Ali dan Kiat Jitu Memberantas serta Mencegah Korupsi di Negeri Ini
Ali dan Kiat Jitu Memberantas serta Mencegah Korupsi di Negeri Ini

Ali dan Kiat Jitu Memberantas serta Mencegah Korupsi di Negeri Ini

0 Shares
0
0
0

Semenjak sore, Ali berdiam diri di kamar rumah Kakek-Nenek yang memang disediakan khusus untuk para cucu. Ia asyik membaca serial Fantasteen. Killer Mermaid karya Lalu Abdul Mubarok. Dari kamar itu, ia juga samar mendengar gelak tawa dan canda-ria Nenek dengan para tamu. Mantan siswa-siswi Nenek. Jumlahnya yang datang sore itu ada delapan orang. Nah, menjelang Magrib, para tamu pun sudah pulang.

Sudah selesai Isya. Ali pun menuju ruang tengah. Ali juga tahu, malam Minggu ini agak berbeda dengan malam-malam Minggu sebelumnya. Di ruang tengah, Ada Bang Edy dan Bang Ardoni atau Bang Don. Sudah cukup lama kedua oknum itu tidak datang ke rumah Kakek.

Ali mengucap salam. Kakek, Nenek, Edy dan Don pun serentak membalasnya. Kakek dan Nenek tersenyum menyambut kedatangan Ali, sedangkan Don menyapanya dengan ‘Edy Jr.,” serta Edy memanggilnya ‘bocil’.  Bagi Ali, itu adalah panggilan kesayangan, bukan salah satu bentuk perundungan.

Ali pun duduk di kursi yang kosong, kebetulan dalam ruangan itu memang hanya ada lima kursi utama. Sejurus kemudian, Nenek membawakan minuman. Seperti biasa, Nenek sudah hafal: untuk dirinya dan Kakek adalah air putih-jahe hangat; untuk Edy dan Don segelas kopi hangat; dan untuk Ali segelas susu-coklat. 

Tiba-tiba, Ali berkata cukup keras, mengejutkan isi ruangan. “Bang, Bang Don. Hayo, Bang Don punya utang!” Seru Ali lantang. Kakek, Nenek, Edy dan Don pun seperti kaget campur bingung. Don berutang ke Ali?

“Iya. Dulu. Dulu Bang Don pernah berjanji. Emhh. Janjinya, mau memberikan resep jitu bagaimana memerangi korupsi di negeri ini. Memberantas koruptor!” Ali tampak antusias Ketika menyebutkan kata korupsi dan koruptor

Don tertawa terus mengangguk-angguk. Sekilas ia melirik Edy. Edy menggeleng-gelengkan kepala, “Bang Donmu ini, idenya pasti aneh-aneh. Tidak masuk akal. Tidak usah didengarkan!” Kata Edy.

Tapi, Kakek tampaknya juga penasaran. Ya. Kakek ingat. Dulu  Nak Don memang pernah berjanji tentang hal itu. “Gak masalah. Ok. Coba ungkapkan. Siapa tahu, resep Nak Don ini dapat direkomendasikan ke pemerintah, termasuk ke KPK.” Kata Kakek yang disambut tawa seisi ruangan.

“Ooh. Iya. Ingat. Tapi tunggu. Menurut Edy Jr., apa kira-kira hukuman yang pantas bagi koruptor. Terutama koruptor kelas kakap?” Tanya Don sambil menatap Ali.

“Ya. Tentu. Hukum seberat-beratnya. Hukuman mati. Sebab …kata siapa ya? Kata Kakek atau Nenek, mungkin. Korupsi itu penyakit menular. Penyakit parah. Jika saja tidak ada korupsi, rakyat negeri ini sudah makmur. Iya, kan Bang Don?” Tanya Ali, mengembalikan jawabannya ke Don.

Don menggeleng. “Tidak perlu. Tidak perlu dihukum. Hukumannya ya, kembalikan uang atau harta hasil korupsi ke negara. Cuma itu! Selesai!” Kata Ardoni sambil matanya menyapu seluruh penghuni ruang itu. Mimik wajahnya tampak lucu.

Semua terkejut. Termasuk Kakek dan Nenek. Tapi, Ali yang tampaknya sangat tidak puas dengan jawaban Ardoni. “Tidak bisa. Tidak bisa. Enak banget. Cuma itu hukumannya?” Kata Ali protes.

“Tunggu. Agak panjang penjelasan Abang ya. Selain mengembalikan harta atau uang hasil korupsi, pihak pengadilan harus bekerja sama dengan dinas kependudukan, dengan Dukcapil dan lembaga terkait. Tetapkan, supaya si koruptor diberi predikat permanen di depan namanya. Misalnya, koruptor itu bernama  Welang. Nah, di depan namanya dibubuhi singkatan ‘KR’ pakai huruf kapital. Artinya, koruptor. Jadi nama Welang menjadi ‘KR. Welang’. Identitas baru itu bersifat permanen. Seluruh identitas pribadi Welang, di KTP, di kartu keluarga, akte kelahiran, dan sebagainya harus sama. KR. Welang.” Don  menghentikan ceramahnya, lalu mereguk kopi.

Kali ini Nenek yang protes. “Ya. Tetap terlalu ringan. Jangan-jangan, karena malu dan identitasnya lengket dengan gelar ‘KR” si Welang itu bunuh diri. Habis cerita. Atau. Welang menyogok pihak yang berkepentingan hingga predikatnya ‘KR’-nya hilang.” Protes Nenek.

Don tersenyum. “Tunggu, Nek. Belum selesai. Bukan hanya si koruptor yang diberi predikat yang lengket dengan namanya. Tapi, keluarga inti koruptor juga diberi predikat khusus. Istrinya, misalnya bernama Weling. Nah, di depan namanya diberi predikat permanen juga, ‘IK’ yang artinya ‘istri koruptor’. Jadi, nama Weling diubah menjadi ‘IK. Weling’. Anak-anaknya juga, diberi predikat ‘AK’ yang artinya ‘anak koruptor’. Kalau yang koruptor itu ibu-ibu, suaminya diberi tambahan gelar ‘SK’ yang artinya ‘suami koruptor’. Pemberian gelar ini harus transparan, dilengkapi dengan foto, dipublikasikan hingga tingkat kelurahan, plus didokumentasikan secara resmi sehingga dapat diakses seluruh masyarakat negeri ini.”  

Suasana ruangan itu mendadak menjadi hening. Ali, tentu saja tidak memahami total apa ide yang diusulkan Don, tetapi dapat menangkap inti cerita. Kakek dan Nenek pun terdiam. Sekaligus kagum atas ide cemerlang Don. Luar biasa. Sederhana tapi memiliki efek jera yang mematikan, efek domino yang mengerikan. Terbayang, jika suatu saat Kakek ditemui Pak RT mengenalkan ada tetangga baru yang akan tinggal di sebelah rumah. Ternyata, nama tetangga itu dilengkapi predikat ‘KR’ atau ‘AKR’. Mengerikan. Kakek yakin, tidak ada seorang pun mau memiliki tetangga seperti itu.

“Luar biasa ide Nak Don. Luar biasa. Cu ….” Kata Kakek sambil menengok Ali. “Bayangkan, Cu. Suatu hari Bu atau Pak Wali Kelas membawa anak baru, mengenalkan bahwa ada anak pindahan. Siswa baru. Nama anak itu pakai predikat ‘AK’, misalnya ‘AK. Togog Maele. Bagaimana sikap Cu dan kawan-kawan kira-kira?”

“Haah. Pasti Ali protes. Teman-teman Ali pasti juga protes. Kalaupun tetap pindah ke kelas Ali, pasti anak itu habis dirujak.” Kata Ali sambil tertawa.

“Iya. Benar juga. Tapi agak janggal ya? Mengapa satu orang yang korupsi, seluruh anggota keluarga jadi korban?” Tanya Nenek.

“Kali ini, Kakek yang ngomong. Tunggu”. Kata Kakek sambil meneguk minumannya. 

“Kakek pernah melihat tayangan video. Lupa. Entah dari grup WA mana. Intinya, ada seorang psikolog, kalau tidak salah. Katakanlah, Namanya Gatotkaca. Dalam tayangan tersebut, Gatotkaca menceritakan bahwa dirinya ditelepon oleh seorang perempuan. Ia kenal baik perempuan itu, bahkan sahabatnya waktu kuliah. Perempuan itu adalah  istri dari suami yang terdakwa kasus korupsi kelas kakap. Perempuan itu curhat tentang bagaimana kondisi suaminya yang sangat terpuruk, sangat menyedihkan. Bukan hanya itu, anak-anaknya juga sangat terpukul. Takut keluar rumah. Tentunya malu. Tentu saja, pada telefon pertama dan kedua, Gatotkaca ikut prihatin dan berusaha menyabarkan perempuan itu”. Kakek berhenti sebentar. Melayangkan pandangannya ke orang-orang dalam ruangan itu. Ternyata mereka masih menyimak.

“Namun, pada telefon yang ke-3, Gatotkaca benar-benar marah. Ketika itu, si perempuan bersikukuh bahwa suaminya tidak bersalah. Suaminya hanya terbawa arus karena tekanan pihak-pihak pejabat yang lebih tinggi. Playing victim. Aneh. Masa perempuan itu tidak merasa janggal jika suaminya membawa pulang sekian kilo emas ke rumah, mampu membelikan beberapa rumah dan mobil mewah? Gatotkaca marah. Mengapa yang dikeluhkan perempuan itu cuma orang-orang di dekatnya saja? Keluarga intinya. Kan, hanya beberapa orang. Tidak terpikirkan, tidak terpahami, bagaimana penderitaan sekian juta atau sekian ratus juta orang akibat perbuatan korupsi tersebut. Simpulan Gatotkaca, koruptor dan keluarganya adalah orang-orang egois dan sadis. Orang-orang yang sudah mati rasa.” Kata Kakek mengakhiri omongannya.

“Lho. Tapi kan keluarganya, istri atau anak-anaknya tidak tahu bahwa kepala keluarganya korupsi?” Protes Ali. Tentu saja, kemampuan berpikirnya belum setinggi orang-orang lain dalam ruangan itu. 

“Cu. Coba Cu jawab. Mungkinkah, Nenek yang tahu pekerjaan Kakek misalnya seorang pejabat Anu, tidak mengetahui berapa gaji Kakek? Berapa pendapatan Kakek per bulan?” Tanya Kakek.

“Pasti tahu, Kek. Tidak mungkin tidak tahu.” Jawab Ali.

“Tepat sekali.   Pasti Nenek akan curiga jika Kakek tiba-tiba membawa pulang sekian kilo emas.  Memperlihatkan rekening yang saldonya sakian milyar atau sekian ratus milyar. Pasti curiga dan bertanya-tanya. Nah, kalau Nenek diam saja. Malah berbahagia, bersuka-cita, berarti Nenek telah membiarkan bahkan mengizinkan Kakek untuk korupsi. Demikian juga halnya anak-anak Kakek yang sudah dewasa. Pasti bisa berpikir, tidak mungkin dengan jabatan seperti ini, pendapatan per bulan sekian, kok bisa Kakek kaya raya? Punya banyak rumah dan mobil mewah? Kalau tidak curiga, tidak heran, tidak bertanya-tanya, berarti keluarga Kakek egois, tidak memedulikan orang banyak dari sisi ekonomi, memang sudah mati rasa.” Kata Kakek. 

“Nenek tahu persis itu, apa syarat mendapatkan rezeki yang syariah.” Sambung Kakek sambil Kakek memandangi Nenek.

“Iya.  Harus halalan thayyiban. Halal sumbernya, halal cara mendapatkannya. Lalu, dimanfaatkan demi kemaslahatan, demi kebaikan bagi dirinya, keluarganya, dan orang banyak.” Jelas Nenek, singkat dan padat. 

Seluruh isi ruangan mengangguk-angguk. Menyetujui gagasan Kakek dan Nenek.

“Benar. Nah, ternyata, untuk mencegah perbuatan korupsi juga sangat gampang. Amat sangat gampang!” Kata Don dengan senyumnya yang khas. 

Suasana kembali hening. Seisi ruangan menunggu ide cemerlang Don tentang kiat jitu mencegah perbuatan korupsi.  Don ini benar-benar penuh kejutan. Loncatan idenya melesat, melewati batas pemikiran orang kebanyakan.

“Untuk mencegah perbuatan korupsi, perintahkan, instruksikan dengan tegas oleh para menteri, para pimpinan lembaga, terutama kepemerintahan dan yang terkait. Jika perlu melalui instruksi presiden! Agar, setiap pejabat memajang foto keluarga tercinta dengan ukuran menonjol dan warna mencolok. Tempelkan di dinding atau letakkan di meja ruang kerjanya. Nah, pasti, setiap ada bisikan, ada niat untuk korupsi, akan terlihat pajangan itu. ‘Jika saya korupsi, orang-orang tercinta ini yang akan menanggung akibatnya, kesengsaran yang tanpa batas’. Jika pejabat itu waras dan cinta keluarga, pasti akan membatalkan niat busuk tersebut!” Ardoni menghabiskan siswa air minumnya dan tersenyum lega.

Benar-benar luar biasa ide Ardoni. Kakek dan Nenek malahan seperti dikomando bertepuk tangan. Luar biasa. Namun, hari sudah mulai larut. Kakek mengedipkan matanya ke arah Ali. Ali sangat arif.

“Terima kasih, Bang Don. Terima kasih, Kek, Nek, dan Bang Edy. Malam yang luar biasa. Bang Don. Ada ide lain yang keren?” Tanya Ali sambil beranjak menyalami seluruh isi ruangan. Mencium punggung tangan Kakek dan Nenek.

Ardoni meleletkan lidah ke arah Ali. Entah apa maknanya. Tapi Ali malah tertawa.

“Ada. Kapan-kapan kita diskusi lagi, ya. Ide untuk memerangi pelanggaran lalu-lintas di negeri ini. Ternyata juga amat gampang. Tapi, jangan sekarang. Kapan-kapan ya!” Kata Ardoni sambil menutupkan telapak tangan ke mulutnya. Rupanya sudah mengantuk pula. 
Ali berucap salam dan menuju kamar tidur. Kembali, Ali mendapatkan penguatan tentang makna penting keluarga. Terngiang lagu lama yang konon merupakan soundtrack Film Serial Keluarga Cemara yang dinyanyikan kembali oleh Bunga Citra Lestari. Lagu itu juga sering disenandungkan Nenek ketika memasak atau melakukan aktivitas ringan lainnya. “Harta yang paling berharga adalah keluarga/Istana yang paling indah adalah keluarga/Puisi yang paling bermakna adalah keluarga/Mutiara tiada tara adalah keluarga ….”

Siniar Audio

1 comment
  1. Ide yang luar biasa dan amat mudah untuk dilakukan tampa perlu ketja keras dan menghabiskan biaya dalam pemberantasan korupsi dan memberi efek jera pada koruptor.. Tentunya bagi prmangku kekuasaan yang tidak memiliki niat untuk korupsi pastinya..👍

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *