Membaca Posisi Indonesia di PISA 2025: Kabar Baik, Alarm Baru, atau Sekadar Angka
Membaca Posisi Indonesia di PISA 2025: Kabar Baik, Alarm Baru, atau Sekadar Angka

Membaca Posisi Indonesia di PISA 2025: Kabar Baik, Alarm Baru, atau Sekadar Angka?

0 Shares
0
0
0

Setiap kali hasil Programme for International Student Assessment (PISA) diumumkan, percakapan publik kita mudah bergerak ke dua arah berlawanan. Yang pertama menjadikannya vonis bahwa pendidikan Indonesia tertinggal. Yang kedua menolaknya sebagai tes internasional yang tidak sepenuhnya memahami kerumitan sekolah-sekolah kita. Keduanya punya alasan. Namun, bila perdebatan berhenti pada rasa malu atau pembelaan diri, data PISA kehilangan fungsi terpentingnya: membantu kita melihat bagian pendidikan yang harus segera diperbaiki.

PISA 2025, yang dirilis Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD, 2026a, 2026b) pada 8 September 2026, memotret kemampuan siswa usia 15 tahun dalam sains, membaca, matematika, dan pemecahan masalah komputasional. Indonesia memperoleh skor rata-rata 389 dalam sains, 365 dalam membaca, 364 dalam matematika, dan 427 dalam pemecahan masalah komputasional. Seluruhnya masih di bawah rata-rata OECD: 482 untuk sains, 461 untuk membaca, 463 untuk matematika, dan 500 untuk pemecahan masalah komputasional.

Capaian Indonesia ini perlu dibaca dengan hati-hati. Dibandingkan PISA 2022, perubahan skor Indonesia tidak signifikan secara statistik: sains naik 6 poin, membaca naik 7 poin, sedangkan matematika turun 2 poin. Stabilitas setelah masa panjang gangguan pandemi tentu bukan kabar buruk. Namun, stabil juga belum cukup untuk disebut kemajuan. OECD mencatat bahwa dibandingkan 2015, proporsi siswa Indonesia yang berada di bawah level kecakapan minimum justru meningkat: 14 poin persentase dalam matematika, 18 poin persentase dalam membaca, dan 7 poin persentase dalam sains.

Di titik inilah PISA sebaiknya tidak diperlakukan sebagai papan peringkat. Ia lebih berguna sebagai cermin. Cermin tidak menyelesaikan masalah, tetapi membuat kita sulit berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja. Data PISA 2025 (OECD, 2026b) menunjukkan hanya sekitar 37 persen siswa Indonesia mencapai Level 2 atau lebih dalam sains. Pada level ini, siswa setidaknya mampu mengenali penjelasan ilmiah untuk gejala yang akrab dan memakai pengetahuan sederhana untuk menilai apakah sebuah kesimpulan sesuai dengan data. Dalam matematika, hanya 17 persen siswa Indonesia mencapai Level 2 atau lebih. Dalam membaca, angkanya sekitar 27 persen.

Tantangan terbesar pendidikan kita, dengan demikian, bukan semata-mata mengejar lebih banyak siswa berprestasi tinggi. Yang lebih mendasar ialah memastikan mayoritas anak menguasai kecakapan minimum: memahami bacaan, bernalar dengan angka, dan membaca gejala ilmiah di sekitarnya. Tanpa fondasi itu, kurikulum yang terdengar maju akan mudah berubah menjadi daftar target yang sulit menyentuh pengalaman belajar anak.

Kemampuan membaca, misalnya, tidak berhenti pada mengeja kata. Ia mencakup kemampuan menangkap gagasan utama, menilai maksud teks, membedakan fakta dan opini, serta mengambil keputusan berdasarkan informasi. Matematika juga bukan sekadar urusan rumus. Dalam kehidupan sehari-hari, ia bekerja ketika seseorang membandingkan harga, memahami risiko, membaca grafik, atau menimbang pilihan. Sains pun tidak cukup diajarkan sebagai hafalan istilah. Ia seharusnya melatih anak bertanya, memeriksa bukti, dan tidak mudah percaya pada klaim yang terdengar meyakinkan.

Namun, PISA 2025 tidak hanya membawa alarm. Ada modal penting yang patut dibaca dengan jernih. Sebanyak 80 persen siswa Indonesia menyatakan ingin tahu tentang banyak hal, lebih tinggi daripada rata-rata OECD sebesar 73 persen. Sebanyak 74 persen siswa Indonesia juga melaporkan bahwa mereka berusaha lebih keras ketika menghadapi pekerjaan yang menantang, jauh di atas rata-rata OECD sebesar 60 persen (OECD, 2026b). Artinya, rendahnya capaian belajar tidak berarti anak-anak kehilangan rasa ingin tahu atau daya juang.

Masalahnya, rasa ingin tahu tidak otomatis menjadi hasil belajar. Ia membutuhkan pengajaran yang menantang, bahan bacaan yang layak, lingkungan kelas yang aman, serta guru yang punya waktu dan dukungan untuk membimbing proses berpikir siswa. Tanpa itu, rasa ingin tahu dapat padam sebelum sempat menjadi kemampuan.

Selain dukungan pembelajaran, pola pikir siswa juga perlu diperhatikan. PISA 2025 (OECD, 2026b) mencatat hanya sekitar 30 persen siswa Indonesia memiliki growth mindset, jauh di bawah rata-rata OECD sebesar 69 persen. Istilah ini merujuk pada keyakinan bahwa kemampuan dapat berkembang melalui latihan, umpan balik, dan usaha yang tepat. Bila anak merasa kecerdasan adalah sesuatu yang tetap, ia lebih mudah menyerah ketika berhadapan dengan soal sulit. Sebaliknya, bila kesalahan diperlakukan sebagai bagian dari proses belajar, kelas menjadi ruang untuk mencoba, bukan ruang untuk takut gagal.

Tantangan berikutnya datang dari dunia digital. Siswa Indonesia melaporkan penggunaan perangkat digital untuk kegiatan belajar di sekolah rata-rata 2,5 jam per hari, lebih tinggi daripada rata-rata OECD 1,7 jam. Selain itu, 53 persen siswa Indonesia menggunakan chatbot berbasis Artificial Intelligence (AI) untuk membantu belajar setidaknya sekali seminggu (OECD, 2026b).

Data tersebut menunjukkan bahwa teknologi sudah menjadi bagian dari kehidupan belajar siswa, terlepas dari siap atau tidaknya sekolah mengelolanya. Oleh karena itu, pertanyaan pentingnya bukan lagi apakah teknologi boleh masuk ke sekolah. Pertanyaannya ialah apakah sekolah mampu mengajarkan cara menggunakan teknologi secara kritis, etis, dan produktif. AI dapat membantu siswa memahami konsep, tetapi juga dapat mendorong kebiasaan menyalin jawaban tanpa berpikir. Internet membuka akses pengetahuan, tetapi sekaligus mempercepat penyebaran informasi keliru. Sekolah perlu mengajari siswa memeriksa sumber, mengevaluasi jawaban mesin, dan menghubungkan informasi digital dengan masalah nyata.

Selain menyoroti penggunaan teknologi, PISA 2025 juga memperlihatkan bahwa pendidikan tidak berdiri di ruang kosong. Latar sosial ekonomi masih berpengaruh terhadap capaian belajar. Di Indonesia, siswa dari kelompok sosial ekonomi atas unggul 47 poin dalam sains dibandingkan siswa dari kelompok bawah. Selisih ini lebih kecil daripada rata-rata OECD sebesar 85 poin (OECD, 2026b), tetapi tetap menunjukkan bahwa kondisi keluarga, akses sumber belajar, dan mutu sekolah masih menentukan peluang anak.

Dengan demikian, memperbaiki pendidikan tidak cukup dilakukan dengan mengganti dokumen kurikulum atau menambah ujian. Perubahan harus menyentuh hal yang paling dekat dengan proses belajar: mutu pengajaran, ketersediaan buku, dukungan bagi guru, keamanan psikologis di kelas, serta bantuan bagi siswa yang tertinggal. Anak yang datang ke sekolah dalam keadaan lapar, cemas, atau terbiasa merasa gagal tidak berangkat dari garis mulai yang sama.

Berdasarkan temuan PISA 2025, ada beberapa pekerjaan mendesak yang perlu dilakukan. Pertama, literasi dan numerasi dasar harus kembali diprioritaskan. Setiap anak perlu dipastikan mampu membaca dengan pemahaman, menulis dengan jelas, menggunakan angka untuk bernalar, dan menjelaskan alasan di balik jawabannya. Ini terdengar sederhana, tetapi justru di situlah banyak sistem pendidikan gagal.

Kedua, pelatihan guru perlu bergerak dari urusan administratif menuju praktik mengajar yang nyata. Guru membutuhkan dukungan untuk mengajukan pertanyaan yang memantik nalar, memberi umpan balik yang membantu, mengelola kelas yang beragam, dan menggunakan hasil asesmen untuk menolong siswa yang tertinggal. Kualitas pembelajaran tidak akan berubah jika guru terus dibebani laporan dan tidak memiliki cukup ruang untuk memperbaiki cara mengajar.

Ketiga, sekolah perlu membangun budaya belajar yang tidak menghukum kesalahan. Jika hanya jawaban benar yang dihargai, siswa akan bermain aman. Padahal, kemampuan abad ini menuntut keberanian mencoba, memperbaiki jawaban, dan melihat masalah dari lebih dari satu sudut.

Keempat, teknologi pendidikan harus dikawal dengan literasi. Penggunaan AI, perangkat digital, dan platform belajar tidak boleh berhenti pada kesan modern. Ukurannya harus tetap sama: apakah teknologi membuat siswa berpikir lebih baik, membaca lebih teliti, dan memahami masalah dengan lebih mendalam.

Pada akhirnya, PISA 2025 adalah kabar baik sekaligus alarm. Ia kabar baik karena menunjukkan bahwa banyak siswa Indonesia masih memiliki rasa ingin tahu dan ketekunan. Ia alarm karena kecakapan dasar belum cukup kuat untuk menopang cita-cita pendidikan yang lebih tinggi. PISA akan menjadi sekadar angka jika setelah membacanya kita kembali sibuk mencari alasan.

Pendidikan Indonesia tidak akan berubah karena satu laporan internasional. Namun, laporan seperti PISA membantu kita mengajukan pertanyaan yang lebih jujur.

Apakah sekolah kita sudah membuat anak mampu membaca dunia, bukan hanya membaca buku pelajaran?

Apakah matematika kita sudah melatih nalar, bukan hanya mengejar jawaban akhir?

Apakah sains kita sudah membangun cara berpikir, bukan sekadar menambah hafalan?

Jika pertanyaan-pertanyaan itu dijawab dengan kebijakan yang serius dan praktik belajar yang lebih manusiawi, posisi Indonesia di PISA tidak perlu menjadi kecemasan berulang. Ia bisa menjadi peta kerja untuk memperbaiki masa depan belajar anak-anak Indonesia.

Daftar Referensi

Siniar Audio

Citation is loading...

Latih Pemahaman Membaca

Uji pemahaman Anda tentang artikel ini dengan menjawab beberapa pertanyaan interaktif yang dirancang khusus oleh AI kami.

Mulai Latihan Sekarang →
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *