Awal tahun 2025, setelah aku menyandang predikat sebagai guru Bahasa Indonesia, mulailah aku bertugas sebagai guru di sebuah desa pelosok di lingkungan warga transmigrasi di Batang Hari. Tepatnya di Desa Bulian Jaya. Tempat ini tak hanya menyimpan jarak, tetapi juga membuka sebuah cerita baru bagiku. Desa ini cukup jauh dari pusat kota. Perjalanan ke sini harus ditempuh lumayan jauh, meninggalkan hiruk-pikuk keramaian dan kesibukan kota.
Tempat ini membawa aku kembali menjalankan tugas setelah tiga bulan menikmati masa cuti melahirkan putri kecilku yang cantik jelita. Hari pertama kembali ke sini, tempat dan jalan yang kutapaki dulu saat pertama kali datang masih tetap sama, tak ada yang berubah. Bentangan luas Sungai Batang Hari menjadi bagian dari perjalanan. Perahu ketek menjadi jembatan penghubung pada setiap perjalanan, transportasi umum dari satu sisi ke seberang sisi lainnya.
Sebagian orang pasti berpikir, perjalanan ini melelahkan. Namun, tempat itu memiliki cerita dan pesona tersendiri. Bahkan, perlahan, tempat ini mampu mengubah cara aku memandang dunia. Misalnya, di kota kelahiranku, suasananya cukup ramai dan masyarakatnya jarang bertegur sapa. Sebaliknya, di tempat ini suasananya sepi, tetapi masyarakatnya ramah dan bertegur sapa dengan hangat. Aku ingat sepenggal lagu bahwa kadang, sepi itu indah.
Tempat ini juga menempatkan dan mengingatkanku bahwa aku adalah seorang perantau. Berarti, ada kerelaan dan pengorbanan. Aku yang rela hidup sendiri jauh dari keluarga, meninggalkan kenyamanan, membuka gerbang baru, dan memulai perjalanan hidup baru di tempat yang sebelumnya asing. Bulian Jaya bukan sekadar tanah yang satu warna, bukan sekadar deretan pohon sawit yang berdiri memanjang menjadi pagar alami bagi desa ini. Kehidupan di sini berjalan dengan ritme sendiri dan memiliki begitu banyak warna kebudayaan. Latar belakang sosial yang tak sama harus hidup berdampingan. Sebagian besar masyarakatnya adalah warga transmigrasi atau transmigran. Umumnya, mereka datang dan menetap sebagai buruh perkebunan sawit. Mereka membawa bahasa, kebiasaan, tradisi, dan gaya hidup dari daerah masing-masing. Dampaknya, warna budaya Sumatera dan Jawa membaur serta membentuk wajah desa ini. Lambat laun, perbedaan itu tidak menjadi sekat, melainkan menjadi polesan yang memadukan wajah Desa Bulian Jaya. Bagian inilah yang mengajarkanku banyak hal tentang arti bertahan dalam keterbatasan.
Waktu berputar, seiring semakin kokohnya aku meyakini bahwa hidup di Bulian Jaya ini tak hanya mengajarkanku melihat arti bertahan dalam keterbatasan. Sekolah tempatku mengajar juga memberikan wajah tentang keberagaman anak bangsa: murid-murid berasal dari keluarga yang berlatar belakang budaya berbeda. Ada dari keluarga Minangkabau, Jawa, Jambi, bahkan perpaduan antara Jawa-Minangkabau dan Jawa-Jambi. Aku jadikan itu semua sebagai mozaik pesona yang patut disyukuri sekaligus latihan menempa diriku sebagai guru muda. Terngiang sepenggal ungkapan ketika masih kuliah tentang budaya dan sosial: manusia tidak memiliki kehendak bebas untuk dilahirkan dengan predikat kesukuan atau kebangsaan. Ketika dilahirkan, tidak ada peluang bagi seorang anak untuk meminta dilahirkan di lingkungan keluarga, suku, atau bangsa tertentu. Semuanya atas kehendak-Nya.
Awalnya, setiap aku memasuki ruang kelas, ada rasa gamang yang mengharu-biru. Aku seperti meninggalkan putri kecilku yang masih membutuhkan kehadiran ibunya. Ada perasaan bersalah yang diam-diam menyelinap di antara langkah menuju kelas. Sementara itu, di hadapanku telah menunggu anak-anak yang juga membutuhkan kehadiranku sebagai gurunya. Mereka datang dengan wajah, cerita, dan kebutuhan yang berbeda-beda. Pada saat itulah aku sering bertanya kepada diriku sendiri:
Kepada siapa seharusnya aku memberikan hatiku?
Pertanyaan itu perlahan menemukan jawabannya seiring waktu. Aku mulai menyadari bahwa menjadi guru bukan sekadar meninggalkan rumah untuk pergi mengajar. Ada anak-anak lain yang juga menantikan seseorang yang mau mendengarkan mereka, memahami mereka, dan percaya kepada mereka. Di ruang kelas, aku tidak hanya berhadapan dengan buku, materi pelajaran, dan tujuan pembelajaran. Aku berhadapan dengan manusia-manusia kecil yang sedang belajar mengenal dunia, belajar memahami dirinya sendiri, dan perlahan-lahan menemukan arah bagi kehidupannya.
Kini aku mulai melihat bahwa ruang kelas ini bukan sekadar tempat untuk menyampaikan materi dan mencapai tujuan pembelajaran. Ruang kelas adalah ruang kehidupan. Di sinilah anak-anak belajar tentang keberanian ketika mereka mencoba menjawab pertanyaan meskipun takut salah. Di sinilah mereka belajar tentang kegagalan ketika jawaban mereka belum tepat. Di sinilah mereka belajar menghargai orang lain ketika mendengarkan temannya berbicara. Bahkan, melalui hal-hal kecil yang sering kali tidak tercatat dalam perangkat pembelajaran, mereka sedang belajar menjadi manusia.
Kesadaran itu mengubah cara pandangku terhadap profesi ini. Aku mulai belajar bahwa keberhasilan seorang guru tidak selalu dapat diukur dari nilai yang tertulis di lembar evaluasi. Ada keberhasilan yang jauh lebih sunyi, tetapi mungkin lebih bermakna: ketika seorang anak yang semula tidak percaya diri akhirnya berani berbicara; ketika anak yang pendiam mulai mau bertanya; ketika seorang anak yang merasa dirinya tidak mampu akhirnya berkata,
“Saya bisa, Bu.”
Momen-momen kecil seperti itulah yang membuatku menyadari bahwa kehadiran seorang guru dapat meninggalkan jejak yang panjang dalam kehidupan seorang anak.
Aku pun mulai berdamai dengan rasa bersalah ketika harus meninggalkan putriku di rumah. Aku menyadari bahwa menjadi ibu dan menjadi guru bukanlah dua peran yang harus saling dipertentangkan. Keduanya justru mengajarkanku hal yang sama: tentang mencintai, mendengarkan, bersabar, dan menemani seseorang tumbuh. Putriku mengajarkanku bagaimana rasanya mencintai seorang anak dengan sepenuh hati. Sementara anak-anak di kelas mengajarkanku bagaimana cinta itu dapat diwujudkan dalam bentuk perhatian, kesabaran, dan pengabdian.
Karena itu, sekarang setiap kali melangkah memasuki ruang kelas, aku berusaha meninggalkan kegamangan itu di ambang pintu. Aku ingin hadir sepenuhnya. Bukan hanya tubuhku yang berada di dalam kelas, tetapi juga pikiranku, perhatianku, dan hatiku. Sebab, mungkin saja bagi seorang anak, kehadiran gurunya hari itu adalah sesuatu yang sederhana. Namun, bagi anak yang sedang menghadapi persoalan yang tidak kita ketahui, sapaan, senyuman, atau kesediaan kita untuk mendengarkan bisa jadi merupakan sesuatu yang sangat berarti.
Pada akhirnya, aku memahami bahwa menjadi guru adalah tentang hadir bagi kehidupan. Materi pelajaran mungkin akan dilupakan. Nilai ujian mungkin suatu hari tidak lagi diingat. Namun, pengalaman pernah didengarkan, dihargai, dipercaya, dan disemangati oleh seorang guru mungkin akan tinggal jauh lebih lama di dalam ingatan seorang anak.
Kini aku tidak lagi melihat ruang kelas hanya sebagai tempat aku mengajar. Aku melihatnya sebagai ruang tempat aku dan anak-anak sama-sama belajar. Mereka belajar dari apa yang kusampaikan, sementara aku belajar dari cara mereka tumbuh. Mereka mungkin datang untuk menerima pelajaran dariku, tetapi tanpa kusadari, mereka juga memberikan pelajaran kepadaku: bahwa menjadi guru berarti bersedia hadir, bahkan ketika hati sendiri sedang gamang; bersedia memberi, bahkan ketika merasa lelah; dan bersedia mencintai proses pertumbuhan anak-anak, meskipun hasilnya tidak selalu dapat kita lihat hari ini.
Dan mungkin, di situlah sesungguhnya makna menjadi seorang guru: bukan sekadar mengantarkan anak-anak memahami pelajaran, tetapi menemani mereka menemukan dirinya dan menyalakan sedikit cahaya untuk perjalanan hidup mereka. Bagaimanapun, aku bukan hanya ibu guru bagi mereka, tetapi juga sahabat.
Suatu saat, keyakinan yang selama ini kubangun berbenturan dengan sebuah realitas baru. Kelas tempat aku mengajar dijadikan kelas inklusif. Tentu saja, aku memahami bahwa beberapa murid berkebutuhan khusus memerlukan penanganan yang berbeda dibandingkan murid pada umumnya. Secara teori, aku memahami hal itu. Namun, dalam kenyataannya, hal tersebut tidak semudah yang kubayangkan. Murid-murid lain belum sepenuhnya memahami kondisi teman mereka. Mereka masih belajar sesuai dengan usia dan tahap perkembangannya. Di situlah aku mulai belajar bahwa memahami kelas inklusif bukan hanya soal memahami murid yang berkebutuhan khusus, tetapi juga memahami bagaimana seluruh anak dalam kelas tersebut dapat tumbuh dan belajar bersama.
Kelas inklusif, begitulah aku menyebut pengalaman itu. Setiap kali melihat dan mendampingi mereka di ruang kelas, aku merasakan bahwa mereka hadir dengan dunia yang tidak selalu sama. Mereka duduk di ruang yang sama, mengikuti pembelajaran yang sama, dan memiliki keinginan yang sama untuk diterima oleh teman-temannya. Namun, cara mereka menerima informasi, melakukan sesuatu, memahami pelajaran, berkomunikasi, bergerak, bahkan memandang lingkungan, tidak selalu sama dengan anak-anak lainnya.
Pengalamanku ketika mengajar di kelas VII dan IX perlahan membuka pemahamanku. Aku mulai melihat bahwa murid berkebutuhan khusus bukan sekadar anak yang memiliki keterbatasan. Mereka adalah anak-anak dengan sisi diri, karakter, kemampuan, dan cara belajar yang beragam. Mereka membutuhkan kesempatan, dukungan, dan pendekatan yang sesuai agar dapat merasakan pembelajaran yang bermakna, bukan pembelajaran yang membuat mereka merasa terpaksa harus sama dengan yang lain. Mereka juga memiliki kesempatan untuk bertumbuh dan berkembang, bahkan mekar dengan indah bersama teman-temannya.
Pemahaman itu semakin kuat ketika aku mulai berinteraksi dengan anak-anak yang kutemui dalam pembelajaran Bahasa Indonesia. Aku menemukan murid yang kesulitan menganalisis isi teks. Ada pula murid dengan keterbatasan fisik yang membuatnya membutuhkan cara tertentu dalam mengikuti pembelajaran memahami teks. Ada murid yang masih belajar berbicara menggunakan bahasa Indonesia dengan baik. Namun, yang paling membuatku sedih dan membekas dalam hati adalah ketika menemukan murid yang cenderung menutup diri. Ia tampak takut ketika harus berhadapan dengan guru. Pada awalnya, mungkin aku hanya melihatnya sebagai anak yang pasif. Namun, semakin aku memperhatikannya, semakin aku sadar bahwa ada sesuatu di balik sikap itu yang belum kuketahui.
Setelah melihat, mendengar, dan menyaksikan berbagai keterbatasan yang dimiliki anak-anak tersebut, aku mulai memahami bahwa setiap anak berhak mendapatkan kesempatan untuk mengikuti pembelajaran sesuai dengan kondisi yang dimilikinya. Aku juga belajar bahwa perilaku seorang murid tidak dapat begitu saja kita nilai hanya dari cara ia menjawab pertanyaan atau dari kemampuannya mengikuti tuntutan pembelajaran. Ketika kebutuhan seorang murid tidak kita pahami, ia bisa kehilangan rasa percaya diri, takut melakukan kesalahan, bahkan kehilangan rasa aman ketika berhadapan dengan materi pelajaran maupun dengan gurunya.
Di balik keterbatasan itu, ternyata ada perjuangan yang tidak selalu terlihat. Ada murid yang sedang berjuang memahami dunia melalui huruf-huruf yang bagi kita mungkin terasa sederhana. Ada murid yang sulit berbicara, mungkin karena ada begitu banyak hal dalam pikirannya yang belum mampu ia ungkapkan. Ada murid yang takut berhadapan dengan guru, mungkin karena ada pengalaman yang belum selesai ia hadapi. Dan di balik keterbatasan fisik maupun kognitifnya, tetap ada seorang anak yang ingin dihargai, diterima, dan diberi kesempatan untuk berhasil.
Dari berbagai pengalaman itulah aku mulai memahami bahwa murid dalam kelas inklusif bukan sekadar kumpulan kekurangan atau keterbatasan. Mereka, sama seperti anak-anak lainnya, memiliki kemampuan, potensi, dan hak yang sama untuk belajar. Hanya saja, jalan yang mereka tempuh untuk mencapai tujuan belajar mungkin berbeda. Ada yang membutuhkan waktu lebih lama, ada yang membutuhkan bantuan lebih banyak, dan ada pula yang membutuhkan cara pendekatan yang berbeda. Yang mereka perlukan bukan perlakuan yang sama persis, melainkan kesempatan yang adil untuk tumbuh.
Kesadaran itu membuat cara pandangku terhadap profesi guru berubah. Awalnya aku datang ke sekolah hanya dengan perasaan bahwa aku sedang menjalankan tugas sebagai seorang guru. Namun, ternyata tugas itu jauh lebih luas daripada sekadar menyampaikan pengetahuan dan menyelesaikan materi pelajaran. Guru juga harus menjadi pengamat. Mengamati cara anak belajar, cara mereka berinteraksi, perubahan kecil dalam perilaku mereka, bahkan hal-hal yang tidak mereka ucapkan.
Dari situlah aku menyadari bahwa sesungguhnya aku juga sedang menjadi seorang pembelajar. Setiap anak mengajarkanku sesuatu yang baru. Setiap kelas memberiku pengalaman yang berbeda. Setiap keterbatasan yang kutemui justru membuatku belajar untuk tidak terburu-buru memberikan penilaian. Aku belajar melihat lebih dekat, mendengar lebih sabar, dan mencoba memahami sebelum menentukan apa yang harus dilakukan.
Oleh karena itu, bagiku, memahami murid dalam kelas inklusif berarti belajar melihat anak secara utuh. Bukan hanya melihat nilai yang diperolehnya, bukan hanya melihat kesalahan yang dibuatnya, dan bukan pula hanya melihat keterbatasan yang dimilikinya. Di balik semua itu, ada seorang anak yang sedang bertumbuh, sedang mencari tempatnya, dan sedang membutuhkan seseorang yang percaya bahwa ia juga mampu berkembang.
Mungkin, pada akhirnya, kelas inklusif bukan hanya ruang belajar bagi murid. Kelas inklusif juga menjadi ruang belajar bagi guru. Di ruang itulah aku belajar bahwa tidak semua anak harus berjalan dengan cara yang sama. Yang penting adalah bagaimana kita menemani mereka menemukan jalan yang memungkinkan mereka terus melangkah.
Siniar Audio
Latih Pemahaman Membaca
Uji pemahaman Anda tentang artikel ini dengan menjawab beberapa pertanyaan interaktif yang dirancang khusus oleh AI kami.
Mulai Latihan Sekarang →
1 comment
Wahh.. keren sekali puji ini…kondisi di lapangan memang tidak bisa diprediksi… hebat sekali.