Murid Bukan Tidak Mau Belajar, Mungkin Cara Mengajarnya yang Perlu Diubah
Murid Bukan Tidak Mau Belajar, Mungkin Cara Mengajarnya yang Perlu Diubah

Murid Bukan Tidak Mau Belajar, Mungkin Cara Mengajarnya yang Perlu Diubah

0 Shares
0
0
0

Memahami perbedaan dan karakteristik murid menjadi langkah awal untuk menciptakan pembelajaran yang bermakna.

Pernahkah kita menjumpai beragam perilaku murid di kelas? Ada murid yang bersemangat menjawab pertanyaan, ada yang lebih suka berbicara dengan temannya, ada yang mudah kehilangan fokus, dan ada yang memilih diam selama pembelajaran. Ketika menghadapi situasi tersebut, barangkali pernah terbersit dalam hati seorang guru,

Mengapa mereka sulit diajak belajar?

Apakah penjelasan saya kurang jelas?”

Apakah materi ini sulit dipahami murid?

Pertanyaan itu wajar. Mengelola kelas bukanlah pekerjaan yang mudah. Guru harus mempersiapkan materi pembelajaran, mengatur suasana kelas, memastikan tujuan pembelajaran tercapai, serta memahami karakteristik dan kebutuhan murid yang berbeda-beda.

Namun, pernahkah kita juga bertanya,

Apakah murid benar-benar tidak mau belajar atau cara mengajar yang kita gunakan belum sepenuhnya sesuai dengan kebutuhan mereka?

Pertanyaan ini bukan untuk menyalahkan guru atau membenarkan perilaku murid yang mengganggu pelajaran. Sebaliknya, pertanyaan tersebut mengajak kita sebagai guru untuk melihat persoalan dari sudut pandang yang berbeda. Bisa jadi, ada hal yang perlu kita perbaiki dalam cara kita mengajar agar murid lebih mudah memahami materi dan terlibat aktif dalam pembelajaran.

Satu Kelas, Banyak Karakter

Setiap murid memiliki kemampuan, minat, pengalaman, dan kesiapan belajar yang berbeda. Ada murid yang cepat memahami penjelasan guru, tetapi membutuhkan waktu lebih lama ketika mengerjakan tugas. Ada yang berani menyampaikan pendapat dalam kelompok, tetapi kurang percaya diri ketika harus berbicara di depan kelas. Ada pula murid yang lebih mudah memahami materi ketika disertai contoh konkret. Perbedaan tersebut sering kita jumpai dalam kegiatan belajar sehari-hari. Guru perlu mempertimbangkannya saat memilih kegiatan dan dukungan belajar.

Dalam pembelajaran bahasa Indonesia, misalnya, pembahasan teks argumentasi tidak terbatas pada penjelasan mengenai struktur dan kaidah kebahasaan. Murid juga dapat menganalisis contoh teks, mendiskusikan permasalahan yang dekat dengan lingkungan atau kehidupan mereka, atau menyusun pendapat berdasarkan informasi yang telah dibaca. Hal ini bertujuan agar murid memahami dan menyusun argumen yang logis. Kegiatan yang digunakan untuk membantu mereka mencapai tujuan tersebut dapat divariasikan.

Dalam tinjauan sistematis mengenai pembelajaran berdiferensiasi di sekolah, Hu (2024) membahas pentingnya mempertimbangkan perbedaan kebutuhan murid dalam merancang pembelajaran. Hal ini mengingatkan kita bahwa guru tidak hanya menjelaskan materi, tetapi juga memastikan murid mendapat kesempatan untuk memahaminya.

Pembelajaran berdiferensiasi bukan berarti guru harus membuat tugas yang berbeda untuk setiap murid. Guru dapat memulai dengan mengenali kesulitan yang paling sering muncul, lalu menyesuaikan kegiatan atau dukungan belajar sesuai dengan kebutuhan kelas.

Di Balik Frasa “Murid Malas” Ada Cerita yang Belum Kita Dengar

Ketika murid tidak memperhatikan penjelasan atau tidak segera menyelesaikan tugas, kita terkadang langsung menganggap mereka kurang termotivasi untuk belajar, padahal perilaku yang terlihat belum tentu menggambarkan seluruh kondisi murid.

Murid yang diam belum tentu tidak memahami materi. Sebaliknya, murid yang aktif berbicara belum tentu memahami apa yang sedang dipelajari. Oleh karena itu, guru perlu melihat bukti lain, misalnya jawaban murid, hasil penugasan, pertanyaan yang diajukan, dan keterlibatan mereka selama pembelajaran.

Ketika sebagian murid belum mampu menjawab pertanyaan tentang materi yang baru dijelaskan, guru dapat memeriksa kembali apakah penjelasannya sudah cukup jelas. Jika murid mampu menjelaskan materi secara lisan, tetapi kesulitan menuangkannya dalam tulisan, barangkali mereka membutuhkan contoh dan latihan menyusun gagasan dengan dukungan bertahap (scaffolding).

Cara berpikir ini membantu guru menentukan langkah yang lebih tepat. Daripada langsung memberikan label malas atau tidak mampu, guru dapat mencari tahu kesulitan yang dihadapi murid. Tentunya, tidak semua masalah di kelas disebabkan oleh metode mengajar. Kedisiplinan, kebiasaan belajar, lingkungan, dan tanggung jawab murid juga berpengaruh. Namun, memeriksa kembali cara mengajar merupakan salah satu langkah yang dapat dilakukan guru untuk memperbaiki pembelajaran.

Pembelajaran yang Memberi Ruang bagi Semua Murid

Selain pembelajaran berdiferensiasi, guru juga dapat mempertimbangkan pendekatan Universal Design for Learning (UDL). Organisasi CAST (2024) menjelaskan bahwa kerangka UDL memuat panduan yang mendorong pendidik menyediakan beragam cara untuk melibatkan murid, menyajikan informasi, serta memberikan kesempatan kepada mereka untuk menunjukkan pemahamannya. Misalnya, ketika mempelajari teks argumentasi, guru dapat memberikan contoh teks tertulis, mengajak murid berdiskusi, dan meminta mereka menyusun argumen secara mandiri. Variasi kegiatan tersebut diarahkan pada tujuan pembelajaran yang sama.

King-Sears et al. (2023) melakukan metaanalisis terhadap penelitian tentang capaian belajar dalam pembelajaran berbasis UDL. Hasil analisis menunjukkan adanya dampak positif secara keseluruhan terhadap capaian akademik murid yang mengikuti pembelajaran tersebut. Temuan ini memberikan alasan untuk mempertimbangkan desain pembelajaran yang lebih fleksibel meski hasilnya tetap perlu dipahami berdasarkan konteks dan karakteristik penerapannya.

Namun, penerapan pembelajaran yang responsif terhadap kebutuhan murid bukan tanpa tantangan. Melalui tinjauan sistematis, Zhang et al. (2024) mengkaji berbagai hambatan dalam penerapan UDL. Kajian tersebut menunjukkan bahwa perencanaan pembelajaran yang inklusif membutuhkan pemahaman, persiapan, dan penyesuaian dengan kondisi nyata di kelas. Artinya, guru tidak harus langsung mengubah seluruh metode yang selama ini digunakan. Hal yang lebih penting ialah memahami kebutuhan dan karakteristik murid, menentukan strategi yang sesuai, serta mengevaluasi strategi yang digunakan.

Mulai dari Hal Sederhana

Apa yang dapat dilakukan guru?

Pertama, evaluasi pemahaman murid sebelum melanjutkan materi. Guru dapat memberikan pertanyaan singkat, meminta murid menuliskan hal yang sudah dipahami, atau meminta mereka menyebutkan bagian yang masih membingungkan. Dari kegiatan sederhana ini, guru dapat memperoleh gambaran tentang kebutuhan belajar murid.

Kedua, gunakan contoh yang dekat dengan kehidupan sehari-hari murid. Ketika membahas teks argumentasi, misalnya, guru dapat mengangkat persoalan penggunaan gawai di sekolah, kebiasaan membaca, atau pengaruh media sosial. Topik yang dekat dengan pengalaman murid dapat menjadi bahan untuk melatih mereka menyampaikan pendapat dan memberikan alasan yang logis.

Ketiga, variasikan kegiatan pembelajaran. Murid dapat membaca contoh teks, berdiskusi dalam kelompok, menyusun kerangka tulisan, atau menyampaikan hasil pemikirannya. Guru tidak harus menggunakan semua kegiatan tersebut dalam satu pertemuan. Pilihlah kegiatan yang paling sesuai dengan tujuan dan kondisi kelas.

Keempat, berikan umpan balik yang jelas. Ketika murid melakukan kesalahan, guru tidak cukup hanya menyampaikan bahwa jawabannya salah. Akan lebih membantu jika guru menunjukkan bagian yang perlu diperbaiki dan memberikan arahan mengenai langkah berikutnya.

Dalam tinjauan sistematis mengenai asesmen formatif dan umpan balik di pendidikan tinggi, Morris et al. (2021) membahas manfaat sejumlah strategi umpan balik, termasuk kuis dengan bobot penilaian rendah serta umpan balik dari pengajar dan teman sebaya. Karena penelitian tersebut berfokus pada pendidikan tinggi, penerapannya di sekolah menengah tetap perlu disesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi murid.

Kelima, lakukan evaluasi setelah pembelajaran. Apakah murid semakin mampu menjelaskan materi? Apakah tugas yang dikumpulkan menunjukkan perkembangan? Apakah murid yang sebelumnya kesulitan mulai memahami materi setelah diberikan contoh atau latihan tambahan?

Jawaban atas pertanyaan tersebut perlu didasarkan pada bukti, bukan sekadar perasaan bahwa pembelajaran berjalan lebih baik. Dengan begitu, guru dapat mengetahui apakah strategi yang digunakan memang membantu murid atau masih perlu diperbaiki.

Barangkali, sebelum bertanya mengapa murid tidak mau belajar, kita perlu terlebih dahulu bertanya,

Apakah kita sudah memberi mereka kesempatan belajar dengan cara yang tepat?

Citation is loading...

Latih Pemahaman Membaca

Uji pemahaman Anda tentang artikel ini dengan menjawab beberapa pertanyaan interaktif yang dirancang khusus oleh AI kami.

Mulai Latihan Sekarang →
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *