Di media sosial, satu unggahan saja cukup untuk menyulut perang dalam hitungan jam. Kita seolah-olah dipaksa untuk segera memilih kubu: membela, mengkritik, atau sekadar ikut menyerbu dalam kerumunan penghujat. Ada tekanan tak kasat mata yang membuat diam dianggap sebagai ketidakpedulian, seolah tidak bersuara berarti tidak punya prinsip.
Padahal, tidak semua hal membutuhkan reaksi instan. Di tengah derasnya arus informasi, kemampuan untuk berhenti sejenak, mencerna konteks, dan membentuk opini secara mandiri justru menjadi keterampilan yang sangat krusial.
Kita bisa melihat dinamika ini pada kontroversi Maudy Ayunda terkait videonya yang berjudul Mindfulness in the Age of Bad News. Video yang diunggah pada 21 Agustus 2026 itu membahas cara menjaga kesehatan mental di tengah gempuran berita buruk. Namun, pesannya justru menuai kritik tajam karena dianggap tone-deaf. Banyak warganet merasa pembahasannya seolah mengabaikan realitas mereka yang sedang berjuang di tengah krisis, ketika berita buruk bukanlah sesuatu yang bisa “dijauhi” begitu saja demi ketenangan jiwa.
Sentimen ini terlihat jelas di kolom komentar. Salah satu warganet menulis,
“For many of us, it’s not just a news. It’s our REALITY… can’t ignore it…”
Komentar lain menyampaikan hal serupa:
“Mungkin bagi kalian ini cuma berita, tapi untuk kami yang terdampak ini realita pahit.”
Perbedaan pengalaman ini sangat nyata; bagi sebagian orang, membatasi informasi adalah cara menjaga ketenangan, tetapi bagi mereka yang terdampak langsung, berita tersebut adalah bagian dari kehidupan sehari-hari yang tak terelakkan.
Menariknya, perdebatan ini tidak berakhir dengan saling menjatuhkan. Maudy memilih untuk memberikan klarifikasi dan meminta maaf. Ia mengakui bahwa kemampuan untuk mengambil jarak dari berita adalah sebuah keistimewaan; tidak semua orang memiliki kemewahan untuk menutup mata ketika masalah berdampak langsung pada pekerjaan, keluarga, atau kelangsungan hidup mereka. Dari sini muncul sebuah pertanyaan penting:
“Bagaimana seharusnya kita bersikap saat seorang figur publik melakukan kesalahan?”
Kritik Adalah Kebutuhan, Bukan Serangan
Menjadi figur publik bukan berarti kebal terhadap kesalahan. Justru karena pengaruhnya yang besar, setiap kata yang mereka ucapkan patut mendapat perhatian. Kritik adalah nyawa dalam ruang publik karena ia berfungsi menunjukkan perspektif yang mungkin terlewatkan. Dalam kasus Maudy, kritik tersebut justru memperkaya pemahaman bahwa cara setiap orang menghadapi informasi itu tidak seragam. Namun, kritik akan kehilangan esensinya saat ia berubah menjadi serangan personal.
Membedakan Kritik dari Hujatan
Ada garis tegas antara mengkritik sebuah pernyataan dan menyerang kepribadian seseorang. Kritik seharusnya diarahkan pada ucapan, tindakan, atau dampak yang ditimbulkan. Sebaliknya, hujatan biasanya melompat jauh ke arah karakter atau hal-hal pribadi yang tidak relevan dengan inti persoalan.
Perbedaan ini terlihat dari cara orang merespons. Ada yang menyampaikan keberatan dengan cara yang masih berkaitan dengan konteks, seperti:
“Ini kayak nasehat untuk sesama orang kaya 😂”.
Namun, ada juga yang sudah beralih ke hujatan kasar:
“SEKALI BUDEK TETAP BUDEK. SELAMAT KAMU KONSISTEN BUDEKNYA. MUST BE NICE TO HAVE A CHOICE TO AVOID BAD NEWS SINCE IT HAS NEVER HAPPENED IN YOUR BACKYARD 😊”.
Media sosial sering kali mengaburkan batas ini. Saat gelombang kemarahan massal terjadi, muncul fenomena FOMO opini, yaitu perasaan takut ketinggalan percakapan hangat. Jika semua orang marah, kita merasa harus ikut marah. Jika semua orang membela, kita merasa harus ikut membela. Kita sering lupa bertanya pada diri sendiri: “Apakah ini benar pendapatku, atau aku hanya sedang mengikuti arus?”
Speak Up Tidak Harus Ikut-ikutan
Menjadi kritis bukan berarti harus menjadi yang paling cepat mengetik komentar. Terkadang, keberanian justru muncul saat kita memilih untuk menunggu dan memahami konteks secara utuh. Potongan video atau judul berita yang viral sering kali hanya menampilkan permukaan saja.
Sebelum ikut bereaksi, cobalah gunakan prinsip P.U.R.E. agar suara kita lebih berbobot:
- P – Pause (Berhenti): Jangan terburu-buru. Sesuatu yang viral tidak selalu membutuhkan respons saat itu juga.
- U – Understand (Pahami): Cari tahu konteksnya. Apa yang sebenarnya dikatakan? Bagaimana peristiwa itu bermula?
- R – Reflect (Refleksi): Tanyakan pada diri sendiri, apakah ini murni pemikiran saya atau hanya dorongan emosi mayoritas?
- E – Express (Sampaikan): Jika memang perlu bersuara, arahkan kritik pada substansi masalahnya, bukan pada manusianya.
Metode ini bukan untuk membungkam Anda, melainkan untuk memastikan bahwa saat Anda berbicara, kata-kata Anda memiliki dasar dan tujuan yang jelas.
Empati Bukan Berarti Menjadi Lemah
Ada anggapan keliru bahwa berempati berarti memaklumi kesalahan. Padahal, empati dan kritik bisa berjalan beriringan. Empati membantu kita menyadari bahwa di balik setiap kontroversi, ada manusia dengan pengalaman yang berbeda-beda.
Dalam kasus Maudy, mengakui adanya celah dalam perspektif kontennya tidak berarti kita harus menolak pribadinya secara keseluruhan. Sebaliknya, kemauan untuk menerima masukan justru menunjukkan kedewasaan. Maudy sendiri menegaskan bahwa mindfulness bukan alat untuk lepas tangan dari realitas, melainkan cara untuk tetap peduli tanpa harus merasa kewalahan.
Pada akhirnya, tujuan kritik bukanlah untuk memenangkan argumen atau menjatuhkan seseorang. Kritik yang baik adalah awal dari percakapan yang lebih bermakna.
Belajar Bertanggung Jawab atas Suara Kita
Media sosial memberi kita panggung, tetapi panggung itu membawa tanggung jawab. Kita tidak perlu mengomentari semua hal, dan tidak perlu memihak pada setiap kontroversi. Kita hanya perlu belajar membedakan mana yang merupakan kepedulian dan mana yang sekadar ikut-ikutan; mana kritik dan mana hujatan.
Speak up tidak berarti harus bicara paling keras. Terkadang, bersuara berarti berani mengatakan sesuatu itu tidak tepat, tetapi tetap memberi ruang bagi orang lain untuk belajar. Kadang, bersuara berarti berani mengambil posisi yang berbeda ketika arus sedang bergerak ke arah lain.
Kedewasaan digital bukan tentang selalu tahu apa yang harus dikatakan, melainkan tahu kapan harus berbicara, bagaimana menyampaikannya, dan mengapa kita memilih untuk bersuara. Kita tidak harus memilih antara diam atau menghujat. Kita bisa bersuara sambil tetap mendengarkan; kita bisa mengkritik sambil tetap berempati. Sebab, esensi dari bersuara adalah untuk memperbaiki percakapan, bukan untuk menghancurkan seseorang.
Siniar Audio
Latih Pemahaman Membaca
Uji pemahaman Anda tentang artikel ini dengan menjawab beberapa pertanyaan interaktif yang dirancang khusus oleh AI kami.
Mulai Latihan Sekarang →
2 comments
Terima kasih. Luar biasa utk ukuran murid (istilah skr) SMA. Sangat bernas. Semangaf berkarya, GBU
Literasi menulis untuk remaja terus tumbuhkan, untuk memberikan pengetahuan yang segar untuk kaum remaja yang haus akan informasi.