Bintang Sirius
Bintang Sirius

Bintang Sirius*)

0 Shares
0
0
0

Di lorong sekolah pagi itu, seorang anak laki laki berusia 16 tahun tengah menyusuri lorong panjang mencari tempat perbekalannya untuk masuk universitas. Ketika dia sampai di pintu kelas, suara selembut sutra terbisik ke telinganya.

“Yuki”

Mendengar namanya lelaki itu berbalik menghadap pada bayangannya, sahabat terbaik menyapanya.

“Selamat pagi, kamu terlihat sedikit muram hari ini. Apa kamu punya masalah?” “Ah, Shiori, Selamat pagi. Bukan apa, aku hanya sedikit lelah.” Itu adalah sepotong kebenaran yang disembunyikan.

“Begitu ya?” Shiori mengambil sesuatu di dalam tasnya, dan menyodorkannya pada Yuki. Itu adalah sebuah buku tentang bintang dan konstelasi yang ia pinjam dari Yuki beberapa hari lalu.

“Terima kasih, sudah selesai membacanya?”

“Sudah, sangat menarik ya, terutama favoritku tentang bintang Sirius. Indah sekali ya, bahkan meski hanya dari buku. Aku jadi ingin melihatnya secara langsung. Kapan ya, bisa seperti itu?”

“Sama, aku juga menyukainya. Mungkin suatu saat nanti, aku juga yakin kau akan menemukannya.

“Benarkah? Keren, kamu pernah melihatnya?” “Sudah, tapi sudah lama sekali.”

“Begitu ya, ngomong-ngomong, Kamu ikut lomba astronomi ya? Kapan waktunya?” Tanyanya mengungkap rasa penasaran.

“Ya, harusnya itu tanggal 7 Januari dan aku berharap aku bisa memenangkannya. Kali ini, aku sudah terlalu sering kalah hingga membuatku frustasi. Jadi kupikir kali ini aku harus bisa memenangkannya”

“Jangan bebani dirimu seperti itu, apapun yang kau dapat, bagiku dirimulah yang terbaik, mungkin belum rezeki saja. Kali ini pasti menang kok, aku mendukungmu.” Dukungan yang dipadukan dengan sedikit rasa cemas itu ia lontarkan dengan tulus pada sang sahabat yang tengah linglung diantara hamparan ombak.

“Aku berharap juga begitu, terima kasih ya, Shiori.” Ucapan itu keluar dari wajah murung yang berusaha tersenyum. Dan disambut senyum manis Shiori namun tak semanis kehidupannya. Perasaannya yang sebenarnya, selalu ia sembunyikan dari semua orang.

“Aku pulang.” Dengan suara yang lesu tanpa mengetok pintu rumah.

“Masuk” Suara berat yang mencekam mengisyaratkan tanda bahaya, namun ia masuk ke dalam tempat itu. Di sana sang ayah sedang duduk di ruang tamu dengan secangkir kopi terletak di meja. Seolah menunggu kedatangan seseorang ia duduk termenung dengan tatapan serius.

“Tadi bagaimana?” Suara berat itu memecah keheningan. Sempat ragu untuk menjawab, Yuki memberanikan diri.

“Biasa saja“

Sebuah cangkir berisi kopi dilempar ke dinding belakang lelaki malang itu. Belum sempat ia berbicara suara keras dan tajam menyela.

“Apa maksudmu dengan biasa saja!!” Teriak sang Ayah sembari berdiri dan memukul meja di hadapannya. Ia perlahan maju ke hadapan sang anak yang ia jadikan kambing hitam.

“Apa kau tidak malu dengan adikmu yang sudah meraih titel juara di banyak perlombaan, sedangkan kau, apa yang sudah kau dapatkan dengan bintang bintang bodohmu itu, keparat!!!”

“Tapi-“ Berusaha menyangkal namun sang ayah yang tersulut emosi menggonggong layaknya anjing liar.

“Tapi apa brengsek!! Kau masih ingin menyangkal hah!! Uang sudah habis untuk pendidikanmu dan kau masih bermain-main dengan bintang sialan ini, dasar tak tau di untung!!” Bahkan dengan semua kata-kata kasar keluar, sang ayah masih saja belum puas. Dia masuk kedalam kamar sang anak dan mengambil buku berharga milik anaknya. Dan kemudian, suara robekan kertas terdengar, membabi-buta, ia koyak satu per satu, halaman per halaman dari buku itu. Sang anak yang terkejut dengan cepat mencoba menghentikan sang ayah. Namun apalah daya, dia tak mampu menghentikan sang ayah hingga buku itu sudah sepenuhnya rusak. Meski sang anak memohon pun, Goliath yang perkasa tak mau menghentikan aksinya.

“Buku ini menghancurkanmu, keparat!!, sekarang apa yang akan kau lakukan, hah”??!!

Tak percaya yang dengan apa yang terjadi, tatapan histeris sang anak tanpa ada suara yang terdengar, cukup untuk menjelaskan apa yang ia rasakan. Namun sang ayah tak pernah puas kembali bertanya dengan garang.

“Jawablah keparat!!”

Dengan tatapan sinisnya sang anak tersulut emosi dan angkat bicara menyamakan nada bicara ayahnya.

“Memangnya kenapa. Kenapa kalau aku suka bintang, memangnya ada yang melarang. Kau selalu seperti itu bahkan sejak dahulu. Kau selalu bilang jangan pikirkan kemenangan yang penting adalah usaha. Tapi nyatanya setiap kali aku kalah kau selalu menyiksaku seperti ini, kata kata kontradiktif tanpa alasan logis yang kau perturutkan dari ambisi berlebihanmu, aku tak bisa menerimanya, Ayah!!!

Tak cukup sampai disitu, sang anak kembali mengutarakan apa yang berada dalam benaknya.

“Semua yang kau pikirkan hanya dirimu sendiri!!!” “Keparat sialan!!!, beraninya kau??!!” Respon sang ayah.

“Kalau iya, emangnya kenapa?” Dengan tatapan sinis dan suara seraknya ia melanjutkan kata-kata hingga membuat sang ayahnya semakin geram.

“Brengsek, tinggalkan rumah ini!!”

Ia diusir dari rumah oleh sang ayah, membuatnya pergi tanpa tujuan, tak ada bekal selain beberapa helai baju dan buku yang ia bawa. Sendirian di tengah malam, meratapi kesunyian. Di taman yang hening, ia duduk tak bergeming. Hanya ada beberapa lampu yang menerangi suasana yang suram. Pikirannya kacau, marah, sedih, dan sepi berpadu menjadi satu menciptakan perasaan ganjil yang tak mampu diucapkan dengan kata kata.

“Semuanya karena salahmu, Ayah. Karena itu ibu pergi.” Ucapnya berbicara pada dirinya sendiri. Ia tertunduk dan hampir menangis. Tiba-tiba sosok yang sangat ia harapkan muncul di hadapannya.

“Sedang apa kau disini, Yuki” Tanya nya melepas hening

“Shiori?” Terkejut dengan siapa sosok dihadapannya. Dia dengan cepat mengusap tangisnya agar tak terlihat. Mengumpulkan semangat yang cukup untuk membuat dirinya seolah tak sedang terlibat masalah apa apa.

“Heh, Tidak, bukan apa-apa, aku hanya ingin mengamati bintang dari sini.” Ucapnya dengan kepercayaan diri palsu. Banyak kebohongan dalam kata katanya.

“Terlihat sekali ya berbohongnya, aku tidak suka yang seperti itu.” Balas Shiori

Yuki terdiam, matanya terbelalak dengan jawaban Shiori. Sambil menghirup napas dilontarkan kata maaf yang terdengar pelan dengan wajah yang menghadap ke bawah dan mengusap rambut putihnya.

“Tolong ceritakan apa yang terjadi, Yuki.” Shiori mendekat dengan kata katanya tapi belum cukup untuk membuat Yuki mengatakannya.

“Aku tidak mau membicarakannya..” Mendengar hal itu, Shiori berupaya membujuknya.

“Tapi kalau kamu ceritakan, mungkin aku bisa membantu-“

“Aku tidak ingin membicarakannya!” Dengan sedikit meninggikan suaranya, Yuki berteriak pada Shiori.

“Yuki, ” Terkejut dengan jawaban Yuki, Shiori sedikit sakit hati.

“Maaf, aku tidak bermaksud seperti itu.” Sadar akan kesalahannya, Yuki meminta maaf pada Shiori

“Tak apa, tapi cepat ceritakan apa masalahmu.” Shiori memaklumi, dan kembali meminta Yuki untuk bercerita.

“Kalau kau benar-benar ingin tahu, ikuti aku,” ucapnya mengajak Shiori ke suatu tempat.

Shiori mengangguk pertanda setuju. Ia dibawa ke kota sebelah yang sedang

mengalami pemadaman lampu tak jauh dari lokasi mereka saat ini. Menyusuri bayangan malam, mereka beranjak ke sebuah bangunan yang tak tinggi namun tak rendah juga.. Dengan hanya sedikit penerangan, dengan jelas mereka dapat melihat bintang berkilauan di langit malam.

“Yuki…, ini…”

“Ya, tempat terbaik yang pernah kukunjungi dalam hidupku, hanya disini yang kusukai. Apakah yang seperti ini ada di dunia yang kau tinggali?” Matanya birunya bersinar sembari mengucapkan kata kata yang membuat jantung Shiori berdebar-debar.

“Malam ini Bulan bersinar dengan terang ya? Kamu bisa melihat dengan jelas, betapa menyedihkannya diriku” Ucapnya dengan muram.

“Yuki…” Shiori terisak mendengar kata-kata Yuki.

Yuki berjalan terus ke atap gedung. Ia tak berhenti berjalan. Bahkan sampai tempat pijakan itu habis, ia terus berjalan. Bereaksi dengan hal itu, Shiori dengan cepat berlari dan mencegah Yuki untuk melakukan suatu aksi yang belum pernah ia pikirkan sebelumnya. Dia merangkul Yuki dan memeluknya dengan erat. Nafasnya terengah bagai kesulitan untuk

bernafas. Wajahnya terlihat khawatir dengan keadaan sang lelaki. Terutama wajah muram lelaki itu, tatapannya kosong, tanpa semangat untuk berjuang. Seolah dia ingin mengakhiri sesuatu dengan cepat.

“Kenapa kau menyelamatkanku? Aku ingin mati” Tanya Yuki

“Bodoh, mana mungkin aku diam saja, saat sosok yang kucintai akan mati ” Ucap Shiori terisak dengan tangisnya.

“Memangnya kau tahu apa? Aku sudah menyerah, semuanya terlalu sulit bagiku, tanganku terlalu kecil, hingga semua jari itu lepas dari tanganku dan tak bisa menyisakan apapun. Aku lemah, tapi menginginkan segalanya. Aku bodoh, tapi banyak bermimpi. Aku tak bisa melakukan apapun, tapi mencoba berjuang dengan sia sia. Yang bisa kulakukan cuma bermulut besar dan menyombongkan diri meski tak bisa apa apa. Aku tak bisa apa apa, tapi selalu yang terdepan dalam mengeluh, memangnya aku pikir aku ini siapa??!! Hebat sekali aku bisa hidup begini begitu tanpa rasa malu. Aku hanyalah seorang pecundang yang sensitif dengan pemikiran orang lain terhadapku dan jati diri itu tak pernah berubah dari diriku” Ucap Yuki mengungkapkan apa yang ia rasakan dengan tangisan.

“Aku benar-benar benci diriku”

“Yuki,… banyak yang ingin aku katakan, banyak sekali, bolehkah aku menanyakannya”

Yuki mengangguk pertanda setuju.

“Yuki,.. Kenapa kamu menyukai langit malam?”

“Mereka sama sepertiku, dipenuhi dengan kegelapan dan kekosongan, tanpa ada isi satupun di dalamnya.

“Kenapa kamu mempelajari bintang?”

“Mereka dapat bersinar bahkan segelap apapun langit malam. Aku ingin seperti itu, tapi setiap kali aku memikirkannya, kesialan dan kesialan selalu mengikutiku. Selalu kalah dalam setiap kompetisi yang kuikuti, aku… selalu dimarahi dan di caci-maki oleh ayahku. Dia hanya bisa berkata manis bilang kalau kekalahan itu adalah hal yang biasa, namun nyatanya dia selalu mempermasalahkan kekalahanku, kata-kata kontradiktif seperti itu, mana bisa aku menerimanya. Dia selalu seperti itu bahkan sejak aku masih kecil. Dulu aku sering dirundung sejak kecil, ayahku selalu menekanku untuk punya nilai bagus, hingga aku mencoba untuk selalu aktif dan menjawab pertanyaan guru untuk mendapat nilai yang tinggi. Tapi ada yang tak menyukaiku hingga aku dirundung secara verbal dan nonverbal.

Membuatku enggan masuk sekolah. Aku dijauhi dan dikucilkan oleh orang-orang. Aku bahkan hanya punya sedikit teman, sangat sedikit…”

“Ketika aku mulai mendapat teman, dan aku mulai merasa nyaman dengan mereka, aku harus pindah karena masalah ekonomi. Berkali-kali, aku harus menyaksikan mereka menghilang sekali lagi dalam hidupku dan kami tak pernah bertemu lagi.”

“Aku selalu merasa kesepian, ditambah tekanan bahwa aku harus menang kalau mengikuti suatu kompetisi, meski ayah bilang kalah menang itu biasa saja, tapi dia selalu saja memarahiku ketika aku kalah. Perkataan ayahku itu… sangat kasar dan aku sangat membenci hal itu. Bukannya aku tak menghargai dirinya, tapi sikapnya yang seperti itu membuatku benar benar stress. Karena itu aku ingin menyerah.”

“Yuki, Menyerah itu adalah hal yang mudah, tapi itu tak cocok denganmu” Matanya terbelalak mendengar perkataan Shiori.

“Aku… selalu menyukai Yuki yang bekerja keras. Dia yang selalu peduli terhadap orang orang di sekitarnya. Dia yang mau mengorbankan apapun miliknya untuk kepentingan orang lain. Aku menyukai Yuki yang selalu percaya akan kemampuannya sendiri dan mengejar impiannya, menjadikan apa yang ia impikan bukan hanya sebatas untuk dikejar, tapi dapat ia raih. “Aku selalu menyukai Yuki yang selalu membuatku tertawa, bahkan disaat harusnya aku tak bisa tertawa. Berkali kali aku diselamatkan olehmu dari kehampaan. Kamu tahu? Aku punya penyakit jantung. Aku tak punya teman lain selain dokter yang sering berbicara denganku. Saat kupikir aku takkan pernah mendapat teman di masa SMA, kamu datang dan menyelamatkanku. Shiori yang kamu selamatkan, sekarang ada disini” “Kalau kamu lemah, maka akan kutunjukkan kelemahanku padamu. Kalau terlalu berat untuk berjalan sendirian merangkul beban itu, ajak aku dalam rangkulanmu, kita berdua akan berbagi beban bersama. Kalau kamu membenci dirimu sendiri, sebaliknya aku sangat mencintaimu. Karena itu, kalau kamu sulit untuk berjuang untuk ambisi ayahmu….

berjuanglah untukku. Tunjukkan padaku, betapa keren dirimu yang biasa kulihat, Yuki.” Ucapnya, tangisnya semakin menjadi, dadanya terasa sesak, dan ia semakin terisak sembari memeluk Yuki dengan erat. “Berjuanglah untuk masa depan dimana kita bisa tertawa bersama.”

“Shiori… ”

Di malam yang penuh bintang itu. Yuki dan Shiori pulang dengan membawa beban di hati masing-masing. Yuki meminta maaf kepada ayahnya atas apa yang ia lakukan, ia berjanji akan memenangkan kompetisi yang selanjutnya. Meski sedikit tak percaya,

menyadari kesalahan yang ia perbuat, ia memperbolehkan Yuki untuk tinggal di rumah lagi. Hari yang ditunggu telah tiba dan 7 Januari menjadi titik kebangkitan Kanzaki Yuki. Dia memenangkan posisi pertama kompetisi itu. Dia begitu bahagia hingga menangis. Dengan kabar bahagia itu, ia ingin bertemu dengan Shiori di atap gedung sama seperti kejadian di hari itu.

“Ah, kamu sudah datang” Ucapnya menyadari seseorang telah hadir di belakangnya. “Iya” Dia adalah Shiori yang berhasil membuatnya bersemangat kembali. Dengan senyum tulusnya, dia bertanya

“Kita melihat bintang hari ini?” “Selalu” Balasan dari Yuki

Mereka meratapi cakrawala malam di senja astronomi, dengan kurangnya pencahayaan, bintang di langit semakin berkilauan. Cemerlangnya bintang, indahnya atmosfer yang membuat mereka mampu menghirup dan menghela napas dengan lega.

Duduk bersama, Shiori angkat bicara

“Indah sekali ya, aku bisa melihat Perseus disini, cerita tentang dia yang menyelamatkan putri Andromeda membuatku bersemangat.” Ucapnya

“Ya, aku juga bisa melihat Cassiopeia dan Ursa Mayor disini” Balasan dari Yuki “Hubungkan itu ke tengah, apa yang kau lihat?” Lanjut Yuki

“Aku melihat bintang utara tepat menyelimuti kita” Kata kata indah itu menyebar dalam hati Yuki. Membuat matanya berkaca kaca.

“Benar sekali” Hanya itu yang dapat ia katakan. “Ayo kita cari Sirius” Ucapnya pada Shiori

Shiori mengangguk pertanda mengerti. Pasangan itu memandang langit yang sama, menelusuri luasnya langit, menarik pada kisah-kisah tersembunyi. Pandangan mereka mencari sosok bintang yang paling terang, bahkan tanpa ada patokan bagian langit yang mana yang mereka telusuri. Meski begitu, hati mereka berpadu untuk mencari Sirius sang anjing pemburu.

“Mitosnya, seorang pemburu berburu di hutan belantara bersama anjingnya, ia menembak seekor rusa, dan rusa itu kabur, anjingnya mengejar rusa itu, ia pun mengikuti. Namun kemudian, dia tersesat. Tanpa sengaja bertemu dewi bulan yang sedang mandi, dia dikutuk menjadi rusa karena kelancangannya. Tragisnya dia mati setelah bertemu dengan anjingnya sendiri karena mengira rusa yang ia temukan adalah mangsa. Cerita yang benar- benar konyol ya?” Ujarnya sedikit menertawakan kisah konyol itu.

“Tapi meski begitu bintang Sirius menjadi penanda di zaman mesir kuno kalau “berkah sungai Nil” akan datang. Datang saat kesulitan, membawa berkah untuk semua orang, sama sepertimu” Matanya berbinar ketika mengatakan hal itu. Shiori merasa tersipu tapi juga amat senang. Ia mengungkapkan kalimat yang telah ia simpan khusus untuk seseorang di hadapannya.

“Selamat ya atas kemenanganmu di lomba itu, kamu benar-benar hebat”

“Aku tak mungkin bisa melakukannya tanpamu, dirimu yang menyalakan kembali obor di dalam hatiku, bahkan ketika aku berada di titik terendah, kamu ada disini. Terima kasih banyak, Sirius-ku” Tak ada kebohongan di dalamnya, hanya ada ketulusan dalam kata katanya. Shiori tersipu malu, matanya berkaca kaca seolah ingin menangis karena kata kata yang amat mendalam. Jantungnya berdegup kencang menyampaikan sebuah isyarat.

“Ah, kamu begitu berlebihan hingga membuatku hampir menangis”

“Aku menemukannya, itu adalah dirimu” Pandangan Yuki tertuju pada sesuatu dibalik bayangan Shiori sembari menunjuk ke bagian yang ia maksudkan. Shiori berbalik, begitu dia melihat apa yang berada di hadapannya, dia menangis. Dia tak sanggup menahan air mata akan keindahan apa yang ia lihat sekarang ini. Matanya berbinar-binar melihat karya maestro semesta alam. Itu adalah Sirius ,bintang paling terang di langit malam, rupanya yang indah menyejukkan hati yang rapuh.

Sirius” menyebut nama dari bintang itu, dia begitu bahagia.

“Ya, aku-, Tidak, Kita menemukannya.” Ucap Yuki memegang tangan Shiori yang terasa hangat.

“Bintang paling bersinar di dalam langit malam, Sirius, telah kita temukan, hanya dapat dilihat sekali diantara bulan Desember dan Januari. Harta karun yang selama ini kucari, kutemukan bersamamu, dan kini aku juga ingin bersama denganmu, bahkan meski langit ini runtuh.”

“Maukah kau bersamaku, Shiori” Pernyataannya pada Shiori.

“Ya” Jawaban singkat yang menutup lukisan langit malam dengan sempurna. Tapi hanya itu yang ia butuhkan. Perjalanan yang penuh derita ia rasakan, sudah dibayar dengan mahal. Terkadang kau butuh orang yang tepat untuk mengeluarkan seluruh kemampuan yang kau punya. Menyerah adalah hal yang mudah, tapi itu tak cocok untuk seseorang yang berjuang. Bulan butuh matahari untuk bersinar, dan senja astronomi akan selalu berbinar.


*) Teks cerita pendek yang ditulis oleh Luthfi Ahmad ini mendapatkan Juara 3 pada Festival Lomba Seni Siswa Nasional (FL2SN) se-Kota Padang Tahun 2024


Penulis dan Guru Pembimbing

3 comments
  1. Nama: Suci Indah Lestari
    Nim: 23016048
    GWA: GTBI-NS-2110
    Cerita ini sungguh menggugah hati. Pertama-tama, kamu menggambarkan perjalanan Yuki dengan sangat detail, dari tekanan yang ia rasakan di rumah hingga dukungan yang ia terima dari Shiori. Penggambaran emosi dan konflik internal Yuki juga sangat kuat, membuat pembaca merasakan kepedihan dan kebingungan yang ia alami.

  2. Nama: Silvia Giofani
    Nim: 23016112
    GWA: GTBI-NS-2110
    Cerita ini mengisahkan tentang Yuki, seorang siswa SMA yang berjuang untuk memenangkan kompetisi astronomi dan menghadapi tekanan dari ayahnya yang sangat keras. Yuki memiliki penyakit jantung dan memiliki sedikit teman, tetapi Shiori, sahabatnya, selalu menemani dan mendukungnya. Tanggapan dari cerita ini adalah bahwa keberhasilan tidak hanya tentang individu, tapi juga tentang kebersamaan dan dukungan dari orang-orang di sekitar kita. Cerita ini juga menunjukkan bahwa kekecewaan dan kesulitan adalah bagian dari perjalanan hidup, tapi kita harus tetap berjuang dan tidak menyerah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *