Sebagai penggemar sepak bola, ada satu keresahan eksistensial yang selama belasan tahun terakhir terus menghantui kewarasan kita: siapa yang paling layak menyandang gelar Greatest of All Time (GOAT), Cristiano Ronaldo atau Lionel Messi?
Perdebatan ini tidak pernah benar-benar selesai. Ia mirip dengan Mitos Sisifus dalam filsafat Albert Camus. Kita terus mendorong batu argumen ke puncak gunung, hanya untuk melihatnya menggelinding turun lagi setiap kali salah satu dari mereka mencetak hat-trick, memecahkan rekor, atau memenangkan trofi baru. Kita lelah, tetapi anehnya tetap kembali melakukannya.
Sejak Kapan “Perang Dingin” Ini Dimulai?
Jika ditarik mundur, persaingan ini mulai meruncing sekitar tahun 2007 hingga 2009. Puncaknya terjadi ketika Ronaldo berseragam Real Madrid dan Messi menjadi sosok sentral di Barcelona. Di titik itu, narasi El Clasico berubah. Ia bukan lagi sekadar pertarungan ideologi politik Catalunya versus Spanyol, melainkan juga benturan individual antara dua pemain yang sama-sama melampaui ukuran normal sepak bola.
Siapa saja yang ikut berdebat? Hampir semua orang. Dari pengamat bergaji miliaran di studio TV Eropa, pemuda kurang tidur di warkop pinggir jalan, sampai akun anonim dengan foto profil anime di X (Twitter) dan TikTok. Sepak bola seolah menjadi bahasa universal, sementara Ronaldo dan Messi berubah menjadi dua ikon besar dengan basis pendukung yang sama-sama militan.
Perangkap Psikologis di Kolom Komentar
Dulu, perdebatan ini hangat di meja tongkrongan atau lapangan futsal. Sekarang, ia hidup abadi di kolom komentar media sosial. Cara kerjanya sederhana, tetapi beracun, karena digerakkan oleh beberapa bias psikologis manusia. Berikut penjelasannya.
1. Bias In-Group/Out-Group
Manusia cenderung membela kelompok yang dianggap selaras dengan dirinya, lalu memandang kelompok lain sebagai lawan. Dalam konteks Ronaldo vs Messi, pilihan terhadap satu pemain sering kali berubah menjadi identitas.
2. Bias Konfirmasi (Confirmation Bias)
Pendukung Messi menjadikan bakat alami, visi bermain, dan trofi Piala Dunia sebagai kebenaran mutlak. Sebaliknya, pendukung Ronaldo memuja etos kerja, kekuatan fisik, rekor gol Liga Champions, dan mentalitas pantang menyerah. Kedua kubu sama-sama memilih bukti yang menguatkan keyakinannya sendiri.
3. Dikotomi Palsu (False Dichotomy)
Kita sering menyederhanakan dunia secara hitam-putih. Saat Messi melakukan pelanggaran yang lolos dari hukuman wasit dan ada netizen yang mengkritik, kritik itu sering langsung dibalas dengan tuduhan,
“Wah, pasti fans Dodo nih yang nggak terima.”
Padahal belum tentu. Bisa saja orang itu hanya penikmat bola netral yang menyukai keadilan, atau sekadar fans Neymar.
Apollonian vs. Dionysian: Mengapa Kita Suka Dualisme?
Secara filosofis, manusia memang menyukai konsep dualisme: siang dan malam, baik dan buruk, air dan api. Dalam filsafat Friedrich Nietzsche, ada konsep Apollonian dan Dionysian yang bisa membantu membaca perdebatan ini.
Ronaldo dapat dipahami sebagai wujud Apollonian: keteraturan, rasionalitas, disiplin, dan bentuk fisik yang dipahat lewat kerja keras tingkat tinggi. Ia menjadi bukti bahwa manusia biasa, jika berlatih cukup keras, bisa menyentuh batas yang tampak mustahil.
Messi, di sisi lain, dapat dibaca sebagai wujud Dionysian: spontanitas, insting, emosi, dan kejeniusan murni yang sulit dijelaskan oleh nalar. Ia seperti anugerah magis yang tidak bisa ditiru, sekeras apa pun seseorang berlatih.
Karena itu, perdebatan Ronaldo vs Messi sebenarnya bukan hanya soal sepak bola. Kita sedang memproyeksikan pandangan hidup kita pada mereka. Apakah kita lebih percaya pada kerja keras yang mengubah nasib, atau pada bakat bawaan yang terasa seperti takdir?
Polarisasi Toksik dan Gagasan Ubermensch
Dampak buruk dari perdebatan ini jelas terlihat: polarisasi dan budaya fandom yang toksik. Banyak penikmat bola kehilangan objektivitas dan gagal menikmati keindahan permainan, hanya karena terlalu sibuk mencari kelemahan kubu lawan.
Namun, ada sisi menarik dari persaingan ini. Ronaldo dan Messi sama-sama menghadirkan gambaran tentang Ubermensch, atau manusia super, dalam dunia sepak bola modern. Mereka berdua saling mendorong batas maksimal potensi manusia. Tanpa Messi, Ronaldo mungkin tidak akan terdorong sejauh itu. Tanpa Ronaldo, Messi mungkin tidak akan dipaksa menjaga konsistensi setajam itu. Persaingan mereka membuat standar sepak bola naik ke tingkat yang belum pernah kita lihat sebelumnya.
Menyongsong Kehampaan Pasca-Pensiun
Suatu hari nanti, dalam waktu yang mungkin tidak terlalu lama lagi, notifikasi di layar gawai kita akan mengabarkan bahwa mereka resmi menggantung sepatu. Pada hari itu, dunia sepak bola mungkin akan mengalami semacam nausea, atau kehampaan eksistensial, sebagaimana pernah dibahas Jean-Paul Sartre.
Apakah akan ada yang menggantikan mereka? Mungkin Kylian Mbappe, Erling Haaland, atau Lamine Yamal akan mencetak ratusan gol dan meraih Ballon d’Or. Namun, jawabannya tetap terasa tidak sesederhana itu.
Bukan karena pemain generasi berikutnya tidak hebat, melainkan karena konteks historisnya tidak akan pernah sama. Narasi Ronaldo dan Messi terlalu sempurna: dua pemain terbaik sepanjang masa, berada di puncak karier selama lebih dari 15 tahun, membela dua klub yang bermusuhan secara ideologis, dan bertanding di era ketika media sosial baru saja meledak. Itu adalah anomali sejarah yang mungkin hanya terjadi satu kali.
Ketika mereka pensiun, riuh perdebatan itu mungkin perlahan mereda dan menyisakan keheningan yang canggung. Di titik itu, kita yang selama ini sering gontok-gontokan di kolom komentar barangkali akan sadar bahwa kita pernah sangat beruntung:
“Hidup di era yang sama dengan dua ikon terbesar sepak bola modern.”
Catatan
Artikel ini disusun sebagai esai populer yang mengaitkan perdebatan Ronaldo vs Messi dengan gagasan filsafat, psikologi massa, dan budaya fandom dalam sepak bola modern. Tulisan ini disusun di bawah bimbingan Bapak Muhamad Arif Saefudin, S.Psi., M.A.
Daftar Referensi
- Camus, A. (1955). The myth of Sisyphus and other essays (J. O’Brien, Trans.). New York, NY: Alfred A. Knopf.
- Nickerson, R. S. (1998). Confirmation bias: A ubiquitous phenomenon in many guises. Review of General Psychology, 2(2), 175-220. https://doi.org/10.1037/1089-2680.2.2.175
- Nietzsche, F. (1999). The birth of tragedy and other writings (R. Geuss & R. Speirs, Eds.; R. Speirs, Trans.). Cambridge, England: Cambridge University Press.
- Sartre, J.-P. (1964). Nausea (L. Alexander, Trans.). New York, NY: New Directions.
- Tajfel, H., & Turner, J. C. (1979). An integrative theory of intergroup conflict. In W. G. Austin & S. Worchel (Eds.), The social psychology of intergroup relations (pp. 33-47). Monterey, CA: Brooks/Cole.
Siniar Audio
Latih Pemahaman Membaca
Uji pemahaman Anda tentang artikel ini dengan menjawab beberapa pertanyaan interaktif yang dirancang khusus oleh AI kami.
Mulai Latihan Sekarang →