Pelukan Lewat Lagu: It Feels So Real
Pelukan Lewat Lagu: It Feels So Real

Pelukan Lewat Lagu: It Feels So Real

0 Shares
0
0
0

Kadang, ada perasaan yang sulit dijelaskan dengan kata-kata entah karena lelah, rindu, atau sekadar ingin dimengerti. Tapi lewat lagu, semuanya terasa lebih jujur dan dekat, seperti pelukan yang diam-diam menguatkan. Di setiap nada dalam OST film animasi “Jumbo”, ada kehangatan yang seolah berkata, “kamu nggak sendiri.” Di situlah musik terasa nyata “it feels so real”. Musik menjadi “bahasa” lain untuk menampung emosi yang tidak tersampaikan. Tanpa banyak kata, seseorang bisa merasa dipahami hanya dari alunan nada dan lirik, sehingga menunjukkan bahwa musik berperan penting sebagai media ekspresi emosi (Sukemi et al., 2023).

Fenomena ini semakin terasa di kalangan generasi muda, khususnya Gen Z. Musik tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga menjadi sarana untuk mengatur suasana hati dan menenangkan diri. Banyak remaja menggunakan musik sebagai cara untuk menghadapi tekanan emosional yang mereka alami (Rahmawati & Saptandari, 2020). Bahkan, musik juga berperan dalam membentuk identitas diri seseorang melalui pengalaman mendengarkan yang berulang (Setiadi & Yuliati, 2025).

Menariknya, pengalaman mendengarkan musik sering kali digambarkan sebagai sesuatu yang terasa nyata. Frasa seperti “it feels so real” menggambarkan bagaimana lagu mampu menghadirkan pengalaman emosional yang begitu dekat dengan kehidupan pendengarnya. Hal ini menunjukkan bahwa musik tidak hanya didengar, tetapi juga dirasakan secara mendalam dalam kehidupan sehari-hari (Izza & Natalia, 2025).

Makna “Pelukan” sebagai Simbol Kehangatan dalam Lagu

Dalam konteks ini, “pelukan” bukan hanya sekadar sentuhan fisik, tetapi juga simbol dari rasa aman, nyaman, dan diterima. Pelukan menjadi bentuk dukungan emosional yang mampu menenangkan seseorang ketika berada dalam kondisi tidak baik. Menariknya, sensasi tersebut juga dapat dirasakan melalui musik. Lagu mampu menciptakan kedekatan emosional antara pendengar dan isi lagu itu sendiri. Melalui lirik dan melodi, seseorang bisa merasa seolah-olah dipahami tanpa harus menjelaskan apa pun. Musik menjadi media yang membantu individu mengekspresikan dan merasakan emosinya secara lebih bebas (Sukemi et al., 2023).

Selain itu, musik juga berfungsi sebagai sarana coping atau cara untuk menghadapi tekanan. Ketika seseorang merasa sedih atau lelah, mendengarkan lagu dapat memberikan efek menenangkan, seperti halnya pelukan yang memberi rasa nyaman. Hal ini sejalan dengan penelitian yang menyebutkan bahwa musik dapat membantu mengurangi stres dan memberikan ketenangan psikologis (Izza & Natalia, 2025). Dengan demikian, “pelukan” dalam lagu dapat dimaknai sebagai bentuk kehadiran emosional yang tidak terlihat, tetapi mampu memberikan dukungan yang nyata bagi pendengarnya.

“It Feels So Real” : Pengalaman Emosional yang Nyata dari Musik

Frasa “it feels so real” menggambarkan bahwa pengalaman mendengarkan musik tidak hanya sekadar hiburan, tetapi juga pengalaman emosional yang mendalam. Musik mampu menghadirkan kembali kenangan atau perasaan tertentu yang pernah dialami seseorang. Lagu sering kali menjadi penghubung antara emosi dan pengalaman hidup. Ketika seseorang mendengarkan lagu tertentu, ia bisa teringat pada momen tertentu dalam hidupnya. Hal ini menunjukkan bahwa musik memiliki keterkaitan yang erat dengan memori dan emosi (Setiadi & Yuliati, 2025).

Selain itu, musik juga dapat memperkuat emosi yang sedang dirasakan. Seseorang yang sedang sedih cenderung memilih lagu yang sesuai dengan suasana hatinya, sehingga emosi tersebut terasa lebih kuat dan nyata. Proses ini menunjukkan bahwa musik berperan dalam regulasi emosi individu (Rahmawati & Saptandari, 2020). Tidak hanya itu, pengalaman emosional yang dihadirkan musik juga dapat memberikan rasa lega atau catharsis. Dengan mendengarkan lagu, seseorang dapat “melepaskan” perasaan yang selama ini terpendam. Oleh karena itu, tidak heran jika musik sering dianggap sebagai pengalaman yang benar-benar terasa nyata bagi pendengarnya.

Perpaduan Bahasa sebagai Representasi Ekspresi Gen Z

Penggunaan campuran bahasa Indonesia dan Inggris dalam judul mencerminkan gaya komunikasi Gen Z yang fleksibel dan ekspresif. Generasi ini terbiasa menggunakan bahasa secara dinamis, terutama dalam media sosial dan kehidupan sehari-hari. Bahasa tidak hanya berfungsi sebagai alat komunikasi, tetapi juga sebagai bagian dari identitas sosial. Penggunaan bahasa gaul dan campuran menunjukkan bagaimana generasi muda mengekspresikan diri mereka dengan cara yang lebih santai dan relatable (Nur’anggraini et al., 2025).

Selain itu, perkembangan media digital juga memengaruhi cara generasi muda berbahasa. Akses terhadap berbagai budaya global membuat mereka lebih terbuka dalam menggunakan bahasa campuran sebagai bentuk ekspresi (Amelia et al., 2024). Dalam konteks ini, penggunaan frasa “it feels so real” tidak hanya memperkuat makna emosional, tetapi juga mencerminkan identitas Gen Z yang kreatif dan adaptif (Nur’anggraini et al., 2025). Bahasa menjadi sarana untuk menyampaikan perasaan secara lebih efektif dan dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Musik memiliki kekuatan yang besar dalam menghadirkan pengalaman emosional yang mendalam. Lagu dapat menjadi “pelukan” yang memberikan rasa aman, nyaman, dan dipahami tanpa perlu interaksi langsung. Pengalaman ini terasa nyata karena musik mampu menghubungkan emosi, memori, dan pengalaman hidup seseorang. Selain itu, penggunaan bahasa campuran dalam judul mencerminkan cara Gen Z mengekspresikan diri yang lebih bebas dan dinamis. Bahasa menjadi bagian penting dalam memperkuat makna dan membuat pesan lebih mudah diterima. Sebagai saran, musik sebaiknya tidak hanya dipandang sebagai hiburan, tetapi juga sebagai media untuk memahami dan mengelola emosi. Selain itu, penggunaan bahasa dalam karya kreatif perlu terus dikembangkan agar mampu menyampaikan pesan secara lebih efektif dan sesuai dengan perkembangan zaman.

Daftar Pustaka
  • Amelia, D., Putri, Y. R., & Daulay, I. S. (2024). Analisis perkembangan bahasa Indonesia di era digital: Tantangan dan peluang. Fonologi: Jurnal Ilmuan Bahasa dan Sastra Inggris2(4), 249–257. https://doi.org/10.61132/fonologi.v2i4.1235
  • Izza, N. Z., & Natalia, V. R. (2025). Peran musik untuk mengatasi stres dan krisis mental Gen Z di era digital. SWARA: Jurnal Antologi Pendidikan Musik5(1), 113–124. https://doi.org/10.17509/swara.v5i1.84569
  • Nur’anggraini, D., Prasetiani, I. H., & Kusnadi, N. M. (2025). Pengaruh bahasa gaul Gen Z terhadap kemurnian bahasa Indonesia. Karimah Tauhid4(8), 5530–5534. https://doi.org/10.30997/karimahtauhid.v4i8.20192
  • Rahmawati, P., & Saptandari, E. W. (2020). Peran persepsi siswa atas keterampilan sosial-emosional guru terhadap regulasi emosi siswa sekolah inklusi. Jurnal Ilmu Perilaku4(2), 120–134. https://doi.org/10.25077/jip.4.2.120-134.2020
  • Setiadi, N. A., & Yuliati, Y. (2025). Dampak musik pada perubahan suasana hati. Jurnal Pendidikan Indonesia, 6(4), 2085–2092. https://doi.org/10.59141/japendi.v6i4.7444
  • Sukemi, A. F., Desagiti, A. F., Hestikasari, C. C., Pramesti, C. A., Sari, E. M., & Ediyono, S. (2023). Harmoni emosi: Ekspresi emosi melalui bernyanyi untuk meningkatkan kesejahteraan psikologis [Unpublished manuscript]. ResearchGate. https://www.researchgate.net/publication/376643761
Citation is loading...
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *