Rerambut yang merambati sajak-sajak Tuan
Rukhyat menggubah tafsir iman
Aksara yang semula tegak, menciut oleh keliman
Plano tak mengenal nila, sedang bahasa Tuan mengabur makna
Keliru Tuan menilai frasa dalam “cinta”.
Kitab yang Tuan lahap sejatinya tidak punya dialektika,
apalagi semiotika, melainkan hanya romansa binalita.
Tuan pun beretorika bahwa bahasa adalah “arbiter-ria”,
kemudian bersabda tentang bahasa cinta.
Puan-puan di balik kebaya terpesona,
karena sejatinya mereka tak pernah menyapa aksara.
Mereka hanya dininabobokan melalui lidah yang bersilat membentuk bahasa dusta,
tak pernah mengira bahwa tutur yang indah mempunyai makna yang kedua, ketiga, dan seterusnya.
Hari menjemput pekan, mendulang bulan, menjadikannya tahun.
Puan terbelenggu syair Tuan yang pandirnya minta ampun!
Tuan yang mabuk meracau kepada bulan yang rimbun,
“Aduhai sayang, kau takluk pada diksi yang kutenun,”
sembari terbahak di muka Puan dengan mulut yang berbau.
Lalu, Tuan berlalu dengan bahasa tubuh yang jemu
retinanya nyalang mengintai Puan-puan bersetelan I can see you,
sedang Tuan tak paham bagaimana pula aksara berdiri tunggal bahkan berdusta pada tuturan.
Tuan tergugu saat menyebut dusta di ujung lidahnya yang kelu,
Tuan menyalak serupa binatang, “Ada apa dengan bahasa kalian?!”
Puisi yang ditulis oleh Siti Hardianti Harahap ini mendapatkan Juara 3 pada Festival Bulan Bahasa (FBB) Universitas Sriwijaya Tahun 2025
Siniar Audio
Citation is loading...
2 comments
Puisi “Bahasa-Bahasa Tuan” menghadirkan kritik tajam tentang bagaimana bahasa dapat menjadi alat manipulasi ketika digunakan oleh sosok yang merasa lebih tinggi secara intelektual maupun sosial. Melalui metafora, ironi, dan citraan yang kuat, penyair menggambarkan sosok Tuan yang merayu, menipu, dan membelenggu Puan lewat retorika kosong yang tampak indah tetapi miskin makna. Kekuatan puisi ini terletak pada kemampuannya menyingkap lapisan-lapisan makna dalam bahasa—bahwa tutur tidak pernah hanya sekadar kata, tetapi dapat menjadi senjata yang mengaburkan kebenaran dan kebaikan. Dengan diksi yang padat dan penuh satir, puisi ini menyentil pembaca untuk lebih kritis terhadap bahasa yang terdengar manis namun sebenarnya menyembunyikan dusta dan kekuasaan.
Puisi yang sangat bagus, karena menurut saya puisi ini terasa seperti tamparan halus untuk orang-orang yang pandai bicara tapi tidak benar-benar memahami apa yang mereka ucapkan. Sosok “Tuan” digambarkan penuh gaya dengan bahasanya sendiri, tapi justru terlihat semakin kosong ketika kata-katanya mulai dipertanyakan. Yang menarik, puisi ini juga menunjukkan bagaimana orang bisa mudah terpesona oleh bahasa yang indah tanpa mengecek makna di baliknya. Rasanya penyair ingin mengingatkan bahwa tidak semua keindahan bahasa membawa kebenaran, dan kadang justru menyimpan tipu daya.