Paviliun riuh. Suara-suara saling berebut bersahutan. Sesekali tawa berderai diiringi cubitan atau jitakan akrab. Lantunan murotal khas Timur Tengah dari Syekh Imam Sudais menambah kesyahduan.
Hari itu kebahagiaan meliputi semua keluarga Bu Rahma. Ada Raihan, anak laki-laki satu-satunya keluarga Bu Rahma yang sengaja pulang dari Australia untuk ibu tercinta. Ada dr. Mentari yang datang dari Yogya. Ada juga Raifah yang terbang dari Lampung. Hanya Aura yang tidak bisa pulang, sebab ia sedang menunggu hari H melahirkan. Aura adalah istri salah seorang pegawai konsulat di Kedutaan Arab Saudi.
Hari ini mereka berkumpul menemani sang ibu. Bagi mereka, ibu adalah seorang perempuan yang luar biasa. Ia sudah mendidik mereka dengan limpahan kasih sayang dan materi. Seorang single parent yang hebat. Sukses mendidik anak dan sukses pula dalam berbisnis. Sungguh bangga memiliki ibu demikian. Maka, setiap hari ulang tahun ibu tercinta, semua sengaja berkumpul untuk membahagiakannya. Begitulah yang selalu mereka lakukan.
“Anak-anakku,” suara ibu menghentikan canda mereka. “Ibu sudah pernah menelepon kalian semua. Bungsu kalian memiliki seseorang yang begitu spesial di hatinya, yang sangat ia sayangi dan sangat perhatian, walau beberapa saat lalu sempat terjadi perselisihan. Kalian tahu, adik bungsu kalian sampai masuk rumah sakit hanya gara-gara hal seperti itu. Dia menyayangi seorang penulis perempuan yang sudah dia anggap kakak perempuannya sendiri.”
“Ya Allah… sebegitunya, Bu?” Raifah menyeringit.
Dialah kakak paling galak selama ini.
“Ibu minta, sayangilah adik kalian. Apa kalian tidak malu, adik kalian lebih sayang dan disayangi orang lain daripada kakak-kakak kandungnya sendiri. Dia adik kandung kalian, anak-anakku. Dari ibu yang sama dan demi Allah, dari bapak yang sama pula.”
Sampai di sini, suara ibu tercekat. Kabut bergayut di mata ibu. Ibu bersyukur Raisya nge-fans ke orang yang benar. Coba kalau ke yang lain. Ke artis yang gak bener, misalnya. Dia banyak berubah semenjak kenal Annisa. Dia yang baik menjadi semakin baik. Maka, sekali lagi ibu minta, sayangilah adik kalian,” kabut itu menggumpal, menjadi buliran air, menetes satu-satu.
“Sejak kecil, ia kurang mendapatkan kasih sayang, apalagi dari kakak-kakak perempuannya.”
Tangis pun pecah dan satu per satu mereka terisak. Hanya Raihan yang tenang sambil membelai lembut punggung ibunya.
Paviliun senyap, hanya lantunan murotal yang mengalun lirih. Semua larut dalam rasa masing-masing. Namun, satu hal yang sama, mereka berjanji akan menyayangi Raisya, adik bungsu mereka.
“Assalamualaikum?” Raisya menyeringit begitu menyaksikan suasana hening dan sendu. “What happened?” Serempak semua mengusap tetes bening yang mulai menetes. Serempak pula semua tersenyum pada Raisya.
“Hei… gimana hasilnya?” Raihan sudah gak sabar.
“Aku bukan lesbian, Alhamdulillah…” Raisya tersenyum.
“Alhamdulillah…” semua berucap lega.
“Terus?” Raihan belum puas.
“Apanya yang terus?”
“Terus, apa lagi kata psikolog? Raisya kenapa, gitu, adikku sayang yang sangat kusayang?”
“Ye… ya sudah. Gimana, sih, Uda Raihan?” Raisya senyum-senyum.
“Senyummu menyembunyikan sesuatu.”
“He, kata beliau aku butuh perhatian dan kasih sayang…” Kini wajah kuning langsat Raisya bersemu merah. Raihan segera memeluk adiknya.
“Uda Raihan akan selalu menyayangimu, menjagamu, mencintaimu, adikku sayang. Uda Raihan janji…” Dibenamkannya si bungsu dalam peluk kasihnya.
Suasana menjadi hening, sepi. Ibu terisak pelan, mengingat segala perih yang dialaminya selama mengandung anak bungsunya. Tentang cibiran dan kasak-kusuk para tetangga. Tentang perilaku suami yang tak bertanggung jawab atasnya. Semua pedih dan perih itu terbayang jelas, sangat jelas di matanya.
Ia menjalani semua kehidupannya sendiri. Hanya Amak, Amak yang setia menemaninya. Untung dia mempunyai orang tua yang sangat perhatian. Juga saudara-saudara kandung yang pengertian. Ia berusaha kuat menjalani segala ketentuan hidupnya, lebih-lebih untuk anak-anak yang amat dicintainya. Mereka selama ini nyaris hidup tanpa kasih sayang seorang bapak, karena bapaknya lebih sering meninggalkan mereka tanpa kejelasan. Isakan seorang ibu yang membuat suasana makin terasa hening.
“Dik…” Kini Matahari mendekat pada adiknya. “Maafkan Uni selama ini. Sungguh, Uni berjanji akan menyayangimu, lebih dari Annisa memberikan kasih sayangnya padamu.” Dipeluknya Raisya dengan kasih yang tulus. Disusul kemudian oleh Raifah.
“Dik…” Raifah tersedu. Ia merasa dialah yang paling sering melukai adiknya selama ini. Namun, ia tahu, sekalipun adiknya tak pernah mendendam. Bahkan, ia selalu tulus menghormatinya sebagai kakak dan mencintainya.
“Dik…” Raifah tak kuasa berkata-kata. “Uni… Uni mohon maaf padamu, adikku…” suaranya tersendat. “Uni juga berjanji akan menyayangimu dan mencintaimu.”
Tangis itu terasa begitu mengharu-biru hari itu. Semua larut dalam perasaan kasih, perasaan sayang sesama saudara sedarah. Mereka berjanji akan saling menyayangi dan mencintai satu sama lain.
“Mama… telepon, Ma. Mama… telepon, Ma…”
Matahari mengambil telepon genggamnya yang tergeletak di meja.
“Waalaikumsalam, Uni Aura?”
“Hei, suaramu parau dan… lagi flu atau nangis?”
Matahari tertawa kecil sambil mengusap air matanya.
“Kita lagi ngumpul di paviliun semua nih, Uni.”
“Ibu mana? Aku kangen sama Ibu…” katanya. Matahari memberikan telepon dari Aura kepada Ibu mereka. Tangis haru dan permintaan maaf tidak bisa pulang menemui Ibu yang lagi ulang tahun membuat Bu Rahma meneteskan air mata bahagia. Bahagia karena perhatian anak-anaknya.
“Ada Raisya juga, Bu? Aku pengen ngobrol sama dia. Ditelepon dari tadi nggak bisa-bisa. Ke mana, sih, dia?”
“Sedang konsultasi terakhir sama psikolog.”
“Gimana hasilnya?” Aura antusias.
“Alhamdulillah… dia baik-baik saja. Cuma kita…”
“Kita kenapa?”
“Seharusnya memperhatikan dan menyayanginya…”
Suara telepon senyap. Aura di negara seberang terdiam. Matanya mengembun, kemudian terisak perlahan.
“Kita memang keterlaluan…” ucapnya tersendat. “Aku berjanji akan menyayangi adikku. Aku malu, dia justru mendapatkan kasih sayang dari orang lain.”
Tangis kembali menyeruak. Bu Rahma sengaja mengaktifkan pengeras suara HP-nya sehingga semua bisa mendengar.
“Aku ingin bicara dengan Raisya…”
Bu Rahma menyerahkan benda elektronik mungil itu pada si bungsunya.
“Dik… maafin Uni, ya?”
Raisya menangis mendengar isak kakaknya dari seberang.
“Uni berjanji akan menyayangimu seperti Annisa menyayangimu, adikku. Uni berjanji…”
Raisya merasakan keberlimpahan kasih tiada kira hari ini. Ia makin tak kuasa menahan air matanya. Begitu telepon ditutup, ia tersedu di pangkuan ibu tercinta.
“Ibu…” Sang ibu membelai penuh kasih bungsunya. Dibiarkannya buliran-buliran bening membanjir. Dibiarkannya semua kenangan bergulir. Hari ini ia menemukan samudra kasih yang tiada hingga.
“Anakku… saksikanlah, mulai hari ini, Ibu berharap kalian menyayangi adik bungsu kalian dengan tulus. Cintai dia, sayangi dia, dan jangan kucilkan lagi adikmu, Nak.”
“Bu…” Raisya makin tersedu.
Angin meliuk dari persawahan, membawa aroma wangi padi. Cicit burung pipit berebut nasi kering yang dijemur di luar. Hari yang indah, dengan berjuntai sayang dan berpilin kasih. Di hari ulang tahun ibunda tercinta. Paviliun… basah.
Siniar Audio
Latih Pemahaman Membaca
Uji pemahaman Anda tentang artikel ini dengan menjawab beberapa pertanyaan interaktif yang dirancang khusus oleh AI kami.
Mulai Latihan Sekarang →
2 comments
Keren ibu, sarat makna dan penuh nilai moral yang patut diteladani. Konflik ini sangat relate dengan kehidupan banyak orang dan ini bisa dijadikan modal untuk siswa menganalisis sebuah karya . Hebat, dan selamat ibu. 😉
Bu Nur Alimarni, pertama kali membaca tulisan ibu bukan di sini, tetapi di Facebook tadi malam tentang mahasiswa RPL. Saya sangat suka gaya bahasa tulisan ibu, terasa begitu mengalir, populer, ala novel-novel yang sering saya baca di wattpad. Pertama membaca tulisan ibu, saya curiga kalau ibu adalah penulis hebat yang Alhmdllah menjadi mahasiswa S2 RPL sekelas dengan saya. Tahu ngk Bu, respon saya apa ketika baca tulisan ibu “kalau ibu punya buku, pasti saya akan beli, kalau ibu punya buku di mana ya saya bisa bacanya?”. Tulisan ini bukan seperti tulisan penulis pemula, tetapi penulis yang sudah mahir. Membaca tulisan ibu kembali mengingatkan saya dengan novel Ketika Cinta Bertasbih, hehehe. Sukses ya Bu, terima kasih Inspira yang sudah memfasilitasi ruang mahasiswa untuk berkarya.