Nasib Toko Bundo
Nasib Toko Bundo

Nasib Toko Bundo

0 Shares
0
0
0

Di sebuah sudut pusat kota, di sebuah kawasan perdagangan yang makin ramai, terdapat sebuah toko yang mulai tersudut karena toko-toko di sekelilingnya ramai dikunjungi pembeli sementara toko itu sepi. Toko tersebut adalah “Bundo”, toko sepatu dan sandal tradisional. Di toko tersebut, dijual beraneka sepatu dan sandal yang terbuat dari bahan kulit dan bermotif tradisional.  

Dua puluh tahun yang lalu, toko tersebut merupakan toko kebanggaan warga kota dan dianggap toko berkelas karena menjual sepatu dan sandal klasik yang berkualitas, kuat, dan harganya relatif murah. Pak Rachmat, yang lebih sering dipanggil Mak Datuak, pendiri toko tersebut lima tahun yang lalu meninggal pada usia relatif tua, 80 tahun. Sementara itu, Bu Rachmat juga sudah meninggal dua tahun yang lalu. Sekarang, toko tersebut dikelola oleh Mahmud, anak bungsu Pak Rachmat. Anak-anak Pak Rahmat yang lain, Dewi, Budi, dan Tati sudah berkeluarga dan tinggal di daerah lain. Meskipun begitu, keuntungan bisnis dibagi secara adil untuk keempat anak-anak Pak Rachmat.

Perkembangan kota mengakibatkan toko “Bundo” semakin sepi. Mahmud mulai berputus asa dan merasa tidak mampu mempertahankan toko tersebut. Mahmud pun tergiur oleh tawaran pemilik pabrik sepatu “Sprint” yang ingin membeli toko tersebut. Menurut Mahmud, harga penawaran yang diajukan pihak “Sprint” sangat menggiurkan. Jika toko itu dijual kepada “Sprint”maka uang yang akan diterima dapat dijadikan sebagai modal usaha di daerah lain yang mulai berkembang. Mahmud berkeyakinan bahwa berusaha di daerah yang mulai berkembang itu lebih menguntungkan dibandingkan dengan mempertahankan toko “Bundo” yang mulai tergilas karena kemunculan toko-toko sepatu baru yang menjual sepatu-sepatu dan sandal modern dan sesuai dengan selera konsumen.

Sikap saudara-saudara Mahmud ternyata bervariasi berkaitan dengan kemungkinan penjualan toko tersebut. Secara umum, gambaran tokoh dan sikap-sikap mereka adalah sebagai berikut.

Dewi: Berusia 52 tahun, berprofesi dokter spesialis tulang, bekerja di sebuah rumah sakit ternama di sebuah kota besar. Dewi memiliki 3 orang anak. Suami Dewi juga seorang dokter spesialis tulang. Hidup keluarga Dewi sudah mapan. Menurut Dewi, sebaiknya toko “Bundo” tidak dijual, tetap dipertahankan karena merupakan kebanggaan keluarga dan warga kota. Dewi bersedia memberikan tambahan modal untuk merehab dan mempermodern toko tersebut.
Budi:Berusia 45 tahun, berprofesi sebagai pengacara terkenal di sebuah kota besar. Budi memiliki 2 orang anak, sementara istrinya tidak bekerja. Meskipun demikian, kehidupan Budi juga dapat dikatakan sudah mapan. Menurut Budi, sebaiknya toko “Bundo” dijual saja. Bahkan, Budi berjanji tidak akan menerima uang hasil penjualan toko itu, biarlah uang itu untuk modal Mahmud, si bungsu. Budi berpendapat bahwa dengan menjual sepatu dan sandal tradisional maka toko “Bundo” akan semakin sepi. Ia juga berpendapat bahwa jika Mahmud pindah ke kota lain yang baru berkembang maka kehidupan Mahmud akan membaik.
Tati:Berusia 42, seorang guru SMA. Suaminya guru SMP, bahkan menduduki jabatan sebagai kepala sekolah. Meskipun kehidupannya tidak semapan Dewi dan Budi, kehidupan Tati dan keluarga sudah mandiri. Menurut Tati, sebaiknya toko “Bundo” tidak dijual karena sejalan dengan perkembangan kota harga toko itu akan semakin melambung karena letaknya sangat strategis. Lebih dari itu, Tati berpendapat bahwa sebaiknya di toko “Bundo” tidak lagi dijual sepatu dan sandal tradisional tetapi diganti dengan barang lain yang sesuai dengan tuntutan kehidupan modern, yaitu telepon seluler atau handphone (HP). 
Mahmud:Berusia 37 tahun, Sarjana Ekonomi, memilih kehidupan sebagai pengelola toko “Bundo” bersama istrinya. Mahmud memiliki dua orang anak yang masih kecil, si sulung baru duduk di kelas I SD, sedangkan si bungsu baru berumur 3 tahun. Mahmud merasa bahwa usahanya semakin menurun, bahkan terancam bangkrut karena harus membayar pajak, memelihara bangunan, serta menggaji tiga orang karyawan sementara tokonya semakin sepi. Mahmud berpendapat bahwa bisnis sepatu dan sandal tradisional kurang menjanjikan. Selain itu, Mahmud juga merasa jenuh mengelola toko di kota itu, ia ingin pindah ke kota atau daerah lain. Ia ingin merantau, seperti halnya ketiga kakaknya. 

Dua hari sesudah lebaran, Pak Alex, pemilik pabrik sepatu “Sprint” mendatangi Mahmud yang kebetulan sedang berkumpul dengan kakak-kakaknya. Di ruang tamu, terjadilah perundingan antara Mahmud, Tati, Budi, dan Dewi dengan Pak Alex.

Tugas kelompok: Tampilkanlah suasana dan proses perundingan tersebut karena sangat menentukan nasib toko “Bundo”.  Jadilah KELOMPOK PENAMPIL TERBAIK!

5 comments
  1. Menurut saya cerita tentang Toko Bundo ini dapat meningkatkan cara berfikir yang kritis dan bagaimana cara mengambil keputusan yang tepat dengan banyak nya pertimbangan. Menurut saya sendiri Toko Bundo seharus nya dijual saja atau ganti barang yang dijual nya (tidak sendal dan sepatu tradisonal) karena zaman sudah berubah orang-orang cenderung sudah tidak lagi tertarik dengan model sendal ataupun sepatu tradisonal.

  2. Nama: Tiara jayani
    No. Urut : 08
    Gwa: GTBI_NS_0001
    Teks ini menunjukkan pentingnya mempertimbangkan berbagai sudut pandang dan kepentingan dalam pengambilan keputusan keluarga atau bisnis. Setiap anggota keluarga memiliki pandangan yang berbeda-beda berdasarkan latar belakang dan pengalaman hidup mereka. Meskipun terjadi perbedaan pendapat, penting untuk mendengarkan dan menghargai sudut pandang setiap individu serta mencari solusi yang menguntungkan bagi semua pihak.

  3. Nama: Muhammad Abrar
    No. Urut : 07
    Gwa: GTBI_NS_0001
    Menurut saya toko “Bundo” sebaiknya tidak dijual, saya lebih tertarik dengan pendapat saudari Mahmud yang bernama Dewi dan Tati, saya marasa toko “Bundo” akan kembali seramai dulu, jika mereka semua bekerja sama membangun toko, seperti dewi yang ingin menyuntikan dana, dll, toko “Bundo” sebaikya di renovasi besar-besar-an agar bisa bersaing dengan toko-toko disekelilingnya, dan saudara/saudari mahmud juga bisa mempromosikan toko kepada kenalannya, karena saya lihat dari pekerjaan mereka, adalah pekerjaan yang mencakup relasi yang luas

  4. Apakah dialog dalam drama ini dibuat sendiri oleh para peserta kelompok, Pak? Kalau begitu maka paparan di atas merupakan konteks dari drama yang akan dibuat. Sehingga drama yang dapat disajikan dapat memiliki banyak versi?

  5. Teks ini menggambarkan konflik internal di dalam keluarga terkait keputusan untuk menjual atau mempertahankan toko “Bundo”, sebuah toko sepatu dan sandal tradisional. Setiap anggota keluarga memiliki pandangan dan motivasi yang berbeda-beda berdasarkan latar belakang dan situasi pribadi mereka.

    Dewi, sebagai salah satu dari anak-anak pemilik toko, menunjukkan kebanggaannya terhadap warisan keluarga dan pentingnya mempertahankan tradisi. Dia siap untuk memberikan tambahan modal untuk merevitalisasi toko tersebut.

    Budi, di sisi lain, melihat bahwa bisnis sepatu dan sandal tradisional tidak lagi menjanjikan di tengah pesatnya perkembangan kota dan perubahan selera konsumen. Dia mendukung ide untuk menjual toko tersebut, bahkan menawarkan untuk tidak menerima bagian dari hasil penjualan untuk membantu adiknya, Mahmud.

    Tati, dengan perspektifnya sebagai seorang guru dan melihat potensi strategis lokasi toko, percaya bahwa menjaga toko “Bundo” dan mengubahnya menjadi bisnis yang sesuai dengan tuntutan zaman akan lebih menguntungkan. Ide untuk mengganti barang yang dijual menjadi barang modern seperti handphone menunjukkan adaptasi terhadap perubahan tren konsumen.

    Mahmud, sebagai pengelola toko yang merasa tertekan dengan kondisi bisnis yang semakin menurun, melihat penjualan toko sebagai solusi untuk menghindari potensi kebangkrutan dan juga sebagai kesempatan untuk merantau dan mencoba peruntungannya di tempat lain.

    Perundingan dengan Pak Alex dari pabrik sepatu “Sprint” menandai titik balik dalam perjalanan toko “Bundo”. Keputusan akhir akan mempengaruhi tidak hanya masa depan bisnis, tetapi juga hubungan di antara anggota keluarga itu sendiri. Konflik antara tradisi, kebutuhan finansial, dan visi pribadi menjadi sorotan dalam cerita ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *