Saat Humor Tidak Lagi Sama Ketika Kita Bertumbuh
Saat Humor Tidak Lagi Sama Ketika Kita Bertumbuh

Saat Humor Tidak Lagi Sama Ketika Kita Bertumbuh

0 Shares
0
0
0

Banyak orang menyadari bahwa lelucon yang dulu terasa sangat lucu kini tidak lagi memicu tawa seperti sebelumnya. Perubahan ini bukan sekadar soal selera, tetapi mencerminkan cara pikir, pengalaman, dan kebutuhan emosional yang berkembang seiring bertambahnya usia. Humor tidak hanya soal hiburan, tetapi juga indikator bagaimana seseorang memahami dunia dan mengelola tekanan hidupnya. Karena itu, perubahan humor dapat dibaca sebagai bagian dari proses bertumbuh menjadi dewasa.

Di usia muda, humor yang paling mudah dinikmati adalah humor konyol yang tidak memerlukan penjelasan. Jenis humor ini mengandalkan kejutan dan ketidakmasukakalan, sehingga terasa menyenangkan bagi remaja yang cenderung mencari sensasi spontan. Namun, selera ini berubah ketika seseorang memasuki usia dewasa. Orang dewasa lebih menghargai humor yang memiliki alur dan penyelesaian logis. Pola ini terlihat konsisten dalam berbagai penelitian yang menegaskan bahwa kemampuan berpikir yang semakin matang membuat individu mencari tawa yang lebih terstruktur dan mudah dipahami.

Perubahan ini juga dipengaruhi oleh tekanan hidup yang semakin besar pada masa dewasa awal. Tuntutan pekerjaan, relasi, kemandirian, tanggung jawab keluarga, dan ketidakpastian masa depan membuat humor beralih fungsi dari sekadar hiburan menjadi alat pengatur stres. Humor yang membantu menenangkan pikiran, memberikan perspektif baru, atau mencairkan situasi yang tegang menjadi lebih dihargai. Karena itu, dewasa awal lebih memilih humor yang relevan dengan pengalaman hidup dan dapat memberikan rasa lega.

Meskipun humor memiliki manfaat positif, gaya humor yang tidak sehat masih banyak ditemukan pada kelompok dewasa muda. Misalnya, humor agresif yang digunakan untuk mengejek orang lain atau humor merendahkan diri yang dipakai untuk menutupi rasa tidak aman. Kedua gaya ini berkaitan dengan tingkat tekanan psikologis yang lebih tinggi. Penelitian menunjukkan bahwa laki-laki lebih sering menggunakan humor agresif, sedangkan perempuan cenderung menghindarinya karena mempertimbangkan dampak emosional dan sosial. Perbedaan ini menunjukkan bahwa kematangan humor tidak hanya dipengaruhi usia, tetapi juga norma sosial dan pengalaman pribadi.

Seiring bertambahnya usia, humor semakin sering digunakan sebagai mekanisme koping. Orang dewasa yang lebih tua cenderung memiliki kemampuan mengatur emosi yang lebih stabil, sehingga humor menjadi alat yang efektif untuk menghadapi situasi sulit. Penelitian pada kelompok lanjut usia menunjukkan bahwa humor mampu mengurangi kecemasan dan meningkatkan ketenangan. Kematangan emosional membuat humor tidak lagi digunakan untuk menghindari masalah, tetapi sebagai cara memahami situasi dengan lebih proporsional.

Selain fungsi emosional, humor juga berperan dalam menjaga hubungan sosial. Jaringan pertemanan biasanya mengecil seiring bertambahnya usia, sehingga humor menjadi alat penting untuk menjaga kedekatan dengan orang lain. Studi pada lansia di Rumania menunjukkan bahwa perempuan yang menggunakan humor untuk berinteraksi cenderung memiliki tingkat kesepian yang lebih rendah. Sementara itu, laki-laki yang kehilangan pasangan hidup justru mengalami tingkat kesepian emosional yang lebih tinggi, menandakan bahwa humor memiliki fungsi sosial yang berbeda bagi setiap kelompok.

Salah satu temuan yang menarik adalah bahwa rasa humor sebagai sifat kepribadian cukup stabil sepanjang hidup. Meskipun kemampuan berpikir cepat yang diperlukan untuk memahami humor kompleks dapat menurun, kemampuan menikmati humor tetap bertahan. Bahkan program pelatihan humor terbukti dapat meningkatkan kemampuan seseorang untuk menertawakan diri sendiri dan melihat sisi positif dalam hidup. Hal ini menunjukkan bahwa humor dapat terus dikembangkan sebagai bagian dari strategi menjaga kesehatan mental.

Pada akhirnya, perubahan selera humor bukan tanda seseorang kehilangan sisi cerianya, tetapi bagian alami dari perkembangan hidup. Humor tumbuh mengikuti pola pikir, pengalaman, dan kebutuhan yang terus berubah. Tawa yang dulu muncul karena kekonyolan mungkin digantikan oleh tawa karena pengertian dan kedewasaan. Perubahan ini menunjukkan bahwa humor tidak sekadar tentang lucu atau tidak lucu, tetapi tentang bagaimana seseorang memahami diri sendiri dan dunia di sekitarnya.

Daftar Referensi
  • Angelia Chandra Resta, C., Agustina, & Wati, L. (2023). Perbedaan humor styles pada dewasa awal pengguna media sosial ditinjau dari jenis kelamin. Jurnal Arkhehttps://doi.org/10.24912/wk91qk20
  • Giapraki, M., Moraitou, D., Pezirkianidis, C., & Stalikas, A. (2020). Humor in aging: Is it able to enhance wellbeing in community dwelling older adults? Psychology: The Journal of the Hellenic Psychological Society, 25(1), 128–150. https://doi.org/10.12681/psy_hps.25342
  • Momtaz, Y. A., Ansari, M., & Foroughan, M. (2020). Humor training program on sense of humor among older adults: A randomized controlled trial. The Open Psychology Journal, 13(1), 333–340. https://doi.org/10.2174/1874350102013010333
  • Ruch, W., McGhee, P. E., & Hehl, F. J. (1990). Age differences in the enjoyment of incongruity-resolution and nonsense humor during adulthood. Psychology and Aging, 5(3), 348–355. https://doi.org/10.1037/0882-7974.5.3.348
  • Schiau, I. (2016). Humor, loneliness and interpersonal communication: A quantitative study of Romanian older adults. Romanian Journal of Communication and Public Relations, 18(1). https://doi.org/10.21018/rjcpr.2016.1.204

Siniar Audio

Citation is loading...
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *