Kawara, Gagak yang Ogah Berwarna Hitam
Kawara, Gagak yang Ogah Berwarna Hitam

Kawara, Gagak yang Ogah Berwarna Hitam

0 Shares
0
0
0

Di sebuah hutan, hiduplah beberapa kelompok hewan yang hidup damai berdampingan. Kali ini, kita akan menuju Kampung Caracara. Kampung Caracara adalah kampung tempat hidupnya para burung dengan bahagia. Mereka bekerja dari hari ke hari guna mengumpulkan bahan makanan serta persiapan musim dingin.

Pagi ini, ada seekor burung gagak yang cantik jelita, panggil saja namanya Kawara. Kawara adalah seekor burung gagak dengan warna bulu putih bersih dan berseri. Warna bulunya membuat setiap mata yang memandangnya terpesona. Kicauannya yang merdu juga akan membuai setiap pasang telinga yang mendengarnya.

“Cuit, cuit, cuit,” ujar Kawara seraya membuka jendela rumahnya.

Sambil menggeliat, Kawara mengibas-ngibaskan ekornya.

Kawara adalah gagak yang terkenal karena kecantikan dan kemerduan suaranya. Ia selalu hidup dipenuhi pujian dari hari ke hari.

“Hai, Kawara nan cantik jelita,” sapa Pipita, si merpati, dengan ramahnya.

“Pagi, Pipita. Oh, ya, apakah besok kamu akan pergi ke kampung sebelah?” tanya Kawara kepada Pipita penasaran.

“Ada apa di kampung sebelah, Kawara? Kok aku tidak tahu, ya?” tanya Pipita dengan penasaran.

“Kamu lupa, ya? Kan Tuan Rajendra, si Raja Hutan, akan mengadakan pesta tutup musim. Kan kita mau menyambut musim dingin,” jawab Kawara menjelaskan.

“Hmm, iya, ya. Kok aku bisa lupa? Bolehkah aku pergi denganmu, Kawara? Sebab aku jarang keluar kampung, jadi aku tidak tahu jalan menuju kampung sebelah,” pinta Pipita.

“Boleh, dengan senang hati,” jawab Kawara singkat.

Pipita pun pergi melanjutkan aktivitasnya untuk mengumpulkan biji-bijian.

“Gaya-gayaan si Pipita mau pergi bersama denganku. Dia, kan, jelek dan pendek,” ujar Kawara dalam hati menghina.

“Tapi biar sajalah. Kalau dia dekat denganku, kecantikanku akan semakin sempurna,” gumam Kawara.

“Cuit, cuit, cuit,” Kawara masuk kembali ke dalam rumahnya.

Kawara mulai mandi…

Blush, blush, blush, suara air dari kamar mandi Kawara terdengar hingga ke rumah tetangga.

Tak lama kemudian, Kawara pun selesai dan mulai berdandan.

Dari balik jendela rumahnya, terdengarlah si Kuak, burung hantu, menggoda Kawara. “Hai, Kawara cantik, kita main, yuk,” tanya Kuak dengan percaya diri.

Mendengar ajakan tersebut, Kawara pun bergegas keluar. “Hai, Kuak, di rumahmu ada kacakah? Kamu tidak melihat bagaimana perbedaan kita? Ibarat kata, ya, bagaikan kerak neraka dan surga. Sangat jauh perbedaannya. Jangan mengada-ada, Kuak jelek. Aku tidak sudi bermain denganmu,” jawab Kawara mengejek.

“Hei, Kawara, jangan sombong kamu. Toh, saya cuma bertanya,” jawab Kuak.

“Hus, hus, hus, pergi sana. Nanti kalau aku terlalu lama melihatmu, kecantikan sempurnaku ini akan luntur. Nanti aku tidak cantik lagi,” usir Kawara.

Mendengar hal tersebut, pergilah si Kuak menjauh dengan perasaan kesal.

Kawara pun masuk ke rumah sambil berkaca. “Wah, cantik sekali aku ini. Pokoknya, acara di kampung sebelah harus aku yang jadi pusat perhatian,” ujar Kawara menyombong.

Mengingat besok adalah hari yang bersejarah bagi Kawara, ia pun mengecek semua aksesori bulu yang ada di lemarinya. Namun, tidak satu pun dari aksesori dan baju bulu tersebut yang menyenangkan hatinya. Lalu, teringatlah oleh Kawara bahwasanya Kenari adalah ahli dalam memodifikasi baju bulu.

Tak perlu menunggu lama, pergilah Kawara ke rumah Kenari.

“Kenari, Kenari,” teriak Kawara memanggil.

“Hai, Kawara. Ada apa kamu berteriak di siang yang panas ini?” tanya Kenari.

“Aku ada perlu dengan kamu,” jawab Kawara.

“Kalau begitu, masuklah,” Kenari mempersilakan Kawara masuk ke rumahnya.

Kenari adalah ahli modifikasi pakaian bulu. Kemampuannya dalam berkreasi tidak perlu diragukan. Tapi, Kenari selalu memberikan syarat pada setiap pelanggannya, yaitu baju bulu yang dimodifikasi haruslah baju bulu yang sudah rusak atau sudah tidak layak pakai.

“Kenari, aku ingin memodifikasi baju bulu putihku ini. Aku ingin sedikit memberikan aksen emas di ujung-ujung baju buluku,” ungkap Kawara kepada Kenari.

“Maaf, Kawara, kamu, kan, tahu apa syarat memodifikasi baju bulu. Aku tidak mau mengubah ciptaan Tuhan, kecuali memang ada kerusakan dan perlu diperbaiki,” jawab Kenari tegas.

“Alah, pelit sekali kamu, Kenari. Kita, kan, berteman sudah cukup lama. Apakah tidak bisa kamu buat pengecualian buatku?” tanya Kawara memaksa.

“Aku selalu hidup dengan prinsip, Kawara. Jadi, aku tidak mau mengubah baju bulumu yang sudah bagus itu!” jawab Kenari.

Tidak lama kemudian, datanglah segerombol pasukan bangau datang ke rumah Kenari. Burung bangau tersebut hendak membawa Kenari ke rumah Pak Balam. Pak Balam mengalami luka tembak oleh pemburu, jadi bulunya rusak dan harus diperbaiki agar bisa terbang kembali.

“Sudah, ya, Kawara, aku tidak akan mengubah baju bulumu yang sudah sempurna itu. Aku akan pergi ke rumah Pak Balam. Aku buru-buru. Jadi, tolong sebentar jaga rumahku ini. Kamu jangan bermain di rak warna, ya. Kalau warna-warna itu sudah melekat di baju bulumu, maka warna itu sudah tidak bisa diubah kembali,” ujar Kenari.

“Baiklah, Kenari, pergilah yang lama,” jawab Kawara.

Selepas perginya Kenari, timbullah ide-ide nakal dalam kepala Kawara. Ia berencana akan memodifikasi baju bulunya sendiri. Lalu, ia pergi ke ruang penyimpanan warna. Ia hendak mencari warna emas. Terbanglah ia mengelilingi rak-rak warna tersebut. Kemudian, ia menemukan warna emas yang dicarinya.

“Wah, ini dia warna yang kucari,” ujar Kawara senang.

Ia mulai mewarnai setiap ujung baju bulunya dengan saksama. Setelah mewarnai dengan warna emas, ia berkaca. “Wah, sepertinya masih ada yang kurang.”

Kawara pun kembali terbang mencari warna violet. Digoreskanlah warna violet tersebut dengan hati-hati. Setelah selesai, Kawara kembali berkaca. Ia pun masih tidak puas dengan hasilnya. Kawara kembali terbang mengelilingi rak warna tersebut, akan tetapi kali ini ia sedikit sial. Kawara tidak sengaja menabrak rak-rak tersebut sampai jatuh menimpanya.

Kawara pun merasa kesakitan, lalu ia mencoba untuk terbang keluar dari robohan rak tersebut. Betapa kagetnya ia, semua campuran warna yang menimpanya membuat baju bulunya menjadi hitam legam.

Kawara mencoba mencari air, lalu berniat membasuh baju bulunya. Akan tetapi, warna tersebut tetap tidak berubah meski Kawara sudah mandi sebanyak dua kali.

Kawara pun menangis tersedu-sedu sampai sore hingga suaranya sudah terdengar serak.

Menjelang gelap, pulanglah Kenari ke rumahnya. Betapa terkejutnya Kenari melihat seisi rumahnya sudah berantakan. Lebih terkejut lagi melihat seekor burung hitam yang suaranya terdengar sayup.

“Siapa kamu?” tanya Kenari.

“Aku Kawara, Kenari. Maafkan aku tidak mendengarkan ucapanmu. Aku sudah tidak bisa lagi seperti semula. Aku sudah jelek,” jawab Kawara dengan suara seraknya.

“Hmm, itulah akibat kamu tidak bersyukur dan tidak mendengarkan ucapanku. Sekarang, kamu harus menerima dengan lapang dada keadaanmu,” ujar Kenari.

“Iya, Kenari. Aku salah,” jawab Kawara.

Itulah asal muasal gagak berwarna hitam dan memiliki suara serak. Dari kisah tersebut dapat kita ambil pelajaran kalau kita tidak boleh merasa kurang akan apa yang sudah Tuhan anugerahkan. Bersyukurlah atas rahmat Tuhan. Dan perlu diingat juga, dengarkan nasihat baik dari pihak atau orang lain, apalagi yang sudah terbukti kemahirannya dalam bidang tertentu. Sehingga, kamu tidak merugi.

Siniar Audio

Citation is loading...

Latih Pemahaman Membaca

Uji pemahaman Anda tentang artikel ini dengan menjawab beberapa pertanyaan interaktif yang dirancang khusus oleh AI kami.

Mulai Latihan Sekarang →
3 comments
  1. Wahh, menarik sekali ceritanya. Kita diajarkan untuk selalu bersyukur atas apa yang Tuhan berikan, karena itu adalah nikmat terbaik dari-Nya..

  2. Cerita yang sangat menarik dan inspiratif! Pesan moralnya disampaikan dengan jelas dan mudah dipahami.

  3. Waah, cocok sekal ini untuk bahan pembelajaran bagi siswa, apalagi anak SMPN, sangat bagus, menginspirasi dan mengalir. bahasana pun sanga mudah dipahami. keren Bu Elsa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *