Di kampung kami, angin punya nama. Orang-orang menyebutnya Angin Selatan, angin yang datang setiap kemarau, membawa debu tipis dan kabar tentang laut yang semakin jauh. Kata Kakek dulu, kalau angin itu bertiup terlalu lama, sawah akan retak seperti kulit tua dan sungai tinggal garis cokelat di peta.
Aku lahir di musim ketika angin itu paling keras berteriak. Namaku Nara. Usia tujuh belas tahun. Dan aku tinggal di kampung yang perlahan-lahan hilang dari ingatan banyak orang.
Dulu, kampung kami hijau. Sawah membentang seperti permadani yang tak pernah selesai ditenun. Anak-anak berlari di pematang, tertawa tanpa takut jatuh. Tapi beberapa tahun terakhir, hujan seperti lupa jalan pulang. Tanah pecah-pecah. Sumur mengering. Orang-orang mulai pergi.
“Air tidak pernah benar-benar hilang,” kata Ibu suatu sore, ketika kami menimba sisa air dari dasar sumur yang hampir kosong. “Ia hanya berpindah tempat.” tukas ibu.
“Lalu kenapa ia tidak kembali ke sini, Bu?” tanyaku.
Ibu tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap dasar sumur, seolah berharap menemukan jawaban di antara bayangannya sendiri. Ayah sudah lebih dulu pergi ke kota, menjadi buruh bangunan. Katanya, ia akan mengirim uang agar kami bisa menyusul. Tapi Ibu selalu menolak. “Tanah ini yang membesarkan kita,” ujarnya tegas. “Kalau semua pergi, siapa yang akan menjaganya?” Aku tidak tahu apakah itu keberanian atau sekadar keras kepala. Yang jelas, kampung kami semakin sepi.
Rumah-rumah kayu mulai kosong. Pintu berderit ditiup angin. Beberapa atap seng terangkat sedikit demi sedikit, seperti ingin ikut terbang. Di surau kecil dekat lapangan, saf shalat tak lagi rapat. Anak-anak yang dulu berlarian kini tinggal segelintir.
Suatu hari, kepala desa mengumumkan sesuatu yang membuat Ibu termenung lama. Ada perusahaan yang ingin membeli sebagian besar tanah sawah untuk dijadikan kawasan industri, katanya di balai desa. Harga yang ditawarkan cukup besar. Kita bisa mulai hidup baru.
“Hidup baru” dua kata itu terdengar indah, tapi juga menakutkan. Beberapa warga langsung setuju. Mereka lelah menunggu hujan yang tak kunjung datang. Lelah menanam padi yang mati sebelum menguning. Lelah berharap.
Ibu termasuk yang menolak.” Kalau tanah ini dijual, kita benar-benar tidak punya apa-apa lagi,” katanya malam itu. Suaranya pelan, tapi tegas.
“Tapi Bu,” aku memberanikan diri, “kalau kita bertahan, apa yang kita makan? Angin?”
Ibu tersenyum tipis. “Justru angin yang akan kita tanam.”
Aku mengernyit. “Menanam angin?”
Ibu bangkit dan mengambil sesuatu dari lemari kayu tua. Ia mengeluarkan beberapa kantong kecil berisi biji-bijian. Ini benih pohon trembesi, akasia, dan beberapa tanaman penahan air.
“Dulu kakekmu pernah bilang, tanah yang kering bukan berarti mati. Ia hanya butuh dipeluk kembali.” Aku memandang biji-biji kecil itu. Rasanya mustahil membayangkan mereka bisa mengalahkan kemarau.
Namun keesokan harinya, Ibu mulai menanam. Di tepi sawah yang retak, di sepanjang jalan masuk kampung, bahkan di halaman rumah-rumah kosong. Ia menggali tanah keras dengan cangkul tua. Keringatnya bercucuran. Tangannya lecet. Orang-orang memandangnya dengan tatapan campur aduk.
“Untuk apa menanam pohon sekarang?”, sindir seorang tetangga. “Air saja tidak ada”.
Ibu hanya tersenyum. “Kalau kita menunggu air datang dulu, mungkin kita akan menunggu selamanya.”
Entah mengapa, aku merasa malu pada diriku sendiri. Malu karena lebih cepat menyerah dibandingkan perempuan yang usianya hampir dua kali lipatku. Akhirnya, aku ikut membantu.
Setiap sore sepulang sekolah, kami menyiram bibit-bibit itu dengan air sisa cucian beras, dengan air yang kami hemat mati-matian. Kami menutupinya dengan jerami kering agar tidak terlalu panas. Kami berbicara pada mereka seperti berbicara pada anak kecil.
“Tumbuhlah,” bisik Ibu setiap kali selesai menanam satu bibit. “Jangan takut pada angin.”
Hari-hari berlalu. Sebagian bibit mati. Daunnya menguning sebelum sempat benar-benar membuka diri. Aku hampir putus asa.
“Bu, percuma,” kataku suatu sore, ketika melihat tiga bibit layu sekaligus. “Kita kalah.”
Ibu berjongkok di sampingku. Ia mencabut pelan bibit yang mati, lalu menggantinya dengan yang baru. “Dalam hidup, tidak semua yang kita tanam akan tumbuh,” ujarnya lembut. “Tapi kalau kita berhenti menanam, tidak akan ada yang tumbuh sama sekali.” Kalimat itu sederhana, tetapi menancap dalam.
Beberapa bulan kemudian, sesuatu yang kecil namun nyata mulai terlihat. Di antara tanah retak, muncul daun-daun hijau yang bertahan. Akar-akar kecil mulai mencengkeram tanah lebih dalam. Angin yang dulu hanya membawa debu, kini sesekali terhalang batang muda yang belum seberapa.
Kampung kami memang belum berubah drastis. Hujan belum juga rutin datang. Tapi ada warna lain selain cokelat dan abu-abu. Anak-anak yang tersisa mulai bermain di sekitar pohon-pohon kecil itu. Mereka menamai setiap pohon dengan nama mereka sendiri. “Ini pohonku!” teriak seorang bocah suatu sore. Tanpa disadari, yang tumbuh bukan hanya pohon. Harapan juga ikut berakar.
Ketika perusahaan kembali datang untuk menagih keputusan, suasana kampung tidak lagi sama. Beberapa warga yang semula setuju mulai ragu. Mereka melihat daun-daun muda yang berkilau diterpa matahari.
“Bagaimana kalau kita beri waktu sedikit lagi?” usul seseorang.
Kepala desa menatap sekeliling. Tatapannya berhenti pada Ibu, yang berdiri dengan pakaian sederhana dan tangan penuh bekas tanah. “Apa jaminannya kampung ini bisa kembali seperti dulu?” tanya seorang perwakilan perusahaan. Ibu melangkah maju. “Tidak ada jaminan,” jawabnya jujur. “Tapi selama kami masih mau menanam, selalu ada kemungkinan.” Mungkin itu bukan pidato yang hebat. Tidak ada kata-kata rumit. Hanya keyakinan yang disampaikan tanpa gemetar.
Keputusan akhirnya ditunda. Musim berganti pelan-pelan. Dan pada suatu malam yang tidak kami duga, hujan turun, tidak deras. tidak lama. Tapi cukup untuk membuat tanah mengeluarkan aroma yang lama hilang. Aku berdiri di halaman, membiarkan wajahku basah. Ibu tertawa kecil, suara yang jarang kudengar beberapa tahun terakhir. “Lihat?” katanya. “Angin yang kita tanam mulai belajar memanggil hujan.”
Aku tahu hujan itu bukan semata karena pohon-pohon kami. Alam punya caranya sendiri. Namun aku juga tahu, tanpa pohon-pohon kecil itu, air mungkin akan langsung pergi lagi. Kini, setiap kali Angin Selatan datang, ia tidak lagi terdengar seperti ancaman. Ia menyusup di antara daun-daun yang semakin rimbun, menghasilkan suara gemerisik yang menenangkan. Orang-orang mulai kembali. Tidak banyak, tapi cukup untuk membuat surau kembali terisi. Sawah belum sepenuhnya pulih, tetapi sumur tak lagi sekering dulu. Aku sering berdiri di tepi kampung, memandangi deretan pohon yang dulu hanya berupa biji kecil di telapak tangan Ibu.
“Aku dulu hampir ingin pergi,” kataku suatu sore.
Ibu tersenyum. “Pergi tidak selalu salah. Tapi bertahan juga bukan kebodohan.” Aku mengangguk. Kini aku mengerti: menanam angin bukan tentang melawan kemarau sendirian. Itu tentang percaya bahwa sekecil apa pun usaha, ia bisa menjadi awal perubahan.
Dan di kampung yang hampir hilang dari peta itu, seorang perempuan pernah menanam angin. Angin yang akhirnya mengajarkan kami cara berharap kembali. Namun kisah kami tidak berhenti pada hujan pertama itu. Hujan memang datang, tetapi tidak serta-merta mengubah segalanya menjadi hijau seperti dongeng. Beberapa minggu setelahnya, matahari kembali menyengat. Tanah yang sudah sempat lembap mulai mengeras lagi. Bedanya, kali ini akar-akar kecil telah bersiap. Mereka menahan sisa air lebih lama, menyimpannya dalam diam.
Aku mulai memperhatikan sesuatu yang dulu tak pernah kupikirkan. Tanah ternyata punya ingatan. Ia mengingat sentuhan, mengingat kesabaran. Suatu sore, ketika aku dan Ibu sedang memeriksa pohon-pohon muda di tepi jalan masuk kampung, sebuah mobil berhenti tak jauh dari kami. Debu mengepul pelan. Dari dalam, turun seorang lelaki berkemeja rapi perwakilan perusahaan yang dulu datang bersama rombongan. Ia tidak membawa banyak orang kali ini. Hanya seorang sopir dan map tipis di tangannya.
“Kami mendengar keputusan masih belum final,” katanya tanpa basa-basi. “Tapi waktu kami juga terbatas.” Ibu menyeka tangannya dengan ujung kerudung. “Kami juga begitu. Waktu kami terbatas untuk menyelamatkan tanah ini.”
Lelaki itu memandang deretan pohon kecil. Beberapa sudah setinggi dadaku. Daunnya memang belum lebat, tetapi cukup untuk membentuk bayangan tipis di tanah.
“Pohon-pohon ini tidak akan cukup,” ujarnya datar. “Industri akan memberi pekerjaan tetap. Jalan diaspal. Listrik lebih stabil. Sekolah diperbaiki.” Aku merasakan sesuatu bergejolak di dalam dada. Semua yang ia sebutkan terdengar seperti mimpi yang selama ini tak ada dalam benak ku.
Ibu terdiam beberapa detik. Lalu ia berkata, “Kalau kami menjual tanah ini, mungkin kami dapat uang dan jalan bagus. Tapi kami kehilangan akar. Anak-anak kami tumbuh di mana? Di antara pabrik dan asap?”
Lelaki itu tidak langsung menjawab. Ia hanya mengangguk tipis, seolah mencatat sesuatu yang tak tertulis di mapnya. Kemudian ia kembali ke mobil dan pergi, meninggalkan kami dalam debu yang perlahan mengendap.
Malam itu, beberapa warga kembali berkumpul di balai desa. Perdebatan lebih sengit dari sebelumnya. Ada yang mulai goyah lagi. Ada yang tetap keras menolak. Aku duduk di belakang, mendengarkan. Tiba-tiba, seorang bapak tua yang jarang bicara berdiri. Namanya Pak Lurah Rahman mantan kepala desa sebelum yang sekarang. Suaranya serak, tapi jelas.
“Saya mungkin tidak akan lama lagi hidup di kampung ini,” katanya pelan. “Tapi saya ingin dikuburkan di tanah yang masih bisa menumbuhkan sesuatu. bukan di atas beton.” Kalimat itu membuat ruangan hening. Untuk pertama kalinya, aku melihat banyak mata yang berkaca-kaca.
Keputusan akhirnya diambil kampung menolak penjualan tanah. Tidak dengan teriakan, tidak dengan kemarahan. Hanya dengan suara bulat yang lahir dari rasa takut sekaligus cinta.
Hari-hari berikutnya tidak menjadi lebih mudah. Kami harus membuktikan bahwa pilihan itu bukan sekadar keras kepala. Ibu mulai mengajak lebih banyak warga menanam. Kali ini bukan hanya trembesi dan akasia, tetapi juga pohon mangga, jambu, dan beberapa bibit alpukat yang dibawa dari kota oleh seorang pemuda yang baru kembali.
Aku dan teman-teman seusiaku membuat kelompok kecil. Kami menamainya “Anak Angin.” Terdengar konyol, tapi kami menyukainya. Tugas kami sederhana memastikan setiap bibit mendapat giliran disiram dan dilindungi. Kami bahkan membuat jadwal ronda pohon bergiliran menjaga dari kambing liar yang sering memakan daun muda.
Suatu malam ketika giliranku berjaga, aku duduk di bawah salah satu pohon trembesi yang mulai bercabang. Angin Selatan berembus pelan. Tidak lagi membawa debu sebanyak dulu. Daun-daun kecil bergetar, menghasilkan bunyi seperti bisikan. Untuk pertama kalinya, aku merasa angin tidak lagi memusuhi kami.
Beberapa bulan kemudian, perubahan yang lebih besar mulai tampak. Sumur yang dulu hampir kering kini memiliki air lebih stabil, meski belum melimpah. Parit-parit kecil yang kami gali untuk menampung air hujan mulai berfungsi. Tanah di sekitar pohon tidak lagi retak separah sebelumnya.
Seorang guru dari kota, datang berkunjung ia mendengar tentang kampung yang menolak menjual tanah dan memilih menanam pohon. Ia membawa beberapa mahasiswa untuk belajar tentang konservasi sederhana. Aku terkejut ketika ia memintaku bercerita di depan mereka.
“Apa yang membuat kalian yakin ini akan berhasil?” tanya salah satu mahasiswa.
Aku terdiam sesaat, mengingat diriku yang dulu ingin pergi.
“Kami tidak yakin,” jawabku jujur. “Kami hanya tidak ingin menyesal karena tidak mencoba.” Jawaban itu terdengar sederhana, tapi wajah-wajah di depanku mengangguk pelan.
Sejak kunjungan itu, kampung kami mulai dikenal. Tidak besar-besaran, hanya dari mulut ke mulut. Beberapa relawan datang membantu membuat penampungan air sederhana. Ada yang mengajari cara membuat pupuk kompos dari sisa dapur. Anak-anak kecil belajar menanam sejak dini. Ibu tetap seperti biasa bangun paling pagi, tidur paling akhir. Bedanya, kini ia tidak lagi sendirian.
Suatu sore, ketika matahari tenggelam di balik pohon-pohon yang mulai meninggi, aku bertanya padanya, “Bu, apa Ibu pernah benar-benar takut?” Ibu tersenyum tanpa menoleh. “Setiap hari.”Aku terkejut. “Lalu kenapa Ibu tetap kelihatan tenang?” Karena kalau aku menunjukkan semua ketakutanku, kamu mungkin sudah lama pergi,” jawabnya ringan. Aku memeluknya dari samping. Tubuhnya kecil, tapi terasa kokoh.
Tahun berikutnya, hujan datang lebih sering. Tidak selalu teratur, tetapi cukup untuk membuat sawah kembali ditanami, meski belum seluas dulu. Kami tidak lagi menanam padi saja. Beberapa warga mencoba tanaman lain yang lebih tahan kering. Kampung kami berubah pelan-pelan. Tidak menjadi kota, tidak menjadi tempat wisata besar. Tapi menjadi kampung yang hidup.
Perusahaan itu tak pernah kembali. Suatu pagi, ketika aku berjalan menuju surau, aku melihat sesuatu yang membuat langkahku terhenti. Di salah satu pohon trembesi yang dulu kami tanam pertama kali, seekor burung membuat sarang. Burung kecil berwarna cokelat, mungkin hanya kebetulan lewat. Tapi bagiku, itu tanda bahwa kampung ini kembali layak dihuni, bukan hanya oleh manusia. Aku berlari pulang memberi tahu Ibu. Beliau tertawa, lalu berkata, “Kalau burung saja percaya, kenapa kita tidak?”
Waktu terus berjalan. Aku lulus sekolah. Banyak teman sebayaku memilih pergi ke kota untuk kuliah atau bekerja. Aku pun akhirnya pergi bukan untuk meninggalkan, tetapi untuk belajar. “Aku ingin belajar tentang lingkungan,” kataku pada Ibu sebelum berangkat. “Supaya aku bisa kembali dengan ilmu, bukan hanya semangat.” Ibu mengangguk bangga. “Pergilah. Angin tidak pernah benar-benar tinggal di satu tempat. Tapi ia selalu tahu jalan pulang.”
Di kota, aku sering merindukan suara gemerisik daun di kampung. Gedung-gedung tinggi tidak pernah bisa menggantikan aroma tanah basah setelah hujan. Setiap kali libur, aku pulang. Dan setiap kali pulang, pohon-pohon itu lebih tinggi dari sebelumnya.
Suatu hari, aku berdiri di tempat yang dulu hanya hamparan retak. Kini, bayangan pohon menari di atas tanah yang lebih lembut. Anak-anak kecil generasi yang bahkan tidak mengingat masa kemarau terparah berlarian di bawahnya. Aku menoleh pada Ibu yang berdiri di sampingku.
“Bu,” kataku pelan, “ternyata benar. Angin bisa ditanam.”
Ibu tersenyum, matanya memantulkan cahaya senja. “Bukan anginnya yang tumbuh,” katanya. “Tapi keyakinan kita.”
Di kampung yang dulu hampir hilang dari peta itu, seorang perempuan pernah memilih untuk tidak menyerah. Beliau tidak punya jabatan, tidak punya kekuasaan besar. Hanya tangan yang rela kotor dan hati yang keras kepala dalam mencintai tanahnya. Kini, setiap kali Angin Selatan datang, ia tidak lagi membawa ancaman. Ia berlari di antara batang-batang kokoh, menyentuh daun-daun rimbun, dan membisikkan cerita pada siapa pun yang mau mendengar, bahwa perubahan tidak selalu datang dari keputusan besar. Kadang, ia lahir dari satu biji kecil yang ditanam dengan harapan. Dan dari seorang perempuan yang percaya bahwa bahkan angin pun bisa diajak berpihak.
*Teks cerita pendek yang ditulis oleh Latifatul Jesia ini mendapatkan Juara 1 pada Lomba Cipta Cerpen Nasional Tingkat Pelajar “SantunEdu” Tahun 2026