Hai, nama lengkapku Nadisha Isma, sehari-hari aku dipanggil Asha. Aku tinggal di sebuah perumahan di tengah ramainya sebuah kota kecil.
Aku memiliki seorang kakak perempuan yang hanya berjarak dua tahun dariku. Namanya Halimah Isma. Aku memanggilnya Kak Hima. Kami sangat akrab dan memiliki banyak kesamaan. Aku dan kakakku sama-sama mempunyai hobi membaca buku dan berkebun. Kami sering melakukan hal tersebut bersama-sama.
Aku begitu bersyukur mempunyai seorang kakak perempuan. Dengan Kak Hima, aku terbiasa berbagi apa pun. Aku tinggal bersama kedua orang tuaku. Ibuku bekerja sebagai seorang guru SD dan ayahku bekerja sebagai tata usaha di sebuah sekolah negeri di kampungku.
Menurut hasil tes psikologi yang dilakukan sekolahku, aku adalah seorang ambivert. Saat ini aku bersekolah di SMA 1 Batusangkar kelas sepuluh. Cita-citaku menjadi seorang dosen karena aku begitu mengagumi pekerjaan Ibu. Orang tuaku selalu mengajarkan untuk selalu berbagi kebaikan kepada orang lain. Setiap nasihat itu kudengarkan, namun belum bisa aku terapkan. Hingga pada suatu ketika, aku mulai menyadari dampak dari berbagi kebaikan itu. Cerita ini tentang pengalaman dariku, Asha.
Aku menuruni anak tangga dari kamarku menuju ruang makan sembari memperbaiki peniti di hijabku. Ayah, Ibu, dan kakakku sudah menunggu di meja makan kami yang sangat sederhana. “Sarapan dulu, Sayang!” Ibu tersenyum ke arahku sambil menyodorkan roti selai stroberi kesukaanku.
“Terima kasih, Ibu.” Aku tersenyum dan menerima roti dari Ibu. Sarapan pagi di rumahku seolah menjadi hal yang wajib untuk dilaksanakan. Meskipun terkadang aku sedang malas untuk sarapan, waktu pagi seperti ini adalah saat berharga untuk berkumpul bersama keluarga. Bagiku, kesederhanaan ini begitu istimewa.
“Sha, nanti kakak nggak bisa pulang sama kamu, ya!” Kak Hima menoleh ke arahku sambil mengunyah rotinya.
“Kenapa, Kak?” Aku bertanya padanya.
“Nanti kakak ada kerja kelompok, kemungkinan baliknya sore. Asha pulang jalan dulu tidak apa-apa, kan?” ujar kakakku dengan ekspresi wajah sedikit menyesal.
“Tidak apa-apa, kok, Kak. Lagian Asha nanti mau ke perpustakaan kota dulu.” Aku tersenyum. Senyum kecil ini untuk memperbaiki perasaan kakakku yang sepertinya tidak enak untuk meninggalkanku pulang sendirian berjalan kaki.
“Nanti kalo Asha capek minta jemput Ayah saja, ya?” tawar Ayah kepadaku.
“Atau Ibu yang jemput?” sambung Ibu.
“Siap, Ayah dan Ibuku sayang.” Aku tersenyum dan melanjutkan melahap sarapan pagiku.
“Ibu, Ayah, Asha berangkat dulu, ya. Assalamualaikum.” Aku menyalami kedua orang tuaku dan berlari kecil menyusul Kak Hima yang sudah menunggu di atas motornya.
Aku memasang helm dan duduk dibonceng Kak Hima.
“Ayo, Kak.” Aku tersenyum semangat karena hari ini adalah hari Kamis. Semua mata pelajaran favoritku berkumpul di hari ini.
Aku dan Kak Hima sampai di sekolah pada pukul 07.00 WIB. Kak Hima memarkirkan motornya di halaman parkir sekolah.
“Kak, aku langsung ke kelas, ya. Dadah!” Sebelum Kak Hima menyahut, aku sudah bergegas berjalan tegas menapaki koridor menuju kelas.
Sepanjang lorong menuju kelas, aku melihat beberapa sampah kecil yang cukup mengganggu pandanganku. Berhubung lorong kelas tak begitu ramai, aku memungut satu per satu plastik pembungkus permen dan tutup botol yang berserakan di ubin, lantas membuangnya ke tong sampah di depan kelasku. Sebenarnya, aku melakukan ini karena pesan Ibu dan Ayah yang selalu menasihatiku untuk melakukan hal baik meskipun terlihat kecil. Namun, aku baru mampu melakukannya saat sekolah masih sepi. Aku malas jika diejek sok rajin oleh anak-anak yang sama labilnya denganku.
Aku menunggu murid-murid lainnya datang sambil menyapu dan menyusun meja bersama teman sebangkuku, Armi, meski kami tidak sedang piket. Tidak ada salahnya membantu kawan yang piket. Ah, mereka selalu terlambat karena berbagai halangan.
Pukul 07.25 WIB, pelajaran pertama dimulai. Aku menikmati pelajaran hingga pukul 14.00 WIB. Setelahnya, bel pulang pun berbunyi.
Aku berjalan keluar melalui gerbang sekolah, menyapa beberapa teman yang aku kenal, dan menyalami guru-guru yang kebetulan berpapasan denganku. Keluar dari gerbang sekolah, aku melewati gerobak penjual jajanan yang enak-enak dengan harga yang pas di kantong pelajar.
Aku tidak berniat untuk jajan hari ini karena aku sedang menabung untuk membeli sebuah novel yang sudah kutunggu-tunggu jadwal terbitnya. Hari ini adalah hari yang telah aku tunggu. Uang milikku akan cukup jika tidak jajan hari ini dan besok.
Tiba-tiba mataku salah fokus melihat seorang kakek penjual bandrek dan roti. Kakek itu selalu memakai baju yang sama lusuhnya dengan bajunya kemarin. Sudah tiga hari aku melihat si kakek dengan dagangannya yang masih banyak, sepi pelanggan. Kakek itu mengibaskan topi, mengusir hawa panas yang menyergapnya.
Hari ini wajahnya murung, mungkin karena dagangannya masih sepi. Mengingat cuaca yang sangat panas dengan matahari masih terasa menyengat tepat di atas ubun-ubun, siapa yang akan menghangatkan tubuh dengan bandrek? Entah mengapa kakek itu selalu menjadi perhatianku, meskipun aku tidak pernah membeli dagangannya.
Aku memutuskan untuk menghampiri si kakek penjual bandrek. Sebenarnya aku tak begitu suka bandrek, namun Kak Hima suka. Lagi pula, aku benar-benar kasihan melihat kakek yang rambutnya sudah putih semua, namun masih berjuang untuk mencari nafkah.
“Kek, harga bandrek sama roti cokelatnya berapa, ya?” Aku tersenyum kepada si kakek.
“Bandreknya 5.000, Nak. Rotinya juga 5.000.” Si kakek tersenyum dan terlihat sedikit kebahagiaan dari binar matanya.
“Kek, Asha mau bandreknya satu dan roti cokelatnya dua, ya, Kek.” Aku tersenyum lebih lebar lagi melihat si kakek akhirnya terlihat senang.
Aku duduk di bangku plastik yang memang ia siapkan untuk para pembeli, menunggu si kakek menyiapkan bandrek pesananku.
“Kakek sudah jualan dari pagi, ya?” Aku bertanya kepada si kakek.
“Iya, Nak, belum ada yang membeli dagangan Kakek. Sudah berapa minggu ini penjualan Kakek menurun, mungkin karena cuaca panas.” Kakek itu terlihat sedih saat menjawab pertanyaanku, namun tetap tersungging senyum di wajahnya, terlihat ikhlas dengan apa yang sudah terjadi.
“Semangat, ya, Kek. Semoga dagangan Kakek cepat laku.” Aku tersenyum kepada si kakek sembari berdiri dan membayar belanjaku.
“Terima kasih, ya, Nak.”
“Terima kasih kembali, Kek.” Aku melanjutkan perjalanan menuju ke perpustakaan kota yang berjarak tidak terlalu jauh dari sekolahku. Aku ingin meminjam beberapa buku tentang sejarah, sebab tugas minggu ini membuat makalah sejarah.
Aku sampai di rumah pukul tiga sore dan segera berganti baju dengan kaus dan celana yang nyaman. Aku juga mengepang rambutku agar tidak kepanasan. Aku lanjut dengan makan siang bersama Ibuku.
Kakakku sampai di rumah pukul lima sore dengan wajah yang terlihat penat. Belum lagi tiba-tiba cuaca di luar menjadi hujan gerimis, membuat kakakku sedikit kedinginan.
Kakakku selesai mandi dan berganti pakaian beberapa menit kemudian, lalu duduk di sebelahku yang tengah menonton televisi.
“Kak Hima.”
“Iya, Sha?” Kak Hima menoleh kepadaku.
“Ini bandrek dan roti cokelat kesukaan Kak Hima. Satunya sudah aku makan. Ini aku beli waktu pulang sekolah.” Aku tersenyum menyodorkan gelas bandrek yang sudah aku hangatkan.
“Ya ampun, Asha! Terima kasih banyak, Adikku sayang.” Kak Hima terkejut dan tersenyum lebar saat aku menyodorkan gelas dan roti kepadanya.
“Sama-sama, Kak.” Aku tersenyum. Entah kenapa, melihat kakak maupun orang yang aku sayangi bahagia, aku juga ikut bahagia dan merasa senang.
…
Setelah makan malam, hujan turun sangat deras mengguyur kota kecil ini. Sudah lama musim suka berganti tiba-tiba. Musim hujan dan musim kemarau sering kompak datang bersamaan.
Aku tengah duduk di balkon kamarku di lantai dua, menghirup aroma tanah basah yang diguyur air hujan bercampur dengan aroma rumput dan pohon yang terkena air, sembari membuat catatan untuk makalah sejarahku.
“Ashaaa.” Kak Hima masuk ke kamarku dan berjalan menuju balkon.
“Iya, Kak?” Aku menatap Kak Hima yang berdiri di sebelahku.
“Novel yang kamu pengen kemarin sudah terbit, Sha. Uangnya udah cukup?” Kak Hima bertanya kepadaku. Kak Hima selalu tahu bahwa aku berusaha keras menahan jajan untuk menabung agar bisa membeli novel-novel yang aku sukai.
“Hampir, tapi tadi siang aku beli bandrek dan roti karena kasihan lihat kakeknya, Kak.”
“Oke, kalo gitu, yang rajin, ya, nabungnya.” Kak Hima mengusap rambutku dan keluar dari kamar.
Setelah menyelesaikan tugas, aku mulai menyiapkan pakaian untuk bersekolah di esok pagi agar tidak terlambat, sebab aku mendapatkan jadwal piket besok.
Jam sembilan malam, setelah menyiapkan tas sekolahku untuk besok, aku mulai bersiap-siap untuk tidur.
…
Keesokan paginya, aku sampai di sekolah tepat jam 06.45 pagi. Aku berjalan santai melewati lapangan dan lorong-lorong yang masih sepi sambil memungut beberapa sampah seperti yang biasa aku lakukan setiap hari. Aku sampai di kelas dan menyapa Arum, Armi, Firly, dan Dito.
“Sha, kamu tadi dicari sama Bu Anggun,” ujar Arum sembari menyapu kelas.
“Iya, kah? Ada apa?” Aku bertanya-tanya bingung.
“Kurang tahu juga, Sha. Langsung ke majelis guru saja, ke meja Bu Anggun.”
“Oke deh, terima kasih, ya, Rum.” Aku meletakkan tas di bangku dan berlari-lari kecil menuju ruang majelis guru di gedung yang berbeda.
…
“Assalamualaikum, Bu.” Aku menyalami Bu Anggun.
“Waalaikumsalam, Asha.” Bu Anggun tersenyum ramah kepadaku.
“Asha, kamu yang selalu memungut sampah di lorong kelas X?” Bu Anggun bertanya sembari tersenyum ke arahku.
“Iya, Bu.” Aku tersenyum canggung. Bagaimana bisa Bu Anggun tahu tentang ini?
“Sebelumnya, terima kasih, ya, Asha. Kebaikan kamu sangat membantu kebersihan sekolah. Banyak anak kelas XI dan XII yang mengikuti ekskul di ruangan kelas X dan tidak membuang sampah pada tempatnya.” Bu Anggun tersenyum ke arahku lagi.
“Sama-sama, Bu.” Aku tersenyum canggung, masih bingung dengan yang terjadi.
“Kamu juga sudah memotivasi banyak orang, Asha. Beberapa orang anggota ekskul pencinta alam kelas X dan XI melihat kamu memungut sampah dan mengajukan untuk gotong royong bersama demi kebersihan sekolah. Zaman sekarang, sulit menemukan siswa yang peduli dengan kebersihan lingkungan sekitar. Oh, ya. Kalau boleh Ibu tahu, apa motivasimu memungut sampah-sampah itu?”
“Ibuku selalu mengatakan, satu sampah yang dipungut berhadiah satu pahala. Aku hanya sedang menabung pahalaku, Bu.” Aku tersenyum malu.
Bu Anggun mengangguk-angguk sambil tersenyum dan memandang aneh ke wajahku.
Setelahnya, aku dipanggil wakil kesiswaan untuk diberi penghargaan berupa hadiah karena telah memotivasi banyak siswi kelas X dan kelas XI. Tidak pernah terbayangkan olehku bahwa sebuah kebiasaan kecil ini dapat memotivasi banyak orang.
…
Bel pulang berbunyi di tengah lebatnya hujan mengguyur kota siang ini. Aku keluar dari kelas dengan menggunakan jas hujan berwarna ungu muda dan payung bermotif bunga sakura.
Aku berjalan keluar dari gerbang sekolah, berniat kembali menuju kakek penjual bandrek kemarin. Beberapa siswa yang kedinginan menghampiri dagangan kakek penjual bandrek tersebut hingga membuat beberapa kursi dengan meja penuh pembeli. Aku memesan bandrek dan roti untuk Kak Hima.
“Kakek, bandreknya satu dan roti cokelatnya dua, ya.”
Tak lama pesananku selesai. “Terima kasih, ya, Kek. Semoga laris hari ini.” Aku tersenyum kepada si kakek.
“Sama-sama, Nak. Terima kasih kembali karena selalu membeli dagangan Kakek. Semoga kebaikan kamu dibalas oleh Allah Swt.” Kakek itu tersenyum juga kepadaku.
…
Aku berjalan menuju rumah, sebab Kak Hima melaksanakan ekskul English Club di tahun terakhirnya di sekolah ini.
“Hai, Asha.” Sari dan teman-temannya menyapaku.
“Hai, Sar.” Aku tersenyum kembali kepadanya.
“Eh, Sha, beli bandrek di mana? Enak gak?” Sari bertanya antusias dengan mata berbinar melihat plastik bandrek di tanganku.
“Aku beli di sana. Kakakku bilang enak.” Aku tersenyum, menunjuk gerobak bandrek kakek itu, berharap Sari dan teman-temannya membeli dagangan kakek tersebut.
“Gas beli bandrek, guys. Terima kasih banyak, ya, Sha!” Sari dan teman-temannya berlari ke arah kakek penjual bandrek.
Sari dan teman-temannya membuat jualan kakek tersebut terlihat ramai. Banyak siswa dan siswi lain yang kemudian tertarik ingin membeli bandrek, entah alasannya karena kedinginan atau hanya penasaran sebab ramai pembeli.
Aku tersenyum dan berjalan kembali menuju rumah. Sesampainya di rumah, aku mandi dan berganti pakaian. Tiba-tiba aku mendengar seseorang mengetuk pintu kamarku.
“Asha, ini Ibu.”
Aku membuka pintu dan melihat Ibu membawa sebuah tas kertas.
“Asha, Ayah dan Ibu baru saja membeli hadiah untuk kamu dan Kak Hima.” Ibu menyodorkan paper bag itu kepadaku.
“Wah, surprise. Terima kasih, Ibu.” Aku terkejut karena novel yang aku idam-idamkan ada di dalam paper bag tersebut.
Aku memeluk Ibu dan mengucapkan terima kasih sekali lagi. Setelahnya, aku berjalan menuju ruang keluarga dan berterima kasih juga kepada Ayah. Hari ini aku sangat senang melihat banyak kebaikan kecil yang membuat orang lain dan aku bahagia.
Hari ini aku percaya bahwa setiap kebaikan kecil yang kita lakukan, baik terhadap orang lain maupun lingkungan, akan berbalas kebaikan pula kepada kita sendiri. Entah berupa hadiah atau rasa bahagia melihat orang lain bahagia, semuanya pasti akan berbalas.
Bagiku, semua hal ini bagaikan kemarau dan hujan. Kemarau membantu air untuk kembali ke langit, dan hujan membantu langit menurunkan beratnya air untuk membasahi bumi, saling mengisi, dan saling melengkapi sesama.
Catatan
Cerpen “Kemarau dan Hujan” ditulis sebagai bentuk kecintaan penulis terhadap seni dan sastra. Melalui cerita ini, penulis ingin menyampaikan bahwa ide dapat menjadi awal dari lahirnya karya, sekaligus mengajak generasi muda untuk terus berkarya, menjaga budaya, dan menumbuhkan kepedulian melalui kebaikan-kebaikan kecil. Penulis juga terbuka terhadap kritik dan saran demi perbaikan karya pada masa mendatang.
Siniar Audio
Latih Pemahaman Membaca
Uji pemahaman Anda tentang artikel ini dengan menjawab beberapa pertanyaan interaktif yang dirancang khusus oleh AI kami.
Mulai Latihan Sekarang →
4 comments
Cerita yang sangat bagus, sarat nilai moral dan mengajarkan pembaca memiliki empati tanpa menggurui dan larut dalam cerita penuh kasih sayang.
Tahniah
Terima kasih dila.
Semoga kebaikan yang kita berikan kepada orang lain berbaliak untuk kita yang selalu menebar kebaikan. Walau kadang kebaikan yang kita berikan tidak dianggap baik orang lain, kita tetap berbuat baik kapan dan dimanapun.
Semangat berkarya Bu, bangga sekali setiap membaca tulisan guru-guru hebat. Seperti yang ibu tuliskan di akhir cerita “setiap kebaikan yang kita lakukan, akan berbalas kebaikan pula kepada diri kita sendiri”. Karya ibu sebuah kebaikan untuk para pembacanya, semoga kebaikan itu berbalas pula kepada diri ibu sendiri. Salam kenal ya ibu, dari guru bahasa Indonesia SMP 3 Batusangkar. Alhamdulillah siswa yang saya ajar dulu cukup banyak lulus di SMAN 1 Batusangkar, pasti mereka senang punya guru bahasa Indonesia seperti ibu.
Terima kasih buk.
Salam kenal juga ya buk, semoga nantik kita dipertemukan ketika mata kuliah tatap muka ya buk karena disatu kota kita tidak bisa ketemu🤭