinggal hanya karena melihat orang lain lebih cepat lulus, memperoleh pekerjaan yang lebih bergengsi, atau mencapai pencapaian tertentu pada usia yang lebih muda. Yang melelahkan bukan semata-mata usaha untuk berkembang, melainkan dorongan untuk terus membuktikan bahwa diri kita layak dihargai.

Pola ini semakin terasa pada generasi muda. Di tengah arus informasi yang tidak pernah berhenti, pencapaian orang lain hadir setiap hari melalui media sosial. Kita melihat potongan-potongan keberhasilan tanpa pernah benar-benar melihat proses, kegagalan, atau keraguan yang menyertainya. Dalam situasi seperti itu, membandingkan diri menjadi sesuatu yang hampir tidak terhindarkan. Kehidupan seakan berubah menjadi perlombaan yang tidak memiliki garis akhir.

Di sinilah pertanyaan filsafat menjadi penting.

Benarkah nilai seorang manusia memang ditentukan oleh apa yang berhasil ia capai? Ataukah selama ini kita menggunakan ukuran yang keliru untuk memahami makna diri?

Kegelisahan tentang makna diri semacam ini sebenarnya telah lama dibahas oleh filsuf Denmark, Søren Kierkegaard. Jauh sebelum istilah achievement culture atau budaya pencapaian dikenal, Kierkegaard telah mengingatkan bahwa ancaman terbesar dalam kehidupan manusia bukanlah kegagalan mencapai sesuatu, melainkan kegagalan menjadi dirinya sendiri. Dalam The Sickness Unto Death, ia menyebut keadaan ketika manusia kehilangan hubungan dengan dirinya sebagai bentuk keputusasaan (despair).

Menariknya, keputusasaan yang dimaksud Kierkegaard tidak selalu tampak sebagai kesedihan. Seseorang dapat memiliki karier yang baik, pendidikan yang tinggi, atau berbagai prestasi yang dikagumi banyak orang, tetapi tetap kehilangan dirinya sendiri. Hal itu terjadi ketika seluruh pilihan hidupnya lebih ditentukan oleh keinginan untuk memperoleh pengakuan daripada oleh keyakinan yang benar-benar lahir dari dalam dirinya.

Pandangan Kierkegaard terasa sangat relevan dengan kehidupan saat ini. Kita sering kali mengenal seseorang melalui gelarnya, pekerjaannya, pencapaiannya, atau berbagai capaian yang berhasil ia kumpulkan. Jarang sekali kita bertanya apakah semua keberhasilan itu benar-benar membuatnya mengenal dirinya sendiri. Padahal, menurut Kierkegaard, manusia tidak menjadi dirinya karena dipuji banyak orang, melainkan karena berani hidup sesuai dengan kebenaran yang ia yakini.

Di titik inilah persoalan budaya pencapaian menjadi lebih dari sekadar persoalan sosial. Ia berubah menjadi persoalan eksistensial. Ketika seseorang menggantungkan harga dirinya pada pencapaian, nilai dirinya pun akan selalu bergantung pada sesuatu yang berada di luar dirinya. Hari ini ia merasa cukup karena berhasil memperoleh penghargaan, tetapi besok rasa cukup itu menghilang ketika melihat orang lain mencapai sesuatu yang lebih besar. Perlombaan tersebut tidak pernah benar-benar selesai karena standar keberhasilan terus berubah.

Psikologi modern memang menjelaskan bahwa manusia memiliki kecenderungan alami untuk membandingkan dirinya dengan orang lain. Leon Festinger melalui Social Comparison Theory menyebut bahwa proses tersebut membantu individu memahami kemampuan dan posisinya. Namun, penjelasan psikologi lebih banyak menerangkan mekanisme mengapa manusia membandingkan diri. Filsafat kemudian mengajukan pertanyaan yang lebih mendasar: apakah perbandingan itu memang layak dijadikan dasar untuk menentukan nilai seorang manusia?

Barangkali, inilah kritik Kierkegaard yang paling relevan bagi kehidupan modern. Ia tidak mengajak manusia meninggalkan cita-cita ataupun berhenti berprestasi. Yang ia persoalkan adalah saat prestasi berubah dari hasil sebuah perjalanan menjadi sumber utama makna hidup. Ambisi memang dapat mendorong manusia berkembang, tetapi ambisi juga dapat membuat manusia lupa mengapa ia memulai perjalanannya.

Mungkin kita tidak benar-benar takut menjadi biasa. Yang kita takutkan justru adalah kemungkinan bahwa kehidupan yang biasa tidak akan pernah memperoleh pengakuan. Ketakutan itulah yang membuat kita terus berlari, bahkan ketika kita sendiri tidak lagi yakin ke mana arah yang sedang dituju.

Pada akhirnya, menjadi biasa bukanlah sebuah kegagalan.

Yang patut dipertanyakan justru mengapa kehidupan yang sederhana semakin sulit diterima sebagai kehidupan yang bermakna. Barangkali, persoalan terbesar masyarakat modern bukan hilangnya kesempatan untuk berprestasi, melainkan semakin sulitnya manusia merasa cukup tanpa pengakuan dari luar dirinya.

Di tengah dunia yang terus mendorong kita untuk menjadi luar biasa, keberanian terbesar mungkin bukanlah menjadi orang yang paling berhasil. Keberanian terbesar adalah tetap mengenali diri sendiri tanpa harus terus-menerus membuktikan bahwa diri kita layak dihargai. Sebab, seperti yang diingatkan Kierkegaard, kehilangan prestasi mungkin hanya sebuah kekecewaan. Namun, kehilangan diri sendiri adalah kehilangan yang jauh lebih sunyi sekaligus jauh lebih berbahaya.

Catatan

Artikel ini disusun sebagai tulisan populer filsafat dengan mengaitkan budaya pencapaian, kecenderungan membandingkan diri, dan gagasan Søren Kierkegaard tentang keputusasaan manusia ketika kehilangan hubungan dengan dirinya sendiri. Tulisan ini disusun di bawah bimbingan Bapak Muhamad Arif Saefudin, S.Psi., M.A.

Daftar Referensi
  • Festinger, L. (1954). A theory of social comparison processes. Human Relations, 7(2), 117-140. https://doi.org/10.1177/001872675400700202
  • Kierkegaard, S. (1980). The sickness unto death (H. V. Hong & E. H. Hong, Trans.). Princeton University Press.

Siniar Audio

Citation is loading...

Latih Pemahaman Membaca

Uji pemahaman Anda tentang artikel ini dengan menjawab beberapa pertanyaan interaktif yang dirancang khusus oleh AI kami.

Mulai Latihan Sekarang →
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *