Mamalo di Hutan Huhui
Mamalo di Hutan Huhui

Mamalo di Hutan Huhui

0 Shares
0
0
0

Di pedalaman hutan Huhui, hiduplah seekor kukang yang usil. Panggil saja namanya Mamalo. Mamalo suka mengganggu warga Huhui dalam bertani. Namun, tak satu pun warga Huhui yang mampu menegurnya.

“Ha-ha-ha…”

“Kenyang sekali aku hari ini,” ucap Mamalo seraya mengusap perutnya yang membuncit.

Mamalo yang kekenyangan mencoba memanjat sebuah pohon murbei, lalu tertidur dengan pulasnya.

Beberapa waktu kemudian, datanglah Sigung yang hendak memanen pisang yang seharusnya sudah matang pada hari ini. Betapa terkejutnya Sigung melihat pohon pisangnya sudah ludes.

“Ulah siapa lagi ini?” Sigung berteriak.

Sigung melihat ke sekitar, berjalan memantau apakah ada bukti yang lain. Dari kejauhan, tampaklah seekor kukang yang tertidur di atas pohon murbei.

“Ooo, kamu lagi, ya, Mamalo,” gumam Sigung kesal.

“Tiap hari ada saja yang kamu lakukan di ladang-ladang kami ini,” ujar Sigung dengan marah.

“Kalau kamu mau makan, usaha. Jangan hanya mengambil hasil milik kami-kami ini.”

Mamalo pun kemudian bangkit dari tidurnya yang begitu pulas karena kekenyangan. Dia tak langsung menggubris ucapan si Sigung.

“Ada apa, Sigung? Masih siang sudah marah-marah,” Mamalo bertanya seperti tidak bersalah.

“Kamu menghabiskan semua pisang di kebunku. Padahal, aku berencana memanennya hari ini,” Sigung menjawab dengan kesal.

“Hanya sedikit yang kumakan. Kalau mau ambil, ya, tanam saja lagi,” ujar Mamalo dengan santai.

“Apa kamu bilang? Pisang ini butuh empat bulan agar bisa kupanen. Lalu, dengan seenak jidat, kamu suruh aku menanam kembali. Hari ini aku sekeluarga makan apa?” tanya Sigung.

Kemudian, Mamalo menyarankan Sigung mengambil saja pisang di lahan sebelah. Lahan pisang di sebelah adalah lahan milik Pak Bison. Sontak, Sigung langsung menolak saran gila yang disampaikan Mamalo.

Dengan perasaan sedih, Sigung pulang membawa keranjang kosong yang belum sempat diisinya.

Keesokan harinya, Mamalo memulai harinya dengan berkeliling hutan. Ia berjalan santai. Lalu, Mamalo bergumam, “Hari ini panas sekali. Sepertinya, aku butuh minum yang segar-segar.”

Mamalo pun berjalan menyusuri anak sungai sembari melihat kebun mana yang akan dimasukinya hari ini. Meskipun Mamalo memiliki sifat yang usil dan selalu mengganggu ketenteraman warga Huhui, tidak seorang pun memiliki keberanian menegurnya dengan tegas. Hal ini tentunya membuat Mamalo semakin menjadi-jadi dari hari ke hari.

Beberapa saat berjalan, tibalah Mamalo di sebuah kebun yang terlihat begitu menggoda. Mata Mamalo berbinar melihat kebun yang berisi buah kelapa hijau yang menyegarkan. Tak terasa, air liur Mamalo menetes di punggung tangannya. Tanpa menunggu lama, meluncurlah Mamalo dengan pasti ke kebun tersebut.

“Tak boleh kulewatkan kali ini,” ujar Mamalo.

Mamalo kemudian memanjat pohon kelapa tersebut dan segera meminumnya tanpa izin. Tanpa sadar, dua, tiga, empat butir kelapa pun sudah berlabuh dalam lambung Mamalo.

“Segarnya,” Mamalo bergumam.

Dari arah belakang, muncullah seekor kupu-kupu dengan sayap biru. Lalu, kupu-kupu tersebut bertanya kepada Mamalo, “Apakah kelapa ini segar, wahai kukang yang bijaksana?” tanya kupu-kupu menguji. Singkat saja, Mamalo menjawab, “Lumayan.”

Kupu-kupu tersebut lalu menanyakan kepada Mamalo apakah kelapa tersebut miliknya. Kemudian, Mamalo menjawab, “Tidak.”

Mendengar jawaban Mamalo, kupu-kupu itu kemudian bertanya kembali, “Lalu, mengapa Tuan Kukang meminumnya, padahal jelas-jelas kelapa itu bukan milik engkau?”

“Heleh, banyak gaya kau, kupu-kupu kecil jelek. Semua yang di muka bumi ini adalah milik Tuhan. Aku makhluk Tuhan, tentu saja aku boleh mengambilnya,” jawab Mamalo sombong.

“Ingatlah, Tuan Kukang, apabila kita memakan yang bukan hak kita, makanan tersebut akan menjadi haram. Haram adalah perbuatan dosa. Nanti masuk neraka, loh,” kupu-kupu menasihati.

“Jangan banyak omong, kupu-kupu butut. Pergi saja sana,” Mamalo mengusir.

Sebelum kupu-kupu pergi, ia sempat berkata, “Kamu sudah mengganggu warga Huhui, mulai dari mengambil pisang milik Sigung, kemudian sekarang mengambil kelapa milik orang lain. Kamu akan saya kutuk menjadi lambat.”

“Jangan banyak omong,” kata Mamalo sambil mengusir kupu-kupu.

Benar saja, tak lama kemudian, Mamalo benar-benar tidak bisa bergerak cepat dan gesit. Ia berjalan lambat.

Melihat kejadian tersebut, seluruh warga Huhui menamakan Mamalo sebagai kukang lambat.

Mamalo pun menyadari kesalahannya. Ia berjanji untuk tidak melakukan hal buruk lagi.

Pada akhirnya, desa Huhui menjadi damai dan tenteram.

Siniar Audio

Citation is loading...

Latih Pemahaman Membaca

Uji pemahaman Anda tentang artikel ini dengan menjawab beberapa pertanyaan interaktif yang dirancang khusus oleh AI kami.

Mulai Latihan Sekarang →
19 comments
  1. Mantap Elsa..Keren cerita nya dulu kakak kira cerita fabel ini hanya harimau kucing ternya nggak.
    Semoga kita tetap bisa berkarya, dan menginspirasi.

    1. Bagus sekali ceritanya buk elsa, disini bisa kita ambil pelajaran bahwa kita, tidak boleh mengambil yang bukan hak kita.

    2. Bagus sekali ceritanya buk elsa, disini bisa kita ambil pelajaran bahwa kita, tidak boleh mengambil yang bukan hak kita. Di tunggu karya berikutnya buk elsa

  2. Mamalo berwujud manusia juga ada loh, Mamalo congkak karena menganggap semua isi bumi ini milik Tuhan sehingga dia merasa memiliki hak untuk mengambil yang bukan miliknya. Mamalo emang manipulatif, bisa ngalihin isu, nauzubillah ngk mau ketemu sama manusia yang seperti Mamalo. Aku yakin sih di ending cerita sebenarnya Mamalo ngk berubah, hanya karena fisiknya udh ngk mumpuni lagi saja sehingga ngk lagi mencuri. Atau…..

    Keren bangett ya Kak Elsa jago nulis fabel. Jarang bgt ada yang nulis fabel. Semangat terus kakak…

    1. Bagus sekali ceritanya buk elsa, disini bisa kita ambil pelajaran bahwa kita, tidak boleh mengambil yang bukan hak kita.

  3. Keren banget nih… Alur cerita fabelnya kerasa banget feel nya kakakku..pesan moralnya di kemas dengan sangat apik sekali, rekomen buat contoh cerita fabel untuk bahan ajar ke siswa ni.

  4. Keren Elsa. Lanjutkan. Jarang ada yang bisa nulis Fabel dengan tokoh selain Kelinci atau binatang🤭🤭

  5. Luar biasa Bu Elsa. Ada pesan moral yang bisa menjadi nilai pembelajaran. Saya akan merekomendasikan ini sebagai bahan bacaan yang bagus untuk dua anak kecil saya.

  6. Bagus sekali ceritanya buk elsa, disini bisa kita ambil pelajaran bahwa kita, tidak boleh mengambil yang bukan hak kita. Di tunggu karya berikutnya buk elsa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *