“Kala kabut menyelimuti Nusantara, ruang gerak dan cerita baik akan terus menjadi pemantik ide dan gagasan mulia sebagai wujud nyata berliterasi Ratulisa (Rajin Menulis dan Membaca) untuk kemaslahatan umat sepanjang hayat.”
Komunitas Diklisa dan Lembaga Literasi Arfuzh Ratulisa telah meluncurkan Gerakan Literasi Nusantara (GLN) berkolaborasi dengan mahasiswa, guru, dosen, penggiat literasi, dan masyarakat di Provinsi Sulawesi Tengah. Kegiatan tersebut dilaksanakan dengan tujuan untuk mendukung gerakan literasi nasional dan untuk mengimplementasikan pembelajaran bahasa Indonesia berbasis kasus dan proyek literasi nusantara. Kegiatan tersebut dilaksanakan sejak tanggal 12–19 Oktober 2026 yang dilaksanakan dengan moda daring, luring, dan analisis kasus secara mendalam, kritis, dan tugas proyek mandiri untuk berliterasi dengan Ratulisa. Kegiatan tersebut mendapatkan fasilitas seminar kit, tiga buku cetak, dan sebelas buku versi digital sebagai sumber literasi untuk menghasilkan satu tulisan sebagai luaran kegiatan yang akan diterbitkan menjadi tulisan bersama dalam Buku Diklisa#8 yang diterbitkan oleh Penerbit Yuma Pustaka Surakarta bekerja sama dengan Lembaga Literasi Arfuzh Ratulisa dan Komunitas Diklisa.
Semua peserta kegiatan pendidikan dan pelatihan (diklat) GLN serta seminar mengikuti dengan sangat antusias, interaktif, dan kritis dalam berdiskusi untuk menyampaikan pendapat dan gagasan kritisnya. Hal ini tampak dalam giat dengan moda luring, Sabtu, 17 Oktober 2026 yang dilaksanakan di Aula FKIP Universitas Tadulako (UNTAD) berkolaborasi dengan Unit Akreditasi Nasional dan Internasional Lembaga Pengembangan dan Penjaminan Mutu Pendidikan (LPPMP) UNS, Laboratorium Bahasa FKIP UNTAD, Program Studi PBSI FKIP UNTAD, Penerbit Yuma Pustaka, Penerbit Bumi Aksara, Lembaga Lolodolina Palu, Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Bahasa Indonesia Kota Palu, Keluarga Alumni PBSI FKIP UNTAD, Fakultas Sastra Universitas Alkhairaat (UNISA), Penggadean, UIN Datokarama Palu, guru-guru, dosen, penggiat literasi, mahasiswa, dan masyarakat di Sulawesi Tengah.
Kebersamaan peserta dalam kegiatan luring di Sulawesi Tengah tersebut terlihat pada Gambar 1.

Kegiatan diklat dan seminar dalam rangka peningkatan kompetensi literasi nusantara digital dan nondigital untuk mahasiswa, guru, dosen, penggiat literasi, dan masyarakat Provinsi Sulawesi Tengah diawali pengantar oleh Ketua Panitia Seminar sekaligus Ketua Laboratorium FKIP UNTAD, Dr. Ulinsa, M.Hum., kemudian dibuka oleh Dekan FKIP UNTAD, Dr. Jamaludin, M.Si. yang disampaikan oleh Wakil Dekan Bidang Akademik, Prof. Dr. Sahrul Saehana, M.Si., yang didampingi Wakil Dekan Bidang Keuangan, Dr. Darsikin, M.Si. Kegiatan GLN telah berjalan sangat lancar, menyenangkan, dan membahagiakan semua peserta yang hadir dalam giat tersebut karena diawali dengan penampilan tiga siswa SMP negeri di Palu bimbingan Pak Haji Rasyid dan Pak Supriyadi untuk menampilkan tari selamat datang dengan khas lagu daerah Sulawesi Tengah. Dalam giat tersebut dihadirkan narasumber Prof. Dr. Muhammad Rohmadi, S.S., M.Hum., sekaligus sebagai pendiri dan penggiat Komunitas Diklisa dan Lembaga Literasi Arfuzh Ratulisa.
Kolaborasi mahasiswa dan dosen PBSI FKIP UNTAD dalam kegiatan ini terlihat pada Gambar 2.

Fokus utama dalam giat tersebut, Muhammad Rohmadi menegaskan, “Guru, dosen, mahasiswa, penggiat literasi, masyarakat abad XXI harus memiliki tiga modal utama, yaitu (1) niatkan menjadi guru, dosen, mahasiswa, penggiat literasi Ratulisa dan Komunitas Diklisa untuk beribadah; (2) teruslah belajar dan berliterasi Ratulisa sepanjang hayat; dan (3) doakan orang tua, guru, dosen, pemimpin, teman sejawat, murid-murid, mahasiswa, sanak famili, handai taulan, dan seluruh masyarakat Indonesia agar sukses dan bahagia dunia akhirat”. Selain itu, Muhammad Rohmadi juga mengajak mahasiswa, guru, dan dosen, penggiat literasi, dan masyarakat Sulawesi Tengah untuk terus bergerak dan menggerakkan secara aktif, kreatif, inovatif, dan produktif pembelajaran bahasa Indonesia dengan berbasis kasus dan proyek di kelas, luar kelas, digital, dan nondigital serta menghasilkan proyek yang komprehensif merujuk pada aneka kasus yang dianalisis secara kritis dan mendalam. Hal ini dalam rangka untuk mendukung implementasi pembelajaran berbasis metode pembelajaran mendalam (deep learning) di sekolah dasar dan menengah serta pembelajaran berbasis kasus dan proyek di perguruan tinggi.
Muhammad Rohmadi juga memberikan ice breaking “Senam Konsentrasi Literasi Diklisa (KOLISA)” dan semangat untuk selalu cinta dan bangga pada bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan seluruh masyarakat Indonesia. Semangat dan yel-yel yang diberikan Muhammad Rohmadi yaitu “Aku cinta bahasa Indonesia; aku bangga bahasa Indonesia; bahasa Indonesia luar biasa.” Dalam giat tersebut dibahas dan didiskusikan aneka kasus pembelajaran yang terjadi di sekolah Islam terpadu, sekolah satu atap, SMP, MTs, SMA, SMK, dan perguruan tinggi secara komprehensif. Beberapa diskusi dan pertanyaan disampaikan oleh beberapa dosen PBSI UNTAD, yaitu Dr. Syamsudin, M.Pd., Dr. Juniati, M.Pd., yang mendukung program GLN Komunitas Diklisa dan Lembaga Literasi Arfuzh Ratulisa. Selain itu, ada juga guru SMP Islam Terpadu, Mutmainah, M.Pd., Melati, S.Pd., yang mendeskripsikan dan menanyakan aneka kasus pembelajaran dan literasi Ratulisa bagi para muridnya. Diskusi yang sangat aktif dan kritis untuk membahas aneka kasus pembelajaran era digital yang dipantik oleh Masrin sebagai moderator giat Diklisa dalam rangka Bulan Bahasa, yang akan diperingati tanggal 28 Oktober 2026.
Partisipasi pimpinan FKIP UNTAD bersama para peserta dalam peluncuran GLN tersebut terlihat pada Gambar 3.

Akhirnya, giat tersebut ditutup oleh narasumber, Muhammad Rohmadi yang saat ini sebagai pengajar di Program Studi PBSI FKIP UNS, Surakarta dengan mengajak dan meyakinkan kepada mahasiswa, guru, dosen, penggiat literasi di Sulawesi Tengah untuk terus bergerak dan menggerakkan murid dan mahasiswanya untuk terus berliterasi dengan Ratulisa, bersama Komunitas Diklisa dengan ikut berpartisipasi aktif dalam melancarkan GLN sehingga ke depan akan menjadi sosok guru dan dosen abad XXI yang selalu dirindukan oleh umat sepanjang hayat karena ilmu, amal, dan karya nyata bersama Lembaga Literasi Arfuzh Ratulisa dan Komunitas Diklisa. Pesan Muhammad Rohmadi kepada seluruh mahasiswa, guru, dosen, penggiat literasi, dan seluruh masyarakat di Indonesia, “Teruslah berliterasi dengan Ratulisa bersama Komunitas Diklisa. Membacalah untuk menulis dan menulislah untuk dibaca umat sepanjang hayat.”
Puncak giat peluncuran GLN dan Peningkatan Kompetensi Literasi Digital dan Nondigital Komunitas Diklisa dan Lembaga Literasi Arfuzh Ratulisa dalam rangka memperingati Bulan Bahasa akhirnya telah dilaksanakan dengan lancar, sukses, maslahat, dan berkah sehingga dapat menghasilkan satu karya bersama book chapter DIKLISA#8 sebagai wujud implementasi pembelajaran berbasis kasus dan proyek diklat dan Seminar Peningkatan Kompetensi Literasi Nusantara yang diadakan oleh Komunitas Diklisa dan Lembaga Literasi Ratulisa bersama semua panitia, peserta, Komunitas Diklisa dan Lembaga Literasi Arfuzh Ratulisa Provinsi Sulawesi Tengah, yang terdiri atas mahasiswa, guru, dosen, penggiat literasi Ratulisa, dan masyarakat Provinsi Sulawesi Tengah.
“Gerakan literasi Ratulisa merupakan upaya nyata Komunitas Diklisa dan Lembaga Literasi Arfuzh Ratulisa untuk ikut serta mencerdaskan, membelajarkan, dan mengantarkan seluruh masyarakat Indonesia untuk terus bersilaturahmi, berliterasi Ratulisa, berbagi cerita baik, dan berbahagia sepanjang masa.”
Istana Arfuzh Ratulisa dan Diklisa, Palu, 18 Oktober 2026.
Video Dokumentasi
Siniar Audio
Latih Pemahaman Membaca
Uji pemahaman Anda tentang artikel ini dengan menjawab beberapa pertanyaan interaktif yang dirancang khusus oleh AI kami.
Mulai Latihan Sekarang →