Bahasa-Bahasa Tuan
Bahasa-Bahasa Tuan

Bahasa-Bahasa Tuan

0 Shares
0
0
0
Rerambut yang merambati sajak-sajak Tuan
Rukhyat menggubah tafsir iman
Aksara yang semula tegak, menciut oleh keliman
Plano tak mengenal nila, sedang bahasa Tuan mengabur makna

Keliru Tuan menilai frasa dalam “cinta”.
Kitab yang Tuan lahap sejatinya tidak punya dialektika,
apalagi semiotika, melainkan hanya romansa binalita.
Tuan pun beretorika bahwa bahasa adalah “arbiter-ria”,
kemudian bersabda tentang bahasa cinta.

Puan-puan di balik kebaya terpesona,
karena sejatinya mereka tak pernah menyapa aksara.
Mereka hanya dininabobokan melalui lidah yang bersilat membentuk bahasa dusta,
tak pernah mengira bahwa tutur yang indah mempunyai makna yang kedua, ketiga, dan seterusnya.

Hari menjemput pekan, mendulang bulan, menjadikannya tahun.
Puan terbelenggu syair Tuan yang pandirnya minta ampun!
Tuan yang mabuk meracau kepada bulan yang rimbun,
“Aduhai sayang, kau takluk pada diksi yang kutenun,”
sembari terbahak di muka Puan dengan mulut yang berbau.

Lalu, Tuan berlalu dengan bahasa tubuh yang jemu
retinanya nyalang mengintai Puan-puan bersetelan I can see you,
sedang Tuan tak paham bagaimana pula aksara berdiri tunggal bahkan berdusta pada tuturan.
Tuan tergugu saat menyebut dusta di ujung lidahnya yang kelu,
Tuan menyalak serupa binatang, “Ada apa dengan bahasa kalian?!”

Puisi yang ditulis oleh Siti Hardianti Harahap ini mendapatkan Juara 3 pada Festival Bulan Bahasa (FBB) Universitas Sriwijaya Tahun 2025


Siniar Audio

Citation is loading...
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Ringkasan Komentar

Belum ada ringkasan komentar. Klik tombol untuk melihat garis besar diskusi.