“Apakah kita akan segera sampai, Kak?”
Pertanyaan itu membuatku tersadar. Kini, di hadapanku terhampar biru yang dihiasi dengan awan yang bergelantungan. Semilir angin menabrak kulit, mengibarkan rambut sebahuku. Desiran air yang berlenggak-lenggok membuat kapal yang kami pijaki ikut bergoyang. Di hadapanku, birunya laut yang ditimpa terik matahari, menyilaukan mata seakan langit dan laut beradu biru. Sejauh mata memandang, hanya biru yang terlihat. Sampai di sini, aku bersumpah akan memblokir warna biru dari hidupku.
Aku menoleh pada bocah laki-laki di sampingku. Tubuhnya pendek gempal yang kutebak usianya sekitar lima-enam tahunan. Ia hanya mengenakan singlet putih yang telah berubah warna menjadi coklat susu dan celana pendek berwarna merah, seperti celana anak SD di kotaku. Kuteliti wajahnya yang dilekati debu yang telah menempel lama dan ingus yang menggantung di hidungnya. Sekilas aku bergidik, geli. Ia tampaknya sangat menanti jawabanku, sembari menggigit permen merah berbentuk kaki di mulutnya.
“Mungkin satu atau dua hari lagi, mungkin juga seminggu, sebulan atau satu semester lagi. Aku juga tidak tahu! Kau pikir aku nakhodanya apa?!” Ia berjengit mendengar pekikanku. Lagi pula enak sekali bocah ini nanya-nanya, kembaran si Dora sepertinya lepas, nih. Mengganggu ketenangan orang lain saja, huh!
Bukannya sombong atau bagaimana, hanya saja dalam sejarah hidupku aku tidak pernah menyukai krucil-krucil dan semacamnya. Bagiku, mereka selalu menyebalkan dan hanya bisa caper dengan menangis dan merengek ke orang tuanya. Menyebalkan. Belum lagi ocehan dan kecerewetannya, tanya sana-tanya sini. Lagipula, bukan saatnya aku beramah tamah setelah apa yang terjadi. Di tengah lautan antah berantah dengan kapal kecil yang entah kapan akan berlabuhnya. Sepertinya aku harus melanjutkan mengasihani diriku di tempat lain, yang jauh dari jangkauan bocah kematian ini.
“Bukannya Kakak orang dewasa? Kata Ayah orang dewasa itu pintar dan tahu segalanya. Makanya Ayah berpesan agar aku sekolah yang rajin, menghormati orang tua, menyayangi hewan dan tumbuhan, juga rajin membaca buku. Biar cepat dewasa gitu lho, Kak.” Ia melepas tangkai permen dari mulutnya, lalu mengoceh tidak jelas yang memunculkan binar di kedua matanya. Di akhir kalimat, bocah itu berpose layaknya seorang Superman yang baru menyelamatkan dunia, naik ke atas peti di sebelahnya sambil berkacak pinggang, agak mendongak, ia memejamkan matanya lalu tersenyum menikmati sapuan angin.
Idih, aku memutar bola mataku. Jengah. Apa-apaan bocah ini, dia kira jadi dewasa itu enak kali, ya? Terserahlah. Pas dewasa juga dia juga bakalan ngerti.
“Eh bocah, gak usah sok tau, ya! Kamu kira orang dewasa itu kerjaannya cuma nanggepin bocah jadi-jadian kayak kamu. Mendingan tanya aja sama Mak, Bapak, Nenek atau Oppungmu, deh. Aku gak ada waktu nanggepin hal-hal gak penting kayak kamu ini.” Aku berdiri dan menatap tajam bocah itu sekilas sebelum berlalu dengan langkah seribu menuju sisi kanan kapal.
Sudah tiga hari aku berada di kapal ini. Kapal tua pengangkut biji cengkeh yang panjangnya 13,5 meter dan lebar 2,8 meter. Kemungkinan kapal ini juga dipakai untuk menangkap ikan oleh pemiliknya, karena terdapat peti ikan, jala, dan bau amis ikan yang beradu dengan wangi rempah cengkeh kering. Seumur hidup, aku baru pertama kali menaiki kapal. Karena, sebelumnya aku hanya pernah mendengarnya dari cerita teman-temanku setelah mereka berlibur ke pantai bersama Ayah dan Ibunya. Huh, boro-boro liburan, aku bahkan baru kali ini keluar dari tempurung yang selama ini mengekangku.
Aku menumpang kapal ini setelah berjalan selama tujuh jam dari desaku. Aku diberi tumpangan oleh seorang nelayan tua yang kasihan melihatku dengan baju yang koyak di mana-mana, basah entah oleh air atau keringat, badan penuh luka-luka dan kaki yang pincang. Sebelumnya, nelayan tua itu sudah menanyai aku, tapi aku enggan membuka mulut, aku belum siap untuk bercerita, cerita yang panjang dan melelahkan, aku hanya ingin pergi dari pulau ini, melupakan aroma cengkeh dan desiran angin yang selalu membelai lembut wajahku.
***
Gemericik air mengalir rendah dari batu yang kupakai untuk membilas pakaian, menjadi alunan musik yang menemaniku di tengah sungai kampungku. Dulu, air sungai ini jernih dan banyak ikan yang mematuk-matuk kaki ketika kita sedang mencuci atau mandi. Tapi sekarang, airnya keruh berwarna agak kecoklatan, sebab tambang pasir dan batu alam di hulu sungai. Sebenarnya, Ibu sudah melarangku mencuci di sini dan memberi alternatif untuk mencuci di sumur belakang rumah, namun karena sekarang sedang musim kemarau, air sumur surut dan aku kesulitan menimba airnya. Akhirnya, aku memutuskan untuk mencuci di sungai meskipun airnya keruh, yang penting tugasku selesai, sehingga Ibu berhenti menyuruhku, dan aku bisa bermain dengan teman seharian.
Sungai ini juga sedang surut, makanya aku mencuci ke tengah sungai, batu-batu berukuran sedang dan besar yang semula terendam mencuat, sangat pas dijadikan alas untuk mengucek baju kotor. Setelah selesai membilas dua ember pakaian kami, aku tidak langsung pulang. Terlanjur basah, sekalian saja aku mandi kilat dengan baju yang masih melekat. Tadinya, aku tidak berencana untuk mandi karena airnya keruh, sehingga aku tidak membawa baju ganti.
Aku memutuskan untuk pulang setelah awan hitam mulai menggelayut dan gemuruh sesekali menegur ringan. Aku angkat ember-ember cucianku, satu kujunjung di atas kepala yang ditahan oleh tangan kiri dan satu lagi kujinjing di tangan kanan. Kakiku mulai mendaki undakan di pinggir sungai, melewati perkebunan cengkeh dan karet. Selama perjalanan melewati perkebunan, aroma cengkeh yang khas membelai hidung. Menenangkan. Beberapa warga kampung termasuk ibu dan ayahku adalah pekerja buruh perkebunan cengkeh milik swasta itu.
“Oi, Marito, cucianmu hari ini banyak sekali,” seorang tetangga menegurku.
“Tidaklah Bou. Memang biasanya segini,” aku tersenyum sambil berlalu, melanjutkan perjalanan menuju rumah.
Sesampainya di rumah, aku tidak langsung menjemur pakaian, karena cuaca mendung. Aku dengan sigap mengangkat kayu bakar yang tadi pagi aku jemur di samping rumah dan menyusunnya di dekat perapian biasanya kami memasak. Kilatan petir disertai guntur telah bertalu-talu. Sebentar lagi, Ayah dan Ibu akan pulang. Aku menjerang air dan memasak nasi. Memotong-motong bayam yang barusan aku petik dari kebun kecil di belakang rumah serta sedikit cabai rawit. Aku hanya memanfaatkan yang ada untuk menemani makan malam hari ini.
Hari semakin sore, lereng bukit barisan itu semakin gelap ditutupi awan hitam. Aku mulai khawatir, karena orang tuaku tak kunjung pulang. Aku sudah menyiapkan kopi dan teh yang diseduh dengan cengkeh untuk menghangatkan tubuh. Nasi dan sayur juga telah siap di balik tudung saji. Titik demi titik air, jatuh menghujam di luar sana. Aku ingat, bahwa Ayah dan Ibu tidak membawa jas hujan ataupun payung. Tanpa pikir panjang, aku memakai jas hujan plastik dan menyambar payung berukuran sedang berwarna pelangi dari dinding dapur. Berlari menuju bukit perkebunan cengkeh di atas kampung.
Jalanan becek dan licin, tapi aku tetap berusaha mencapai perkebunan. Beberapa pekerja yang kutemui, bergegas untuk berteduh di pondok gudang cengkeh di tengah perkebunan, sementara beberapa langsung bergegas pulang.
“Tulang, ada lihat Ayah dan Ibu? Apakah mereka sudah pulang?” tanyaku pada seorang tetangga paruh baya yang biasa menjadi rekan buruh Ayah.
“Tadi bagian mereka memanen cengkeh di balik bukit, Tulang belum melihat mereka sejak berpisah tadi.”
Setelah mengucapkan terima kasih, aku bergegas pergi mendaki puncak bukit. Hujan semakin lebat, guntur semakin bergemuruh. Aku menggigil kedinginan. Dari sisi bukit, suara deburan sungai samar-samar terdengar mengerikan. Aku memanggil-manggil Ayah dan Ibu sambil menuruni sebalik bukit. Sebentar lagi malam akan menenggelamkan cahaya, aku semakin kalang kabut mencari Ayah dan Ibu. Sesekali aku jatuh dan terjerembab. Aku mendengar suara deburan air yang menerjang sesuatu dari balik bukit. Aku terus mengelilingi bukit-bukit perkebunan cengkeh itu hingga gelap benar-benar datang.
Khawatir tidak bisa pulang, aku memutuskan kembali ke rumah, mendaki bukit demi bukit menuju perkampunganku. Setibanya aku di puncak lereng bukit perkampungan, aku terpaku. Kampungku telah terendam oleh air keruh, yang terlihat hanya atap-atap rumah yang hampir tenggelam. Beberapa pohon cengkeh di sisi dekat sungai roboh, sedangkan debit sungai meluap. Aku linglung, masih mencerna apa yang aku lihat. Bagaimana ini, Ayah dan Ibu tidak aku temukan di mana pun. Kampungku raib ditelan air bah. Aku sendirian di tengah puncak bukit yang temaram ini. Air mataku jatuh lebih lebat daripada hujan di hari itu. Pilihannya hanya satu, berlari ke bukit-bukit yang lebih tinggi dan menjauhi aliran sungai.
Aku berlari tunggang-langgang. Menerobos gelap dan hujan dengan tubuh kedinginan. Tanpa arah, hanya mengandalkan insting dan peta perkebunan yang ada di kepalaku saja. Entah sudah berapa jauh aku berlari, berapa kali aku jatuh, dan seberapa banyak perih di tubuhku. Aku terus berlari, keluar dari perkebunan memasuki hutan yang sama sekali tak aku kenal. Semak belukar di antara kebun-kebun karet itu kuterobos. Hingga pada akhirnya, aku tidak tahu bagaimana aku terpeleset dan jatuh entah ke mana. Mataku masih mengeluarkan air dalam gelap. Aku menyerah, sepertinya lebih baik mati saja.
….
Aku merasakan tubuhku remuk redam, nyeri ketika digerakkan. Ketika membuka mata, yang pertama kali kulihat adalah langit-langit ruangan dan seng yang berkarat. Bau getah karet yang kurang sedap menusuk hidung. Aku beringsut duduk, bersiaga menyadari bahwa ini adalah tempat asing bagiku. Terdapat sebuah meja di sisi kanan tempat tidur, yang di atasnya terdapat nasi putih dan daun singkong tumbuk yang sudah dingin. Cahaya masuk ke dalam ruangan itu pertanda hari sudah berganti.
Meski tertatih, aku memaksakan diri untuk keluar. Kudapati ini adalah sebuah dangau kecil, yang kemungkinan besar bukan milik perkebunan. Seorang perempuan paruh baya, menghampiriku. “Sudah bangun? Sebaiknya kamu segera makan.”
Aku masih terdiam, perempuan itu membawa makanan di meja tadi dan memberikannya padaku. Aku hanya menerima dan makan dalam diam. Kemudian, seorang lelaki paruh baya juga datang membawa ember getah karet hasil panennya. Sepertinya mereka suami-istri, kulihat perempuan itu membantu membawakan ember getah karet lainnya, menaikkannya ke atas mobil pikap yang ada di sisi kanan dangau.
Selesai makan, kulihat mereka juga sudah selesai menaikkan semua ember getah ke atas mobil. Perempuan itu mengajakku naik. Dalam perjalanan, kami hanya diam membisu. Sementara, kulihat dari balik jendela mobil, tentang dunia yang belum pernah aku lihat sebelumnya. Sepanjang perbukitan, reranggas pohon karet terlihat menyedihkan, kemudian kami melewati pedesaan, hingga pada akhirnya aku pertama kali melihat secara langsung. Mobil berjalan di sisi pantai yang ditutupi dengan resor-resor mewah. Menghalangi indahnya pantai dari sisi jalan.
“Apa yang telah terjadi denganmu, Nak?” perempuan itu akhirnya buka suara. Aku masih diam. Perempuan dan lelaki itu saling tatap sejenak. “Apakah kamu masih ingat kamu berasal dari mana?” Kali ini aku menjawab pertanyaannya. Kusebut nama kampungku. Laki-laki itu seketika mendadak menekan rem. Sontak, aku terkejut. Mereka kembali berbicara lewat tatapan, kemudian menghela napas dan menoleh ke arahku.
“Kampung itu sudah tenggelam dengan air, Nak. Kabarnya tidak ada warga kampung yang selamat,” laki-laki itu kembali menjalankan mobil. Aroma asin pantai menjadi pahit ketika aku mendengar kabar itu. Aku menelan ludah. Tidak bereaksi. Aku sudah tidak punya tenaga untuk menangisi apa pun. Hanya terpaku diam sembari menatap ke luar jendela sampai kami tiba di sebuah pelabuhan. Laki-laki dan perempuan itu turun, aku pun ikut turun.
Sejurus kemudian, aku berpamitan kepada mereka dan mengucapkan terima kasih. Mereka awalnya memintaku untuk ikut dengan mereka saja, tapi aku menolak. Aku hanya ingin sendiri. Meski tak tahu akan pergi ke mana. Aku terus menyusuri pelabuhan itu. Sampai akhirnya, aroma cengkeh yang samar menyapa hidungku. Sekelebat ingatan memenuhi kepalaku. Tanpa sadar, aku berjalan menuju sebuah kapal berukuran sedang yang tengah memuat cengkeh. Aku berdiri di depan kapal itu, termenung menonton orang-orang yang lalu-lalang, mengangkut cengkeh.
Ketika kapal hendak menarik jangkar, aku segera naik dan menghampiri seorang bapak. Bapak itu bertanya, aku ingin ke mana, aku hanya menjawab ikut ke mana saja kapal itu akan berlabuh.
Di sinilah aku sekarang. Di atas kapal yang entah membawa aku ke mana. Masa-masa di kampungku masih membayangiku hingga saat ini. Memberi ketakutan dalam hatiku. Namun, aku hanya bisa pasrah, mengikuti takdir Tuhan ke mana pun Ia membawaku. Kapal itu masih berlayar, tak tahu kapan sampainya. Aku hanya menumpang ditemani aroma cengkeh, aroma ayah dan ibu, dan aroma kampungku. Berharap akan ada hal indah di depan sana.
(Padang, 23 Oktober 2025)