Banjir Hoaks dan Rendahnya Kualitas Literasi Digital Masyarakat
Banjir Hoaks dan Rendahnya Kualitas Literasi Digital Masyarakat

Banjir Hoaks dan Rendahnya Kualitas Literasi Digital Masyarakat

0 Shares
0
0
0

Salah satu fenomena populer di dunia maya adalah hoaks. Konon, istilah hoaks itu berasal dari bahasa Latin, hocus yang berarti mengelabui. Dalam bahasa Inggris, hoax berarti tidak asli. Dalam KBBI, hoaks berarti berita palsu. Fenomena penyebaran hoaks sebenarnya sudah sangat lama, yaitu tahun 1808. Namun, sejalan dengan perkembangan internet dan media sosial (medsos), di Indonesia hoaks mulai populer di Indonesia pada tahun 2012. Saat diadakannya pemilihan gubernur atau pilgub suatu wilayah) dan pilpres 2014. Merebaknya teknologi berbasis intelegensi buatan (AI) semakin menyuburkan penyebaran hoaks.

Untuk menyederhanakan pandangan tentang hoaks, diajukan rumusan sederhana bahwa hoaks itu adalah fitnah. Fitnah itu lebih kejam daripada pembunuhan. Nah, pembuat hoaks adalah pembuat fitnah atau pembunuh dan penyebar hoaks, orang-orang yang hobi share-share hoaks, juga penyebar fitnah. Pembunuh juga. Tidak berlebihan, rasanya, dalam https://www.liputan6.com, 21 April 2021 ada artikel yang berjudul “Hoaks Dianggap Lebih Kejam dari Pembunuhan”.

Meskipun demikian, penyebaran hoaks di Indonesia tetap marak. Jika diintip, apa motif para content creator penyebar hoaks, jawabannya sederhana: demi algoritma platform dan demi, cuan. Ungkapan bijak “Berani membela yang benar”, dibengkokkan menjadi “Berani membela yang bayar”. Yang diidam-idamkan para content creator adalah kuantitas views, like, dan subscribe selain upah tinggi dari para pemesan. Ujung-ujungnya juga, cuan. Pihak penyedia aplikasi (YouTube, TikTok, dan IG, misalnya) juga cenderung mendukung content creator karena mampu mengetahui kecenderungan para penikmat hoaks melalui metrik dan interaksi-sinyal. Tidak mengherankan, jika penikmat membuka aplikasi tersebut langsung muncul berbagai hoaks yang di-suggested dalam berbagai format, berita atau video. Akibatnya, berkembanglah gejala kecanduan.

Kecanduan hoaks dimanfaatkan, selain untuk memperoleh cuan, juga untuk menanamkan kebencian. Hal ini merebak ketika masa-masa kampanye menjelang pemilu, baik pilpres, pilgub, maupun di jajaran yang lebih rendah seperti pilkada. Tentu, saja tujuan tersebut seperti pisau bermata dua: menanamkan kebencian kepada pihak lawan di satu sisi dan di sisi lainnya menebar simpati kepada pihak kawan. Lebih tragis lagi, hoaks dapat dimanfaatkan untuk menebarkan kebencian terhadap pihak pemerintah yang sah. Silakan lacak kembali, misalnya di SindoNews, bagaimana kejinya Pemerintah AS menebar hoaks terhadap Saddam Hussein, Presiden Irak bahwa Irak memiliki senjata pemusnah massal (tahun 2003). Untuk masyarakat di dalam negeri sendiri (Irak), AS menebar berita kebencian agar penduduk Irak membenci presidennya sendiri. Akibatnya, AS dan sekutunya seakan-akan memperoleh restu dari sebagian penduduk Irak untuk menumbangkan Presiden Saddam Hussein. Setelah Saddam Hussein tumbang, kesengsaran justru merebak di kalangan penduduk Irak. Senjata pemusnah massal yang diteriakan AS tidak pernah ditemukan dan dibuktikan keberadaannya. 

Pemerintah Indonesia sudah berupaya keras memerangi hoaks melalui berbagai upaya. Mulai dari disahkannya Undang-Undang Informasi dan Transaksi Ekonomi (UU ITE) yang selalu diperbaharui (hingga 2024), kerja sama dengan penyedia platform seperti YouTube, TikTok, hingga kolaborasi Komdigi dengan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang bergerak dalam bidang penangkalan fitnah dan hoaks (misalnya MAFINDO, Masyarakat Anti Fitnah Indonesia). Ratusan hingga ribuan konten dihapus dan situs atau channel-channel penyebar hoaks diblokir. Namun, kenyataannya, penyebaran hoaks masih masif hingga sekarang. 

Padahal, untuk mengecek suatu berita itu palsu (hoaks) atau fakta itu sangat mudah. Yang paling praktis, silakan ketik di Google, misalnya “Cek fakta, Kim Jong-Un masuk Islam”. Sangat mudah. Namun, pengecekan tentang kebenaran berita yang “aneh, provokatif, sarat dengan ujaran kebencian” cenderung tidak dilakukan oleh masyarakat yang masih rendah kualitas literasi digitalnya. Ungkapan sederhana “Saring sebelum Sharing” merupakan hal bijak agar tidak terbawa arus untuk menyebarkan hoaks di medsos. Penyebar hoaks, seperti diungkapkan sebelumnya, ya identik dengan penyebar fitnah.

Untuk kalangan masyarakat awam, yang kurang melek permasalahan informasi, motif, pengolahan, dan penyebaran, rasanya pesimis untuk memerangi kecanduan akan hoaks. Kasarnya, mereka, apalagi yang sudah berusia 50 tahun ke atas, relatif gaptek, pikirannya sudah terenkapsulasi (meminjam istilah bidang farmasi). Ibarat kapsul: sudah dipenuhi dengan keyakinan subjektif yang susah diubah. Bagi seseorang yang sudah seperti ini, menemukan dan menikmati hoaks akan menimbulkan kepuasan. Untuk berbagi rasa puas, orang tadi akan share ke grup-grup tertentu. Tanpa disadari, sebenarnya bukan kepuasan yang berdampak positif terhadap kesehatan jiwanya tetapi justru menimbun kebencian dalam dirinya. Kebencian terhadap seseorang, suatu pihak atau kelompok yang sebenarnya orang atau pihak itu tidak mengenal, tidak ada sangkut-paut dengan dirinya. Benar-benar sia-sia. Tips untuk orang-orang seperti ini sebenarnya sangat sederhana: pikir ulang, apa keahlian khusus yang dimiliki. Misalnya, seorang guru Mapel Bahasa Indonesia (atau pensiunan). Nah, tentu bidang politik, bidang ekonomi, bidang kesehatan seperti masalah vaksinasi adalah bukan bidang yang dikuasai. Untuk apa, kita menikmati, membahas, dan akhirnya memprovokasi orang lain tentang bidang yang tidak kita kuasai? Ingatlah, ungkapan “Man behind the gun”, atau Jika sesuatu dikerjakan oleh orang yang bukan ahlinya, tunggulah saat kehancuran”. 

Permasalahan hoaks dan literasi digital adalah permasalahan pola pikir. Permasalahan akademik di lembaga pendidikan. Oleh sebab itu, lembaga pendidikan, terutama pendidikan menengah ke atas hingga perguruan tinggi, hendaknya juga memiliki andil untuk menangkal, memerangi, serta memberantas hoaks dan meningkatkan literasi digital. Poster-poster seperti “Saring sebelum Sharing”, “Hoaks adalah Fitnah dan Penyebar Hoaks adalah Penyebar Fitnah” merupakan alat yang cukup ampuh untuk memerangi hoaks dan meningkatkan literasi digital. Itu hanya salah satu contoh tindakan pengelola institusi pendidikan.

Pada akhirnya, permasalahan hoaks dan literasi digital sebenarnya kembali berpangkal pada kehidupan rumah tangga. Komunikasi yang bernas dan kritis tentang permasalahan hoaks dan literasi digital dengan anak-anak dan anggota keluarga hendaknya merupakan salah satu menu pada saat tertentu dalam komunikasi tersebut. Masyarakat terbentuk dari keluarga-keluarga. Jadi, keluarga yang sehat, terbebas dari penyebaran hoaks, dan memiliki literasi digital yang selalu up to date akan membentuk masyarakat yang sehat pula. 

Semoga, akhirnya para pembuat dan penyebar hoaks serta klik bait (clickbait) di negeri ini merasa jenuh karena dagangannya tidak laku lagi, lalu bangkrut. Di pihak lain, semoga masyarakat selalu memperbaiki kualitas literasi digitalnya. Dengan demikian, kehebohan, kerusuhan dan keresahan dalam masyarakat akibat hoaks-hoaks yang menguras energi, menghabiskan waktu, dan menghambat pembangunan tidak muncul lagi.

Siniar Audio

Citation is loading...
30 comments
  1. Nurzikri_25016149_NU : 09
    SIMAK-NS-025
    Teks ini memberikan penjelasan yang luas dan mendalam mengenai penyebab, dampak, serta solusi penyebaran hoaks. Penyampaian informasinya jelas dan argumentatif, dengan contoh konkret seperti kasus politik internasional dan kondisi masyarakat Indonesia. Bagian akhir teks yang mengaitkan peran keluarga sangat relevan, karena pendidikan dasar mengenai etika berinformasi memang bermula dari rumah.

  2. Shereen Aulia Deam (25016166) NU: 22
    Teks menggambarkan secara jelas bagaimana hoaks menyebar, dampaknya bagi kehidupan sosial, serta pentingnya literasi digital untuk menanggulanginya. Alur penjelasannya sistematis dan disertai contoh nyata yang membuat pembaca mudah memahami pesan yang disampaikan. Teks ini bukan hanya informatif, tetapi juga bersifat edukatif dan persuasif karena mengajak pembaca untuk lebih bijak serta bertanggung jawab dalam menggunakan media sosial.

  3. Hoaks lebih cepat menyebar karna rendahnya kualitas literasi digital masyarakat. Hoaks dengan cepat menyebar melalui berbagai media sosial dan mempengaruhi banyak orang. Tentu hal ini sangat perlu diberantas dengan meningkatkan kualitas literasi digital masyarakat.

    1. Teks ini menjelaskan berapa cepatnya hoaks tersebar berita berita yang belum tentu benar, bagaimana dampaknya, penyebab, dan hal hal apa yang dapat mencegah hoaks terjadi, dan banyak orang menggunakan berita yang tidak benar demi viewers dari media sosial

  4. RAHMAT AFDAL 25016153
    SIMAK 025 no urut 12
    Teks ini Menjelaskain bagai mana hoaks dapat menyebar secara cepat,hoaks bukan hanya sekedar informasi yang dibuat hanya ntuk dibaca semata tetapi pada saat ini telah menjadi kebiasaan untuk mencari cuan,melalui berita hoaks yang diseabarkan seseorang tersebut akan mendapatkan viwers y banyak,karena tanggapan pembaca seolah olah percaya terhadap informasi tersebut,namun hal ini bisa di hindari dengan meningkatkan minat literasi digital di setiap kalangan agar padasaat kita menerima informasi kita dapat menganalisis nya apakah informasi itu benar dan tidak menerimanya secara menta-mentah.

  5. Menurut saya, teks ini sangat relevan dengan kondisi masyarakat saat ini, di mana hoaks menjadi ancaman serius bagi persatuan dan kesehatan emosional publik. Penjelasan penulis mudah dipahami karena menggunakan contoh nyata, baik dari lingkungan global maupun pengalaman dalam negeri. Teks ini juga menyoroti peran media sosial dan motivasi ekonomi yang membuat kreator konten rela menyebarkan kebohongan demi cuan dan popularitas. Penyampaian pesan bahwa penyebar hoaks identik dengan penyebar fitnah terasa kuat dan menyentakkan kesadaran pembaca.
    Selain itu, solusi yang ditawarkan cukup realistis, baik dari sisi pemerintah, lembaga pendidikan, maupun keluarga. Penulis menegaskan bahwa literasi digital harus dibangun sejak lingkungan terdekat, termasuk komunikasi kritis dalam keluarga. Ajakan untuk berpikir sebelum menyebarkan informasi menjadi pesan moral penting agar masyarakat tidak mudah terprovokasi. Secara keseluruhan, teks ini efektif mengajak masyarakat lebih bijak dalam bermedia dan tidak menjadi bagian dari penyebaran kebencian.

  6. RATI PUTRI UTAMI 25016155
    SIMAK-025 NU: 13
    Isi teks tersebut sangat menekankan bahwa rendahnya literasi digital menjadi akar utama maraknya penyebaran hoaks di masyarakat. Penyajian informasinya jelas karena menunjukkan hubungan langsung antara kurangnya kemampuan verifikasi informasi dengan cepatnya hoaks menyebar. Teks ini juga memberikan gambaran bahwa solusi yang diperlukan bukan hanya teknologi, tetapi juga peningkatan pendidikan dan kesadaran masyarakat. Secara keseluruhan, isi teks relevan dan menggugah pentingnya membangun budaya digital yang lebih kritis dan bertanggung jawab.

  7. Cerita ini menyoroti masalah penting di era digital, yaitu mudahnya hoaks menyebar karena rendahnya kemampuan masyarakat dalam memilah informasi. Penulis berhasil menunjukkan bahwa kurangnya literasi digital membuat orang cepat percaya tanpa memeriksa kebenaran, sehingga hoaks terus berkembang. Pesannya kuat dan relevan: masyarakat perlu lebih kritis, berhati-hati, dan belajar memverifikasi informasi sebelum membagikannya. Cerita ini efektif sebagai pengingat agar kita menjadi pengguna digital yang lebih cerdas dan bertanggung jawab.

  8. teks ini menggambarkan dengan jelas betapa seriusnya masalah hoaks di Indonesia dan bagaimana hal itu dipengaruhi oleh kepentingan pribadi para pembuat konten. Saya merasa upaya pemerintah memang penting, tetapi kesadaran tiap individu untuk lebih kritis juga tidak kalah berpengaruh. Bacaan ini membuat saya semakin sadar bahwa menjaga literasi digital adalah kunci agar kita tidak ikut terjebak dalam arus informasi palsu.

  9. Teks ini secara tajam mengkritisi rendahnya literasi digital yang menjadi biang keladi masifnya penyebaran hoaks, yang didefinisikan sebagai fitnah berujung cuan. Masalah utama bukan pada kurangnya regulasi, melainkan pada keengganan masyarakat untuk melakukan cek fakta, menunjukkan adanya kecanduan dan preferensi terhadap konten yang provokatif. Solusi yang paling efektif adalah mengatasi masalah ini sebagai isu akademik dan pola pikir, dengan lembaga pendidikan dan, yang paling penting, komunikasi kritis dalam keluarga, menjadi benteng utama untuk menanamkan budaya “Saring sebelum Sharing”.

  10. Menurut saya, teks tersebut menunjukkan bahwa hoaks bukan hanya masalah teknologi, tetapi juga masalah pola pikir masyarakat. Banyak orang masih mudah percaya tanpa mengecek kebenaran, sehingga hoaks terus hidup dan berkembang. Rendahnya literasi digital membuat masyarakat rentan dimanipulasi oleh pihak yang ingin mencari keuntungan. Karena itu, sikap kritis sangat diperlukan agar kita tidak menjadi bagian dari penyebarnya.
    Saya juga setuju bahwa pendidikan dan keluarga memegang peran penting dalam memerangi hoaks. Kebiasaan sederhana seperti “saring sebelum sharing” harus dibiasakan sejak dini. Selain itu, masyarakat perlu lebih sadar bahwa menyebarkan hoaks sama saja memperkuat kebencian dan merugikan banyak orang. Dengan peningkatan literasi digital, harapannya hoaks tidak lagi mudah meresahkan masyarakat.

  11. Dalam teks ini dijelaskan bahwa hoaks adalah berita palsu yang sangat berbahaya karena bisa memicu kebencian dan menyesatkan banyak orang. Penulis menunjukkan bagaimana hoaks mudah menyebar lewat media sosial dan sering dimanfaatkan dalam politik. Walaupun pemerintah sudah berusaha menangkal hoaks, masyarakat tetap perlu meningkatkan literasi digital dan membiasakan diri untuk mengecek kebenaran informasi sebelum membagikannya. Secara keseluruhan, teks ini mengingatkan pentingnya berpikir kritis agar tidak menjadi penyebar fitnah di dunia maya.

  12. Esai ini sangat mencerahkan dalam mengupas korelasi antara hoaks dan tantangan literasi digital masyarakat.
    Analisis motif ekonomi dan politik di balik penyebaran hoaks disajikan secara tajam dan mudah dipahami.
    Solusi yang ditawarkan, mulai dari keluarga hingga institusi pendidikan, terasa sangat praktis dan mendasar.
    Secara keseluruhan, ini adalah seruan yang penting bagi peningkatan kesadaran kritis di ruang digital.

  13. Teks ini membuka mata bahwa masalah hoaks bukan hanya soal berita palsu, tetapi soal cara berpikir masyarakat yang kurang kritis. Penjelasannya juga jelas dan mudah dipahami, terutama tentang hubungan hoaks dengan algoritma, politik, dan literasi digital yang rendah. Teks tersebut mengingatkan bahwa memerangi hoaks bukan tugas pemerintah saja, tetapi juga keluarga dan sekolah. Pesannya dari teks tersebut adalah berhenti menyebarkan sebelum memastikan kebenarannya, karena hoaks hanya menimbulkan kebencian dan merugikan banyak orang.

  14. Teks ini menjelaskan kenapa hoaks bisa menyebar dengan cepat, terutama karena banyak orang belum terbiasa ngecek ulang informasi. Contoh-contoh yang dipakai penulis juga bikin saya lebih mudah memahami bagaimana hoaks bisa memengaruhi cara orang berpikir. Setelah membacanya, saya jadi sadar kalau literasi digital itu penting supaya kita nggak asal percaya dan langsung sebar berita.

  15. mengingatkan betapa hoaks bukan sekadar “berita bohong”, tapi ancaman sosial yang bisa memicu kerusuhan dan menghambat pembangunan. Saya setuju bahwa akar masalahnya adalah literasi digital dan pola pikir, yang harus ditangani dari keluarga dan pendidikan. Namun, solusi seperti kampanye saja belum cukup perlu regulasi lebih ketat pada platform dan pendidikan media literacy sejak

  16. Penulis juga secara tegas menekankan pentingnya literasi digital dalam menangkal hoaks. Pesan “Saring sebelum Sharing” diangkat kembali sebagai pedoman praktis, sekaligus kritik terhadap rendahnya kemampuan sebagian masyarakat dalam memverifikasi informasi. Penekanan pada peran lembaga pendidikan dan pemerintah dalam memerangi hoaks, serta tantangan yang dihadapi generasi tua yang kurang melek teknologi, menunjukkan bahwa persoalan ini membutuhkan upaya multipihak.

  17. Menurut saya, teks ini sangat aktual dan relevan dengan kondisi masyarakat saat ini yang sangat rentan terhadap paparan hoaks. Penjelasan tentang motif ekonomi dan politik di balik penyebaran hoaks memberikan wawasan yang jelas dan logis. Teks ini juga secara tegas mengingatkan bahwa hoaks tidak hanya menyesatkan, tetapi juga berpotensi merusak persatuan sosial. Pesan moral yang dibangun terasa kuat dan menyentuh.

  18. essay ini menekankan bahwa hoaks dan rendahnya literasi digital merupakan masalah serius yang dapat memicu kesalahpahaman dan konflik. Saya menyadari pentingnya peran setiap individu untuk lebih kritis dalam menerima dan membagikan informasi. Upaya meningkatkan literasi digital harus dimulai dari keluarga dan pendidikan agar masyarakat lebih cerdas, bijak, dan tidak mudah terprovokasi.

  19. Teks ini menyoroti maraknya hoaks di Indonesia yang dipicu oleh perkembangan media sosial, rendahnya literasi digital, serta motif cuan dari para pembuat konten. Hoaks digunakan untuk memprovokasi, menanamkan kebencian, bahkan memengaruhi politik. Meskipun pemerintah sudah melakukan berbagai upaya seperti UU ITE dan kerja sama dengan platform digital, hoaks tetap menyebar karena masyarakat malas memeriksa fakta. Penulis menekankan bahwa pendidikan baik di sekolah maupun dalam keluarga menjadi kunci utama untuk membentuk masyarakat yang kritis dan tidak mudah tertipu hoaks.

  20. Menurut saya teks ini sangat relavan dengan keadaan sekarang, banyaknya berita berita hoaks yang beredar. Penjelasan dari teks ini sangat jelas dan mendalam mengenai pengertian, penyebap, dampak serta solusi untuk penyebaran hoaks. Alur cerita pun sangat runtut dan sistematis dengan disertai contoh yang nyata yang terjadi sehingga pembaca mudah memahami informasi dan pesan yang dijelaskan. Pelajaran yang dapat diambil yaitu, bijak lah dalam menerima dan mengirim informasi, sebelum mempercayai maka cari tahu dahulu kebenarannya, serta perbaiki dan tingkatkan lagi kualitas literasi digital agar tidak terjadi lagi kerusuhan dan keresahan akibat dari berita hoaks yang beredar.

  21. Teks ini secara tepat mengidentifikasi akar permasalahan banjir hoaks, yaitu rendahnya literasi digital dan motif ekonomi-politik di balik penyebarannya. Analisis bahwa hoaks ibarat “fitnah” yang lebih kejam daripada pembunuhan sangat relevan, karena dampaknya dapat memecah belah masyarakat, mengikis kepercayaan pada institusi, dan bahkan memicu konflik sosial. Upaya pemerintah melalui regulasi dan blokir konten, seperti yang diuraikan, memang perlu tetapi tidak cukup karena hanya bersifat kuratif dan seringkali tertinggal dari kecepatan penyebaran hoaks. Oleh karena itu, fokus harus bergeser ke tindakan preventif dengan membangun ketahanan masyarakat melalui pendidikan literasi digital sejak dini, agar mereka mampu berpikir kritis dan tidak mudah terpancing oleh konten provokatif.

  22. Menurut saya teks ini kaya akan gagasan dan refleksi sosial, tetapi gaya bahasanya sering bercampur antara ilmiah, persuasif, dan emosional. Struktur pembahasan sudah cukup runtut, meskipun beberapa paragraf terasa panjang dan padat sehingga bisa dipersingkat agar lebih fokus. Penggunaan rujukan media dan contoh kasus aktual memperkuat argumen, tetapi akan lebih kuat lagi jika disertai data penelitian atau sumber akademik. Dengan penyempurnaan pada konsistensi gaya bahasa dan ketepatan argumentasi, teks ini berpotensi menjadi tulisan ilmiah populer yang tajam dan bernilai edukatif.

  23. Teks ini disusun dengan argumentasi yang relevan dengan kondisi saat ini maraknya hoaks di medis sosial. Contoh – contoh yang digunakan dalam teks ini sangat efektif untuk menegaskan kita dapat hoaks ini sangat serius bagi masyarakat. Teks ini juga informatif dan menggugah kesadaran pembaca tentang pentingnya literasi digital.

  24. Menurut saya, tulisan ini sangat relevan dengan kondisi masyarakat saat ini. Penulis berhasil menunjukkan bahwa masalah hoaks bukan sekadar persoalan teknologi, tetapi lebih pada pola pikir dan sikap kritis masyarakat dalam menerima informasi. Penekanan pada peran pendidikan dan keluarga sangat tepat, karena literasi digital seharusnya ditanamkan sejak dini dan dibiasakan dalam kehidupan sehari-hari. Saya sependapat bahwa kebiasaan “saring sebelum sharing” perlu terus digaungkan agar masyarakat tidak mudah terprovokasi. Dengan meningkatnya kesadaran dan kemampuan berpikir kritis, hoaks diharapkan tidak lagi laku, sehingga ruang digital menjadi lebih sehat dan bermanfaat.

  25. Teks laporan ini membahas fenomena hoaks yang semakin marak seiring perkembangan internet, media sosial, dan teknologi Al. Hoaks dipandang sebagai bentuk fitnah yang berbahaya karena dapat menimbulkan kebencian, konflik sosial, bahkan dimanfaatkan untuk kepentingan politik dan ekonomi. Meskipun pemerintah telah melakukan berbagai upaya penanggulangan, penyebaran hoaks masih masif akibat rendahnya literasi digital masyarakat. Oleh karena itu, peningkatan literasi digital perlu dimulai dari lembaga pendidikan hingga lingkungan keluarga.

  26. Teks ini berhasil mengangkat isu hoaks dan literasi digital dengan sudut pandang yang kritis serta reflektif. Penulis tidak hanya menyoroti gejala permukaan berupa maraknya penyebaran hoaks, tetapi juga mencoba menelusuri akar persoalan yang lebih dalam, yakni pola pikir, kepuasan psikologis, dan kurangnya kesadaran akan batas keahlian diri. Penekanan bahwa hoaks dapat menimbulkan kebencian yang tidak produktif merupakan pengingat penting bahwa disinformasi bukan sekadar masalah informasi salah, melainkan juga masalah sosial dan emosional. Oleh karena itu, persoalan hoaks sebaiknya dipahami sebagai masalah struktural dan kultural, bukan semata-mata persoalan generasi.
    Peran lembaga pendidikan dan keluarga sebagai garda terdepan literasi digital merupakan kekuatan utama teks ini. Gagasan bahwa keluarga menjadi fondasi pembentukan sikap kritis sangat relevan, karena nilai-nilai berpikir rasional dan etis pertama kali ditanamkan di ruang domestik.
    .

  27. Nama: Naila Arijta Nadlif
    NIM: 25036027
    Prodi: Kimia NK
    Matkul: Bahasa indonesia
    Sesi: 202511280250
    teks ini bernilai edukatif dan persuasif karena tidak hanya memberi pengetahuan, tetapi juga mengajak pembaca untuk berpikir kritis, bijak bermedia sosial, dan bertanggung jawab dalam menyebarkan informasi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *