Mentari di Tengah Badai
Mentari di Tengah Badai

Mentari di Tengah Badai*)

0 Shares
0
0
0

Malam hari, pantai menjadi tempat yang memikat dengan suasana yang tenang dan misterius. Di bawah cahaya bulan yang bersinar di langit gelap, ombak bergerak dengan lembut ke tepi pantai, menciptakan melodi yang menenangkan jiwa. Pasir putih yang halus berkilau di bawah cahaya remang-remang, sementara pepohonan di sekitar pantai bergoyang pelan oleh angin malam. Suara riuh rendah dari jauh, mungkin suara riuh kota atau suara lembut dari hewan-hewan malam, membuat malam terasa tentram.

“Di mana ini?” tanya seorang gadis sambil memperhatikan sekelilingnya. Ia merasa asing. Namun, hal yang paling jelas adalah sebuah pantai. Gadis itu mencoba mengingat- ingat lagi alasan dia bisa berada di sini.

“Aku terdampar, bagaimana ini?” terlihat panik di wajahnya. Dia ketakutan dan merasa sendirian dalam kegelapan malam.

“Bagaimana kehidupanku nanti? Apa aku akan mati kelaparan?”. Semua berkecamuk dalam benaknya.

Tiba-tiba, datanglah beberapa orang yang hendak menjala ikan, lengkap dengan peralatan yang mereka bawa.

“Permisi anak muda, mengapa kamu di sini? Apa yang terjadi padamu?” tanya salah seorang di antara mereka.

“Maaf, Apak, saya terdampar di sini karena kapal yang saya tumpangi mengalami musibah. Saya tidak tahu ini di mana” jawab gadis itu.

“Oh, begitu rupanya, tapi jauh juga hingga bisa sampai ke sini, Nak.” Apak itu malah tertawa, “Tempat ini bernama Desa Nandala. Di desa ini dulu ada seorang raja yang dikenal bernama Raja Nandala. Beliaulah yang membangun desa ini. Maka, untuk menghargai jasa beliau, kami sepakat memberi nama desa ini Desa Nandala.” jawab Apak itu sambil tersenyum.

“Begitu rupanya.” pikir gadis itu.

“Siapa namamu, Nak?” celetuk salah seorang di antara mereka. “Nama saya Deinna, Apak.” jawabnya sambil tersenyum.

Uda, kenapa anak ini tidak kita bantu saja? Dia pasti masih sangat kaget dengan kejadian yang menimpanya. Nanti juga masyarakat lain pasti menerimanya.” sela seorang warga memberikan pendapat.

“Kita tidak tahu latar belakang anak ini.” jawab mereka.

“Dia anak yang baik, percayalah padaku.” ucap kepala desa yang kebetulan berada di sana.

“Kamu tidak lihat cara dia berbicara? Dia baik.”

Akhirnya, Deinna setuju tinggal di Desa Nandala. Hatinya diliputi kegembiraan akan kenyamanan dan keindahan alam desanya. Deinna mudah bergaul dan akrab dengan anak- anak. Deinna selalu ikut bermain, bahkan mengajarkan mereka hal-hal baru. Masyarakat desa kagum dengan keramahan dan kepekaannya. Deinna benar-benar diterima di sini.

***

Malam ini tepat lima hari Deinna tinggal di Desa Nandala. Deinna memutuskan pergi ke pantai yang dekat dari rumah yang dia tinggali, yaitu rumah Pak kepala desa. Dia duduk di hamparan pasir, sepasang matanya menatap langit malam berhiaskan bintang-bintang, cahaya bulan menyinari terang, dan ia begitu menikmati derai ombak yang datang dan pergi.

“Aku tidak ingin pulang, nyaman sekali di sini. Penduduk benar-benar menerimaku, tidak ada yang membenciku, tidak ada yang memukul ragaku di sini. Aku tidak akan pulang.” ucapnya.

“Di sini aku merasakan kehangatan yang sesungguhnya, mereka memeluk raga ini bukan menyiksanya. Aku nyaman di sini…” lanjutnya.

“Jadi itu alasan kamu selalu memakai baju lengan panjang? Banyak luka ya?” tiba- tiba suara itu muncul dan seseorang duduk di sebelah Deinna. Dia adalah Nik, adik dari Pak kepala desa.

“Apa-apaan kamu? Kenapa kamu di sini? Jangan sok tahu tentangku.” ucap Deinna padanya. Dienna membisu tidak memberi jawaban.

“Aku bertanya, kenapa tidak kau jawab? Kenapa kau malah bertanya balik dan mengatakan aku sok tahu, Dienna? Aku sudah tahu dari awal kamu datang ke sini.” jawab Nik.

Dienna yang mendengar jawaban Nik pun kaget, terlihat jelas wajahnya menunjukkan kebingungan.

“Bagaimana dia bisa tahu?” pikirnya.

“Aku tidak sengaja lihat di tanganmu ada luka goresan begitu juga di belakang lehermu.

Maaf, aku tidak bermaksud apa-apa” jelasnya. “Tidak apa.” jawab Dienna singkat.

Hening, tidak ada percakapan di antara mereka. Mereka berdua hanya fokus pada suara ombak yang tenang di pantai itu.

“Aku mau pulang.” ucap Dienna tiba-tiba, memecahkan keheningan malam.

“Ya sudah, hati-hati,” jawab Nik sambil tersenyum melihat Dienna berjalan pergi.

Tepat bulan ketiga Dienna tinggal di desa ini, muncullah berbagai masalah di Desa Nandala. Gagal panen dan terjangkitnya penyakit menular. Peristiwa ini merupakan hal baru yang terjadi di Desa Nandala. Ini adalah tanda-tanda. Masyarakat mulai menduga, jangan – jangan ini ulah Dienna. Sebelumnya, belum pernah desa ini ditimpa bencana. Kedatangan

Dienna membawa petaka. Kepala desa dan para tetua berkumpul di rumah kepala desa bermusyawarah menyelesaikan masalah ini.

“Itu yang Bapak katakan baik? Gara-gara anak itu desa ini terkena musibah!” ucap seorang bapak sambil menunjuk-nunjuk Dienna. Dienna hanya bisa menundukkan kepalanya.

“Sudah-sudah! Tolong jaga bicara kamu. Kita harus berkepala dingin menyelesaikan masalah.” teriak salah satu tetuah.

“Aku tahu siapa anak ini dan memahami latar belakangnya.” kata seorang tetuah, bernama Datuak Kharim. Perkataan Datuak Kharim membuat mereka diam.

“Biar aku ceritakan kisahnya. Dahulu kondisi desa ini sangat memprihatinkan, kacau, dan kehidupan masyarakatnya sangat melarat sehingga mereka menderita sekali. Leluhur kita tidak tahu cara bertani yang baik. Jadi, datanglah Raja Nandala yang jatuh cinta dengan desa ini. Raja itu merasa iba dan prihatin dengan kondisi desa saat itu. Sang Raja pun mulai membangun pemerintahannya, terjun langsung mengajarkan masyarakat desa bagaimana cara bertani yang baik dan menuai padi dengan tepat. Sumur-sumur sebagai sumber mata air mulai digali dan kincir air pun dibuat, memudahkan pengairan sehingga memudahkan masyratakat dalam bertani. Seiring berjalannya waktu desa itu pun berkembang menjadi desa yang makmur sehingga terkenal. Tak mengherankan leluhur kita mengagumi Raja Nandala. Kedamaian di desa ini tak berlangsung lama. Desa kita diserang oleh Raja Derry, Raja Derry inilah yang mempunyai hubungan darah dengan Deinna.” jelasnya dan berhenti bicara. Mereka semua benar-benar kaget mendengar hal itu, begitupun dengan Deinna yang baru tahu masa lalu kakeknya adalah seorang raja.

Tiba-tiba Datuak Kharim melanjutkan, “Pada masa itu, Raja Derry benar-benar menghancurkan desa ini. Korban jiwa berjatuhan di mana-mana. Raja Nandala meregang nyawa di tangan Raja Derry. Leluhur kita tak terima, keadaan desa makin kacau akibat ulah Raja Derry yang bertindak semena-mena. Raja Derry yang menetapkan pajak dengan nilai nominal yang tinggi ketika mereka gagal panen akibat peperangan. Tidak hanya itu, bahkan mematikan sumber air sehingga sawah pun kering dan terancam gagal panen.

Datuak Suro leluhur kita tidak tinggal diam, dengan ilmu sakral yang tinggi menantang Raja Derry untuk berduel. Raja Dery menerima tantangan tersebut. Raja Derry yang awalnya meremehkan Datuak Suro karena usianya, ternyata tenaga Datuak Suro jauh lebih kuat daripadanya. Hal inilah yang membuat Raja Derry kalah dan dia tidak menjadi raja lagi. Datuak Suro beramanah siapa saja keturunan Raja Derry tidak boleh tinggal di desa ini. Jika keturunannya menginjakan kaki ke tanah ini, maka desa ini akan mengalami kekacauan yang besar dan pasti menderita. Hendaklah keturunannya itu mati.”

“Kau dengar sendirikan Deinna? Kamu harus mati.” ucap seorang bapak. “Jangan gegabah mengambil keputusan, Pak,” balas Kepala Desa.

“Kenapa Bapak masih saja membela dia? Ini demi desa kita! Dia hanya orang asing di sini.”

Dienna merasa sangat-sangat bersalah. Dia menjadi penyebab peristiwa ini terjadi. Ia tertegun lalu berkata, “Baiklah, Apak-apak dan petuah yang hadir, saya benar-benar bersalah. Silakan berikan hukuman yang setimpal atas kesalahan leluhur saya.” perkataan Dienna membuat mereka kaget, padahal Dienna siap dan ikhlas dengan nasibnya.

“Tuhan, Dienna serahkan semua beban ini pada-Mu. Tunjukkan Ridho-Mu agar bisa melupakan semua ini, berilah kedamaian karena jalan yang kutempuh masih panjang dan berliku.” Dienna berdoa dalam hati.

Tiba-tiba langit cerah membentang di atas hamparan yang menghijau, pepohonan tinggi menjulang, berayun pelan ditiup angin sepoi-sepoi. Burung-burung pun berkicau riang, menciptakan simfoni alam yang menenangkan. Di kejauhan, aliran sungai berkilauan di bawah sinar matahari, airnya yang jernih mengalir tenang, membawa kesejukan bagi setiap makhluk yang mendekat. Bunga-bunga liar berwarna-warni bermekaran di sepanjang jalan setapak, mengundang kupu-kupu dan lebah yang sibuk mengumpulkan sari bunga. Udara segar sehingga membuat setiap tarikan napas terasa menyegarkan. Daerah ini adalah surga kecil di bumi, yang siap menyambut setiap pengunjung dengan kedamaian dan ketenangan.

“Dienna…” lirih Pak kepala desa.

“Tidak masalah, Pak. Terima kasih telah merawat saya. Maafkan leluhur saya di masa lalu telah menggoreskan luka yang masih mendalam. Tolong, sampaikan, ya, Pak.” jelas Dienna. “Dienna tidak ingin ada luka di atas luka. Bapak baik, benar-benar baik.”

Mereka yang hadir terperangkap dalam keharuan mendalam. Dienna yang tidak tahu sejarah masa lalunya, harus menanggung beban psikologis akibat ulah leluhurnya.

Dienna diberi kesempatan oleh warga menetap di desa itu. Dienna semangat sekali tanpa pamrih mengabdi, pembangunan sekolah untuk anak-anak desa menjadi target pertama dan utama. Setelah peristiwa itu, keadaan desa perlahan kembali seperti sedia kala. Masyarakat semakin sadar akan peristiwa yang menimpa Dienna dan menerima Dienna sebagai bagian dari mereka. Memang benar sesuatu itu indah pada waktunya.

Kemajuan yang terjadi di Desa Nandala disambut dengan gembira oleh masyarakat. Sebagai bentuk ungkapan syukur dan terima kasih kepada Deinna mengadakan acara makan bersama.

Keesokan harinya penduduk desa sibuk mempersiapkan acara makan bajamba di Desa Nandala. Persiapan untuk makan bajamba dimulai sejak pagi hari. Para wanita berkumpul di dapur besar untuk memasak berbagai hidangan khas Desa Nandala. Mereka memasak dengan hati gembira, resep turun-temurun dipraktikkan, kaya akan rempah, dan cita rasa yang menggugah selera.

Piring-piring besar dan nampan-nampan lebar disiapkan, diisi dengan berbagai hidangan seperti rendang daging yang gurih, gulai ayam yang kaya rempah, sambal lado terasi, dan berbagai jenis sayuran yang dimasak dengan santan.

Tikar dan kain panjang pun digelar di lantai sebagai alas duduk. Para petuah dan tokoh masyarakat memimpin acara dengan doa dan nasihat bijak sebelum makan dimulai. Hidangan- hidangan tersebut kemudian diletakkan di tengah-tengah, dan mereka pun makan duduk melingkar, tanda kebersamaan dan persaudaraan. Ketika semua sudah siap, aba-aba diberikan dan semua orang mulai menikmati hidangan bersama. Suasana penuh keakraban dan kekeluargaan terasa begitu kental. Sambil makan, mereka berbincang dan bercanda, mempererat tali silaturahmi. Selesai makan, mereka pun bersalaman dan berpelukan sebagai ungkapan syukur dan sukacita. Akhirnya, kehadiran Dienna bukan petaka, tapi memberi manfaat bagi masyarakat Nandala.


*) Teks cerita pendek yang ditulis oleh Juwita Rahayu Fafilaya ini mendapatkan Juara 1 pada Festival Lomba Seni Siswa Nasional (FL2SN) se-Kota Padang Tahun 2024


Penulis dan Guru Pembimbing

13 comments
  1. Cerpen ini sangat bagus, plot yang disajikan juga menarik. Tokoh Dienna bagaikan mentari di tengah Badai bagi desa Nandala dapat saya simpulkan pada akhir cerita.

  2. Cerita ini menunjukkan bagaimana kehadiran seseorang, seperti Dienna, dapat memberikan manfaat dan meningkatkan kebersamaan dalam masyarakat.

  3. Cerita ini sangat menarik dan alur ceritanya sangat beruntun di akhir cerita Akhirnya, kehadiran Dienna bukan petaka, tapi memberi manfaat bagi masyarakat Nandala.

  4. Penggunaan istilah sapaan dan gelar untuk orang dewasa di dalam masyarakat Minangkabau yang dikombinasikan dengan bahasa Indonesia dengan aliran kalimat yang menggugah panca indera. Sebuah karya yang sangat luar biasa.

  5. Penggunaan istilah sapaan dan gelar untuk orang dewasa di dalam masyarakat Minangkabau yang dikombinasikan dengan bahasa Indonesia dengan aliran kalimat yang menggugah panca indera. Sebuah karya yang sangat luar biasa.

  6. JIhaan Faadhilah
    23016021
    Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
    cerita ini mengajarkan kita bahwa sapaan terhadap orang yang lebih besar itu sangat penting itu sebagai sikap menghargai

  7. Nama: Suci Indah Lestari
    Nim: 23016048
    GWA: GTBI-NS-2110
    Cerita ini menyampaikan pesan tentang kebaikan, penerimaan, dan keadilan yang dapat melampaui prasangka dan ketakutan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *