Di pelataran takdir, darah disiram janji
Dang Anom, sekuntum mawar suci
dipetik sebelum mekar, disunting tak rela
oleh tangan bertakhta, tak berhati manusia
Megat Sri Rama, lelaki berpedang setia
menyulam cinta di medan derita
Namun cintanya dirampas tanpa suara
oleh gelar yang berselimut dosa
Tak lagi terdengar ratap panglima
Air matanya telah lama dikubur maruah
yang diinjak-injak demi nafsu singgasana
Hatinya hancur bukan karena kalah,
tetapi karena tak mampu melawan kuasa
Dang Anom…
Bukan tak setia, bukan tak cinta
tapi tubuhnya bukan lagi miliknya
dipaksa tunduk dalam istana nestapa
di antara dinding emas, ia meratap sunyi
Megat…
Membawa dendam di bilah keris
bukan untuk membunuh cinta
tapi menuntut harga yang hilang
pada malam direnggutnya cahaya
Sultan boleh punya istana
tapi bukan jiwa
bukan jiwa...
Siniar Audio
Citation is loading...
9 comments
Keren pak 👏👏👏👍
Setelah saya membaca puisi yang bapak buat, saya sangat tersentuh oleh bait demi bait hingga tak terasa saya telah membacanya hingga akhir. Saya pernah belajar dengan bapak di kelas, disana bapak bercerita bahwa bapak trouma membuat puisi, namun setelah saya lihat karya bapak ini, saya tidak percaya. Mana ada sesorang trouma namun tulisanya sebagus ini. Bapak adalah orang terbaik yang memberikan motivasi bagi saya dalam menulis. Karya bapak ini merupakn bukti bahwa bapak bisa dan sangat hebat.
Puisi “Panglima Tanpa Pelamin” karya Salihin, M.Pd., Gr. adalah sebuah karya yang sangat kuat dan emosional, menggambarkan kisah tragis seorang panglima yang setia dan cinta, namun dianiaya oleh kekuasaan.
Teks tersebut menyatakan bahwa puisi itu sangat mengharukan karena bahasanya menyayat dan membuat tragedi terasa nyata. Konflik antara cinta dan kekuasaan digambarkan dengan kuat hingga meninggalkan kesan mendalam. Puisi itu juga mengajak pembaca merenungkan kerentanan manusia di hadapan kekuasaan. Secara keseluruhan, karya tersebut indah namun memilukan, bagaikan luka yang diwujudkan dalam kata-kata.
Puisi ini benar-benar menyinggung soal bagaimana kekuasaan kadang bisa meremukkan hal-hal yang seharusnya suci, seperti cinta dan kemerdekaan diri. Dang Anom sama Megat Sri Rama itu korban sistem yang mengikuti aturan sepihak, di mana perasaan rakyat kecil bahkan seorang panglima dianggap tidak ada artinya dibanding ambisi penguasa. Yang bikin ngenes, Megat nggak bisa melawan secara terbuka, bukan karena takut, tapi karena strukturnya terlalu kuat buat dilawan sendirian. Jadi dendamnya disimpan, dan itu justru bikin ceritanya terasa lebih berat dan manusiawi.
Puisi ini bener-bener menyinggung soal bagaimana kekuasaan kadang meremukkan hal-hal yang seharusnya suci, kayak cinta dan kemerdekaan diri. Dang Anom sama Megat Sri Rama itu korban sistem yang ngejalanin aturan sepihak, di mana perasaan rakyat kecil bahkan seorang panglima dianggap nggak ada artinya dibanding ambisi penguasa. Yang bikin ngenes, Megat tidak bisa melawan secara terbuka, bukan karena takut, tapi karena strukturnya terlalu kuat buat dilawan sendirian. Jadi dendamnya disimpan, dan itu justru bikin ceritanya terasa lebih berat dan manusiawi.
Puisi ini adalah sebuah kisah yang menyentuh tentang bagaimana kekuatan dan kekuasaan mutlak bisa menghancurkan cinta sejati. Dari puisi ini dapat diketahui penggambaran Dang Anom yang direbut paksa oleh Sultan yang tak berhati dan penderitaan Megat Sri Rama sebagai kekasih Dan Anom yang tak berdaya sehingga terasa emosional. Lita dapat melihat ketidakadilan di mana harga diri diinjak-injak hanya demi memuaskan nafsu singgasana.
Namun, di tengah kehancuran itu, muncul perlawanan yang kuat. Megat Sri Rama memilih untuk bangkit membawa dendam dan menuntut harga yang hilang, bukan sekadar membalas cinta, tetapi menegakkan keadilan. Penutup puisi ini sangat tajam dan mengena: “Sultan boleh punya istana, tapi bukan jiwa.” Ini mengingatkan kita bahwa martabat dan kebebasan batin seseorang tidak dapat dibeli atau dikuasai oleh kekayaan atau kekuasaan duniawi.
Puisi ini sangat kuat menggambarkan konflik antara cinta dan kuasa. Kisah Dang Anom menunjukkan betapa lemahnya posisi perempuan di bawah tekanan kekuasaan. Sultan digambarkan sebagai sosok kejam, haus nafsu, dan tanpa maruah. Megat Sri Rama adalah simbol kesetiaan yang harus menelan kehancuran hatinya. Dendam Megat bukan hanya cinta, tetapi menuntut kembali harga diri yang direnggut. “Darah disiram janji” menyiratkan pengkhianatan di bawah sumpah. Bagian terbaiknya adalah penekanan bahwa kuasa tidak bisa membeli jiwa. Puisi ini adalah kritik tajam terhadap penyalahgunaan wewenang dan tirani.
Puisi ini sukses menciptakan narasi yang padat dan emosional, menyentuh hati dalam merayakan cinta yang tidak lekang oleh penderitaan fisik, dan menantang legitimasi kekuasaan yang dibangun di atas ketidakadilan.