Ketika Fakta Berbicara: Karhutla yang Mengancam Kehidupan
Ketika Fakta Berbicara: Karhutla yang Mengancam Kehidupan

Ketika Fakta Berbicara: Karhutla yang Mengancam Kehidupan

0 Shares
0
0
0

Bulan lalu, Indonesia dihebohkan oleh peristiwa kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di beberapa titik hutan di Pulau Kalimantan. Kebakaran yang melanda tidak hanya menyisakan lahan yang hangus, tetapi juga asapnya menuntut kehidupan untuk ikut membayar harga. Anak-anak hingga orang dewasa harus menjalani aktivitas di tengah kualitas udara yang buruk. Lalu, seberapa besar sebenarnya ancaman karhutla bagi kualitas hidup mereka yang berada di tengah kepungan asap?

Kita mungkin tidak tahu apa penyebab pasti karhutla, tetapi kita tahu siapa yang merasakan dampaknya. Di Kalimantan, saudara-saudara kita harus menghadapi kabut asap yang mengganggu aktivitas, buruknya kualitas udara, hingga ancaman kesehatan. Inilah ironi karhutla: peristiwa yang terjadi di satu wilayah bisa memicu dampak yang cukup luas. Namun, kondisi seperti ini sering dianggap sebagai persoalan umum yang cukup dibiarkan menunggu tanpa adanya kejelasan. Padahal, jelas bahwa karhutla bukan hanya sekadar kebakaran hutan biasa, melainkan telah menjadi ancaman nyata bagi kualitas kehidupan, terutama bagi masyarakat Kalimantan.

Peristiwa karhutla yang terjadi tidak hanya berbicara soal kebakaran hutan, tetapi juga hilangnya hak masyarakat untuk menghirup udara bersih. Menurut Kementerian Kesehatan, per 27 Agustus 2026, tercatat lebih dari 10,6 juta penduduk terdampak karhutla di tujuh provinsi, dan 13.449 kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA). Kondisi kualitas udara di beberapa daerah, seperti Pontianak dan wilayah lain di Kalimantan Barat, tercatat masuk kategori berbahaya. Ini bukan lagi masalah biasa. Ketika jutaan orang terpapar asap, ada ribuan kasus gangguan pernapasan, dan udara di beberapa wilayah sudah masuk kategori berbahaya, karhutla harus dibaca sebagai ancaman serius bagi kehidupan.

Dampak karhutla tidak hanya berhenti ketika orang mulai mengalami gangguan pernapasan. Asap dari karhutla juga berdampak pada kegiatan belajar mengajar, padahal siswa seharusnya bisa mendapat pendampingan dari guru secara langsung. Dalam kondisi yang tidak memungkinkan, mereka harus melakukan pembelajaran jarak jauh (PJJ). Berdasarkan data yang dihimpun Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan Data Pokok Pendidikan (Dapodik) per 11 Agustus 2026, PJJ dilakukan oleh 3.524 sekolah yang mencakup 571.338 murid di sejumlah wilayah Kalimantan akibat kondisi asap. Bayangkan, ratusan ribu murid harus belajar dari rumah bukan karena libur, tetapi karena kualitas udara di luar yang buruk. Tentu hal ini memicu permasalahan baru, seperti adanya murid yang terhalang mengikuti pembelajaran karena keterbatasan perangkat, internet, maupun proses pemahaman materi yang menjadi lebih sulit.

Hutan Kalimantan juga dikenal sebagai rumah bagi hewan-hewan lokal. Namun, kini hal itu hanya menjadi cerita belaka karena dampak karhutla tidak hanya menimpa manusia, melainkan juga hewan lokal. Di Ketapang, Kalimantan Barat, terdapat tujuh orangutan yang harus dievakuasi akibat dampak karhutla. Bahkan, pada 1 September 2026, di Kawasan Hutan dengan Tujuan Khusus (KHDTK) Samboja, Kalimantan Timur, karhutla terjadi hingga menembus batas kawasan dan membuat sebelas orangutan yang sedang menjalani rehabilitasi harus dievakuasi.

Kalau dampaknya sudah sedemikian luas, hal ini tidak bisa dianggap sepele. Kejadian ini perlu mendapat perhatian serius dari pemerintah melalui tindakan nyata yang benar-benar terbukti mampu menyelesaikan akar permasalahan karhutla. Selama ini, tindakan yang dilakukan dalam menangani kebakaran sering hanya diukur dari seberapa cepat api bisa dipadamkan. Padahal, jika kebakaran terus berulang, mungkin yang perlu diperbaiki bukan seberapa cepat api bisa dipadamkan, melainkan cara pencegahannya sejak awal. Sebagai contoh, pencegahan bisa dilakukan melalui pemantauan titik panas secara berkala saat musim kemarau tiba, penegakan hukum yang benar-benar transparan terhadap kasus pembakaran lahan, dan pembentukan komunitas yang melibatkan masyarakat sekitar, terutama anak-anak muda, sebagai bagian dari upaya pencegahan di tingkat daerah.

Pada akhirnya, seberapa besar ancaman karhutla bagi kualitas hidup? Jawabannya jauh lebih besar daripada sekadar hutan yang terbakar. Karhutla telah merusak kualitas udara hingga berdampak pada kesehatan, mengganggu proses pendidikan, dan merusak habitat hewan-hewan lokal. Lebih mengkhawatirkan lagi bila sebagian dari kita masih berpikir bahwa kejadian seperti ini semata-mata merupakan akibat dari musim kemarau. Padahal, kejadian seperti ini bisa dicegah bila ada perhatian dan tindakan nyata sejak awal. Oleh karena itu, hal seperti ini merupakan tantangan yang harus diselesaikan bersama antara masyarakat dan pemerintah, karena karhutla memang berawal dari hutan, tetapi dampaknya sampai ke kehidupan.

Daftar Referensi

Siniar Audio

Citation is loading...

Latih Pemahaman Membaca

Uji pemahaman Anda tentang artikel ini dengan menjawab beberapa pertanyaan interaktif yang dirancang khusus oleh AI kami.

Mulai Latihan Sekarang →
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *