Adu Cepat dengan Screenagers, Adu Sabar dengan Karakter
Adu Cepat dengan Screenagers, Adu Sabar dengan Karakter

Adu Cepat dengan Screenagers, Adu Sabar dengan Karakter

0 Shares
0
0
0

Dewasa ini, teknologi terus beradu cepat. Hampir semua segi kehidupan terjamah oleh beraneka rupa teknologi. Ketika bangun tidur dan perut terasa lapar, ada teknologi panci pintar yang siap menyajikan nasi beserta lauk untuk disantap tanpa perlu mengeluarkan upaya besar. Ketika ingin bergaya hidup sehat dan bugar, tetapi terhalang waktu dan tempat, tersedia berbagai alat olahraga berteknologi canggih yang siap digunakan tanpa harus keluar rumah. Bahkan ketika malam tiba dan lelah di badan datang akibat banting tulang seharian, ada teknologi kursi pijat yang siap merelaksasi otot-otot tubuh dan membuat badan kembali rileks dari kaki hingga kepala. Begitulah teknologi melekat erat dalam kehidupan abad ke-21 ini.

Laju cepat teknologi juga tak mau melepaskan bidang paling strategis, yaitu pendidikan. Di awal abad ke-21, teknologi telah menawarkan berbagai media pembelajaran inovatif. Pada awal kemunculannya itu, media pembelajaran yang tersedia belum diimbangi dengan alat yang memadai. Akibatnya, kebermanfaatan media tersebut baru dirasakan di sebagian kecil lembaga pendidikan. Bahkan, bisa dibilang hanya sekolah-sekolah mapan yang mampu memilikinya.

Menginjak tahun 2020, dunia pendidikan berubah 180 derajat. Wabah COVID-19 menjadi titik balik bagi dunia pendidikan yang semula nyaman dengan model pembelajaran konvensional dan kemudian dipaksa berubah menjadi serba digital. Sekolah, pendidik, bahkan staf di lembaga pendidikan memutar otak dalam waktu singkat demi tetap bisa memberikan pelayanan dan pembelajaran sesuai dengan amanah nasional. Tentu saja pilihannya jatuh pada teknologi yang bisa menunjang kegiatan belajar mengajar, berapa pun biayanya.

Sejak titik balik itu, muncul bisnis digital di bidang pendidikan. Bahkan, tidak sedikit pelaku usaha yang mampu membangun startup di bidang education technology (EdTech). Kehadiran EdTech ini disambut baik oleh lembaga pendidikan. Namun, tidak demikian dengan sumber daya manusia di dalamnya. Karena perubahan yang begitu mendadak, para pendidik kehabisan waktu untuk mempersiapkan diri beradaptasi dengan teknologi. Mereka yang terbiasa bersusah payah menerangkan materi di depan kelas tiba-tiba harus menggunakan teknologi yang serba praktis. Bahkan, sesuatu yang tadinya tidak masuk akal bagi mereka ternyata sangat mungkin dilakukan.

Misalnya, pendidik menuliskan soal matematika di papan tulis lalu meminta peserta didik mengerjakannya di papan tulis yang sama. Hal itu mustahil dilakukan di tengah pembelajaran jarak jauh jika dipikirkan dengan logika konvensional. Namun, dengan adanya teknologi presentasi interaktif, hal itu mudah dilakukan hanya dengan bermodal layar.

Digitalisasi Pembelajaran dalam Inpres Nomor 7 Tahun 2025

Di awal masa kepemimpinan Presiden Prabowo, terbit Instruksi Presiden (Inpres) Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 2025 tentang Percepatan Pelaksanaan Program Pembangunan dan Revitalisasi Satuan Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah, Pembangunan dan Pengelolaan Sekolah Menengah Atas Unggul Garuda, dan Digitalisasi Pembelajaran. Instruksi ini diterbitkan pada tanggal 27 Maret 2025.

Salah satu instruksi yang ditujukan kepada Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah berbunyi, “melaksanakan percepatan pelaksanaan digitalisasi pembelajaran”. Lebih lanjut, ada pula instruksi untuk Menteri Komunikasi dan Digital yang berbunyi, “mendukung penyiapan sistem informasi pembelajaran yang dikembangkan oleh Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, Kementerian Agama, dan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, untuk menjadi ekosistem pembelajaran terpadu. Mendukung penyediaan infrastruktur digital dan pengembangan jaringan internet berkualitas tinggi untuk mendukung akses digitalisasi pembelajaran di seluruh wilayah Indonesia”.

Kemunculan Inpres ini seolah menjadi tangga naik kelas bagi pendidikan di Indonesia. Semula, lembaga-lembaga pendidikan melakukan digitalisasi karena lockdown pada masa pandemi COVID-19. Setelah itu, sebagian kecil lembaga masih melanjutkannya. Kehadiran Inpres ini menjadi dorongan pemerintah agar digitalisasi pembelajaran terus dilakukan. Instruksi tersebut menyebut semua pemangku kebijakan yang berkaitan dengan digitalisasi pembelajaran. Menteri Keuangan hingga gubernur dan bupati diberikan instruksi secara jelas untuk melakukan digitalisasi pembelajaran mulai dari jenjang pendidikan anak usia dini hingga pendidikan tinggi.

Selain memberikan instruksi untuk pembelajaran, Presiden Prabowo juga menyebut pengadaan infrastruktur digital. Berdasarkan sejumlah pemberitaan, Presiden Prabowo menargetkan setiap sekolah memperoleh perangkat interactive flat panel (IFP) untuk menunjang proses belajar. Pada bulan September 2025, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah mulai mendistribusikan perangkat IFP ke satuan pendidikan di semua jenjang untuk mendukung pembelajaran digital sesuai dengan Inpres Nomor 7 Tahun 2025.

Sayangnya, secanggih apa pun sebuah alat, ia tetaplah benda mati. IFP yang sudah terpasang rapi di depan kelas tidak akan berarti apa-apa jika tidak ada tangan yang menyalakannya. Ia bisa saja hanya berakhir sebagai papan tulis mahal, dipakai sekadar menampilkan tulisan yang dulu ditulis dengan kapur. Bahkan, keadaannya bisa jadi lebih memprihatinkan jika alat itu dibiarkan tertutup kain agar tidak berdebu dan tetap terlihat baru. Karena itu, Inpres tentang digitalisasi pembelajaran ini sesungguhnya tidak sedang berbicara tentang barang, melainkan tentang manusia di belakang barang itu, yaitu guru dan dosen.

Interaksi Pembelajaran Digital yang Dibutuhkan Screenagers

Peserta didik yang kini duduk di depan IFP bukanlah peserta didik yang sama dengan sepuluh tahun lalu. Douglas Rushkoff menyebut generasi ini dengan istilah screenagers, yaitu anak-anak yang tumbuh besar bersama layar. Layar sudah menemani mereka jauh sebelum mereka mengenal huruf. Ketika bosan, mereka menggeser layar. Ketika penasaran, mereka bertanya kepada layar. Ketika ingin bermain, layar pula yang mereka cari. Bagi mereka, layar bukan sekadar alat bantu, melainkan bagian dari cara mereka memandang dunia.

Cara belajar screenagers juga terbentuk oleh kebiasaan itu. Mereka terbiasa memperoleh jawaban dalam hitungan detik sehingga penjelasan yang berputar-putar terasa melelahkan. Mereka terbiasa memilih sendiri tontonan yang disukai sehingga materi yang disodorkan tanpa alasan mudah mereka abaikan. Mereka juga terbiasa mencoba lebih dulu baru membaca aturan, seperti saat memainkan gim baru tanpa perlu petunjuk. Rentang perhatian mereka memang pendek, tetapi rasa ingin tahu mereka sebenarnya besar. Persoalannya hanya satu: siapa yang lebih dulu berhasil menarik perhatian itu.

Kebiasaan belajar tersebut menuntut interaksi yang lebih aktif di kelas. Screenagers tidak cukup hanya dihadapkan pada layar; mereka butuh diajak ikut menyentuh layar itu. Seorang guru informatika di SMP Negeri 86 Jakarta bercerita bahwa murid yang tadinya malu maju ke depan kelas justru berebut ingin mencoba ketika jawaban soal harus digeser di IFP. Suasana kelas berubah karena mereka merasa sedang bermain sekaligus belajar. Artinya, yang membuat mereka hidup bukanlah layarnya, melainkan kesempatan untuk terlibat di dalamnya.

Kesempatan seperti itu tentu tidak muncul dengan sendirinya. Ada guru yang merancangnya, memilih bahan yang tepat, menyusun pertanyaan yang menggoda rasa ingin tahu, dan menentukan kapan murid harus maju ke depan. IFP hanya menyediakan ruang; guru dan dosenlah yang mengisinya. Karena itu, keterampilan yang dibutuhkan pendidik hari ini bukan sekadar bisa menyalakan perangkat dan menggeser salindia. Mereka dituntut mampu menjadi perancang pembelajaran, penyaring bahan yang bertebaran di internet, sekaligus teman berpikir bagi peserta didik.

Tanpa keterampilan itu, digitalisasi pembelajaran berisiko berhenti sebagai pergantian benda saja. Papan tulis diganti layar, buku cetak diganti berkas digital, tugas di kertas diganti tugas yang dikirim lewat aplikasi, sementara cara mengajarnya tetap sama seperti dulu. Murid tetap duduk diam mendengarkan, hanya saja kini sambil menatap layar yang lebih terang. Kalau begitu keadaannya, anggaran besar yang dikeluarkan negara hanya berpindah wujud menjadi perabot kelas yang mahal. Padahal, yang dikejar Inpres tadi bukan kelas yang lebih terang, melainkan kelas yang lebih hidup.

Teknologi Terus Beradu Cepat, tetapi Karakter Harus Selalu Mendapat Tempat

Meski begitu, ada satu hal yang tidak pernah bisa diunduh dari mana pun, yaitu karakter. Teknologi boleh terus beradu cepat, tetapi kejujuran, ketekunan, dan rasa hormat tidak ikut menjadi lebih cepat. Ketiganya tetap tumbuh sedikit demi sedikit melalui kebiasaan yang dilatih setiap hari. Tidak ada aplikasi yang bisa memasang sifat jujur pada diri seseorang hanya dengan sekali sentuh. Di tengah kelas yang semakin digital, justru bagian inilah yang paling mudah terlupakan.

Padahal, layar yang sama juga membuka pintu bagi kebiasaan yang kurang baik. Tugas yang seharusnya dipikirkan semalaman bisa selesai dalam semenit dengan bantuan kecerdasan buatan. Kabar bohong bisa dipercaya bulat-bulat hanya karena dikirim oleh orang yang dikenal. Ejekan yang dulu berhenti di gerbang sekolah kini bisa terus mengejar sampai ke kamar tidur. Bahkan waktu istirahat pun ikut terenggut karena layar terlalu sayang untuk ditinggalkan. Semua itu tidak akan selesai hanya dengan menambah jumlah IFP di setiap sekolah.

Persoalan seperti itu hanya bisa dijawab oleh manusia. Peserta didik belajar jujur bukan dari salindia yang bertuliskan kata jujur, melainkan dari gurunya yang mau mengakui ketika salah menjawab pertanyaan. Mereka belajar menghargai pendapat orang lain bukan dari materi yang ditayangkan di layar, melainkan dari dosennya yang mau mendengarkan sampai kalimat terakhir. Mereka belajar bertanggung jawab dari pendidik yang menepati janji mengembalikan hasil ujian tepat waktu. Hal-hal kecil semacam itu tidak pernah tercatat dalam rencana pembelajaran, tetapi justru paling lama tersimpan dalam ingatan.

Karena itu, keterampilan abad ke-21 yang perlu dimiliki guru dan dosen sebenarnya satu paket. Mereka perlu cakap menggunakan teknologi agar tidak tertinggal oleh peserta didiknya sendiri. Mereka perlu terbiasa berpikir kritis agar mampu memilah mana bahan yang benar dan mana yang sekadar ramai. Mereka perlu pandai berkomunikasi dan bekerja sama agar kelas terasa hangat. Mereka juga perlu kreatif agar pelajaran tidak berhenti pada hafalan. Namun, di atas semua itu, mereka perlu memiliki karakter yang pantas ditiru, sebab pada akhirnya itulah yang paling banyak dicontoh.

Teknologi memang akan terus beradu cepat. Panci pintar akan semakin pintar, alat olahraga akan semakin canggih, dan kursi pijat akan semakin nyaman. IFP pun suatu saat akan digantikan perangkat yang lebih baru dan lebih murah. Namun, tidak akan pernah ada perangkat yang bisa menggantikan seorang guru yang sabar menunggu muridnya paham atau seorang dosen yang percaya mahasiswanya bisa. Pendidikan bukan sekadar memindahkan pengetahuan ke dalam kepala, melainkan menumbuhkan manusia. Menumbuhkan manusia, sampai hari ini, masih pekerjaan manusia.

Siniar Audio

Citation is loading...

Latih Pemahaman Membaca

Uji pemahaman Anda tentang artikel ini dengan menjawab beberapa pertanyaan interaktif yang dirancang khusus oleh AI kami.

Mulai Latihan Sekarang →
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *