A. Rasionalisasi
Keterampilan membaca nyaring (oral reading) merupakan keterampilan yang fungsional. Sebab, pada dasarnya, keterampilan membaca nyaring merupakan aspek fundamental bagi pengucapan dan pelafalan yang tepat, sesuai dengan kaidah bahasa, misalnya bahasa Indonesia. Keterampilan ini melandasi seluruh lapangan pekerjaan yang membutuhkan aktivitas berkomunikasi, apalagi bagi guru atau pendidik pada umumnya.
Sesuai dengan konteks keterampilan atau kecakapan, keterampilan membaca nyaring itu perlu dilatihkan. Seseorang tidak mungkin mencapai tahap terampil jika hanya memahami atau menguasai aspek teori membaca nyaring. Namun, latihan membaca nyaring yang terarah juga memerlukan dua hal penting, yaitu pemahaman tentang prinsip-prinsip dasar dan jenis-jenis latihan.
B. Prinsip-Prinsip Dasar Latihan Membaca Nyaring
Prinsip-prinsip dasar yang melandasi jenis-jenis latihan membaca nyaring ada delapan. Tentu saja, membaca nyaring yang dimaksudkan dalam tulisan berikut adalah membaca teks-teks berbahasa Indonesia. Kedelapan prinsip dasar tersebut adalah sebagai berikut ini.
Pertama, menguasai lambang-lambang bunyi dan kaidah ortografis bahasa. Tataran bahasa itu ada dua, yaitu bahasa lisan dan tulis. Bahasa yang utama adalah lisan, bahasa tulis merupakan tataran di bawahnya. Membaca adalah upaya decoding atau mengubah lambang tulis menjadi bahasa lisan. Jadi, penguasaan fonetis dan kaidah Ejaan yang Disempurnakan (EYD) bahasa Indonesia merupakan dasar pertama untuk aktivitas membaca, baik membaca nyaring maupun membaca senyap.
Kedua, memiliki kecepatan dan ketepatan membaca. Kecepatan membaca, baik untuk membaca oral maupun nyaring, itu sangat penting dan perlu dilatihkan. Latihan untuk itu, lazimnya adalah fiksasi, skimming, dan scanning. Fiksasi berkaitan dengan keterampilan daya pandang, daya jangkau penglihatan yang luas atau lebar, skimming adalah membaca sekilas (membaca cepat) untuk memperoleh ide umum teks, sedangkan scanning adalah membaca cepat untuk menentukan ide atau aspek-aspek khusus dalam teks.
Ketiga, memiliki pengalaman baca yang luas. Keterampilan membaca, baik membaca oral maupun membaca senyap, sangat ditentukan oleh pengalaman baca. Sebab, membaca adalah proses yang aktif, yaitu upaya mengaitkan hasil decoding dengan ingatan (memori) untuk menyusun pemahaman. Penyusunan pemahaman tidak akan berhasil jika dalam memori pembaca tidak tersedia secara memadai pengalaman-pengalaman, termasuk pengalaman baca. Intinya, membaca adalah membuka jendela dunia. Semakin tinggi aktivitas membaca teks-teks yang relevan dengan tuntutan pribadi, profesional, maupun perubahan zaman, semakin kaya pengalaman bacanya, semakin mudah menyusun pemahaman ketika membaca. Jika membaca itu membuka jendela dunia, teks-teks atau bahan-bahan bacaan adalah jendela dunia.
Keempat, lebih banyak praktik daripada mencermati ceramah tentang membaca nyaring. Membaca nyaring adalah suatu keterampilan. Sebenarnya, apa pun keterampilannya, intinya adalah praktik atau latihan. Memahami teori tanpa praktik yang terarah dan berkelanjutan tidaklah bermanfaat.
Kelima, pelatihan bersifat bertahap. Guru tidak langsung dituntut menguasai semua aspek sekaligus, tetapi mengembangkan artikulasi, kemudian prosodi, ekspresi, interaksi, dan akhirnya integrasi seluruh keterampilan. Tentu saja, guru juga tetap mengembangkan aktivitas membaca secara berkelanjutan untuk memperluas pengalaman dan wawasan tentang berbagai aspek kehidupan, terutama kehidupan tenaga profesional.
Keenam, latihan harus berbasis konteks anak usia dini (AUD). Materi latihan sebaiknya menggunakan buku cerita, gambar, dan situasi komunikasi yang benar-benar sesuai dengan karakteristik anak. Sebab, unjuk aktivitas membaca nyaring guru PAUD tentunya berbeda dengan guru di jenjang dan satuan pendidikan lain seperti SD, SMP, dan seterusnya.
Ketujuh, setiap praktik hendaknya memperoleh umpan balik. Guru perlu mengetahui bagian yang sudah baik dan bagian yang masih perlu diperbaiki. Dalam konteks pengembangan profesi, umpan balik diberikan oleh rekan sejawat (peer group) atau di forum kegiatan organisasi profesi.
Kedelapan, keberhasilan tidak hanya diukur dari performansi guru, tetapi juga dari respons anak. Guru yang baik bukan hanya guru yang terdengar ekspresif, tetapi guru yang mampu membuat bahasa menjadi dapat dipahami, bermakna, dan mendorong anak berinteraksi. Prinsip ini adalah prinsip yang paling aktual karena yang akan menikmati sajian guru ketika membaca nyaring adalah AUD.
C. Teknik-Teknik Latihan Membaca Nyaring
Relevan dengan ide-ide sebelumnya dalam deskripsi prinsip-prinsip dasar, keterampilan guru PAUD dalam membaca nyaring tidak cukup diperoleh melalui pemahaman teoretis. Guru perlu mengalami proses latihan yang sistematis, bertahap, berulang, dan disertai umpan balik. Membaca nyaring merupakan keterampilan performatif. Oleh karena itu, pelatihan membaca nyaring bagi guru PAUD perlu dirancang sebagai proses pengembangan keterampilan, bukan sekadar penyampaian materi. Teknik-teknik pelatihan yang dikembangkan ada dua belas.
1. Pelatihan Artikulasi dan Kejelasan Lafal
Teknik pertama diarahkan pada kemampuan menghasilkan bunyi bahasa secara jelas. Guru perlu berlatih mengucapkan kata-kata dengan artikulasi yang tepat sehingga anak dapat menangkap bunyi bahasa dengan mudah. Latihan dapat dilakukan melalui pembacaan kata, frasa, kalimat pendek, dan kemudian teks sederhana.
Guru dapat berlatih membedakan pengucapan kata yang memiliki kemiripan bunyi, memperjelas bunyi pada akhir kata, serta menghindari kebiasaan berbicara terlalu cepat. Untuk itu, proses dan hasil latihan idealnya direkam secara personal atau melalui bantuan rekan sebaya atau seprofesi. Rekaman tersebut kemudian diperdengarkan kembali untuk mengidentifikasi bagian yang kurang jelas atau kurang tepat.
Selain itu, perlu dicermati bahwa tujuan utama pelatihan bukanlah guru mampu atau terampil menghasilkan suara yang indah. Tujuan utama pelatihan adalah guru mampu menghasilkan input fonologis yang jelas dan mudah dikenali oleh anak. Oleh sebab itu, bahan yang digunakan untuk pelatihan hendaknya relevan dengan konteks dunia AUD berkaitan dengan topik atau tema, isi pesan, serta aspek kebahasaan (diksi, kalimat, paragraf, serta media).
2. Pelatihan Volume dan Proyeksi Suara
Guru PAUD juga dituntut untuk mampu menyesuaikan volume suara dengan situasi pembelajaran. Dalam hal ini, perlu dicermati lingkungan lembaga PAUD (misalnya tenang, agak bising, ruang yang lapang atau kurang, serta sarana lain). Namun, yang jelas, suara yang terlalu pelan dapat menyebabkan anak kehilangan sebagian informasi, sedangkan suara yang terlalu keras atau bahkan melengking dapat membuat anak merasa tidak nyaman.
Pelatihan dapat dilakukan dengan membaca teks yang sama dalam beberapa tingkat volume dan menentukan volume yang paling sesuai untuk kelompok anak. Guru juga perlu berlatih memproyeksikan suara tanpa harus berteriak-teriak. Prinsip utamanya adalah suara harus terdengar jelas, nyaman, dan menarik perhatian anak.
3. Pelatihan Intonasi, Tekanan, dan Jeda
Intonasi merupakan unsur penting dalam mengubah rangkaian kata menjadi bahasa yang hidup. Guru perlu berlatih menaikkan atau menurunkan nada suara sesuai dengan makna kalimat, memberikan tekanan pada kata penting, serta menggunakan jeda pada bagian tertentu.
Misalnya, dalam kalimat “Ke mana anak ayam itu pergi?” dibacakan dengan intonasi bertanya. Sementara itu, kalimat “Ternyata, anak ayam itu tersesat!” dapat dibaca dengan tekanan dan intonasi yang menunjukkan kesedihan.
Selain intonasi, jeda juga dapat digunakan untuk membangun rasa ingin tahu. Guru dapat berhenti sejenak sebelum mengungkapkan peristiwa penting dalam cerita. Dengan demikian, anak mempunyai kesempatan untuk memprediksi apa yang akan terjadi. Misalnya, setelah pembacaan kalimat “Tiba-tiba, seekor musang datang!”, guru menggunakan jeda untuk melihat ekspresi anak-anak yang sedang menyimak pembacaan cerita tersebut. Jika ekspresi anak memperlihatkan keterkejutan atau kecemasan, berarti anak berhasil memprediksi bahwa isi cerita berikutnya adalah adanya bahaya yang mengancam anak ayam.
4. Pelatihan Tempo Membaca
Guru juga perlu mengembangkan latihan untuk mengatur tempo atau kecepatan membaca. Kecepatan membaca perlu disesuaikan dengan kemampuan menyimak AUD. Membaca terlalu cepat dapat menyebabkan anak kehilangan informasi, sedangkan membaca terlalu lambat dapat mengurangi perhatian anak.
Latihan mengatur tempo juga dikaitkan dengan karakteristik cerita. Bagian yang menegangkan dapat dibaca sedikit lebih lambat. Bagian yang menggambarkan kegembiraan dapat menggunakan tempo yang lebih dinamis. Bagian tertentu dapat dihentikan sejenak agar anak mempunyai waktu untuk memahami gambar (sebagai media) atau peristiwa. Jadi, pengaturan tempo bukan hanya menjadi persoalan kecepatan membaca, tetapi juga menjadi alat untuk membantu anak membangun dan memperoleh makna.
5. Pelatihan Ekspresi dan Mimik Wajah
Tentunya, guru-guru PAUD sudah memahami bahwa membaca nyaring untuk AUD membutuhkan keterlibatan ekspresi. Untuk itu, guru perlu berlatih memanfaatkan wajah untuk menunjukkan rasa senang, sedih, takut, terkejut, marah, atau penasaran sesuai dengan peristiwa dalam cerita. Dengan demikian, sebelum membacakan teks secara oral, guru harus memahami isi dan pesan-pesan yang ada dalam teks (baik teks cerita maupun noncerita).
Sebenarnya, latihan ekspresi dan mimik wajah dapat dilakukan tanpa menggunakan teks. Lazimnya, latihan ini diawali dengan senam wajah. Sesudah itu, guru berlatih menampilkan berbagai emosi hanya melalui wajah (senang, sedih, takut, terkejut, marah, atau penasaran). Setelah itu, barulah menggabungkan hasil latihan dengan membacakan teks melalui membaca nyaring.
Keterampilan guru memanfaatkan ekspresi dan mimik wajah dalam membaca nyaring bukan hanya dimaksudkan untuk menarik perhatian anak dan membantu anak memahami isi teks. Lebih dari itu, pembacaan teks secara oral yang disertai ekspresi dan mimik wajah dapat membantu anak memahami hubungan antara bahasa dan emosi. Dengan demikian, ekspresi guru dapat menjadi salah satu bentuk dukungan nonverbal terhadap comprehensible input.
6. Pelatihan Variasi Suara Tokoh
Jika teks yang dibacakan secara oral adalah teks cerita yang biasanya memiliki beberapa tokoh, guru harus mampu memberikan karakter suara yang berbeda secara sederhana untuk tokoh yang berbeda. Tidak diperlukan perubahan suara yang berlebihan. Perbedaan tempo, nada, volume, atau gaya bicara sudah cukup untuk membantu anak mengenali pergantian tokoh.
Misalnya, dalam cerita “Ayam yang Baik Hati”, suara anak ayam dapat dibuat lebih ringan, suara ayam jago lebih tegas, sedangkan suara musang dapat dibuat lebih berat dan pelan, dan suara induk ayam lebih welas asih.
Teknik variasi suara tokoh dalam membaca nyaring akan mempermudah AUD mengikuti alur cerita sekaligus membantu mereka mengidentifikasi siapa yang sedang berbicara. Akhirnya, AUD akan terbantu dalam memahami isi dan pesan cerita. Keterampilan mengidentifikasi, dalam konteks yang lebih luas, merupakan keterampilan dasar seluruh aspek keterampilan berbahasa reseptif (menyimak, memirsa, dan membaca).
7. Pelatihan Membaca Nyaring Berbasis Gambar
Guru PAUD perlu dilatih untuk tidak hanya membaca tulisan, tetapi juga memanfaatkan ilustrasi sebagai bagian dari proses pemaknaan. Sebelum membaca, guru dapat mengajak anak mengamati gambar dan menebak isi cerita. Ketika membaca, guru dapat menunjuk tokoh atau objek yang disebutkan. Setelah membaca, guru dapat kembali menggunakan gambar untuk mengembangkan keterampilan AUD dalam mengingat.
Teknik ini sangat penting karena gambar berfungsi sebagai scaffolding (dalam bahasa Indonesia, scaffolding adalah perancah) yang membantu anak memahami bahasa yang belum sepenuhnya mereka kuasai. Misalnya, ketika guru mengatakan, “Anak ayam sedang mencari ibunya,” guru dapat menunjuk gambar anak ayam yang sedang berjalan. Anak memperoleh dukungan visual untuk memahami makna ujaran tersebut.
8. Pelatihan Penggunaan Gestur dan Gerakan
Guru juga perlu berlatih menggunakan gerakan tubuh yang sederhana dan relevan dengan isi cerita. Ketika membaca kata berlari, guru dapat menggerakkan tangan seperti orang berlari. Ketika membaca tidur, guru dapat menggunakan gerakan yang menggambarkan tidur.
Gestur semacam ini membantu anak menghubungkan bahasa dengan tindakan. Bagi AUD, hubungan antara kata, tindakan, objek, dan gambar sangat membantu proses pemahaman. Namun demikian, hendaknya diingat bahwa gerakan harus digunakan secara proporsional. Sebab, tujuannya bukan membuat pertunjukan yang mengalihkan perhatian anak dari cerita, melainkan memberikan petunjuk makna terhadap bahasa yang sedang didengar.
9. Pelatihan Interactive Read-Aloud (Membaca Nyaring Interaktif)
Membaca nyaring yang efektif untuk AUD sebaiknya tidak berlangsung secara satu arah. Guru perlu dilatih melakukan interactive read-aloud, yaitu membaca sambil membangun interaksi dengan anak. Oleh sebab itu, dalam aktivitas membaca nyaring guru hendaknya juga memanfaatkan media, misalnya media gambar yang dapat dicermati dengan jelas oleh seluruh anak AUD.
Pengembangan interaksi dapat dilakukan melalui pengajuan-pengajuan pertanyaan sederhana. Misalnya, sambil menunjuk gambar (menggunakan alat pointer) guru mengajukan pertanyaan “Siapa ini?”, “Apa yang dilakukan ayam?”, “Menurut Ananda, ke mana anak ayam pergi?”, dan “Bagaimana perasaan anak ayam?”. Sesuai dengan porsi waktu pembelajaran, pertanyaan tidak harus diberikan pada setiap gambar. Guru perlu memilih bagian yang memang dapat membuka peluang interaksi.
Penerapan teknik interactive read aloud ini penting karena anak tidak hanya menerima input, tetapi juga memperoleh peluang melatih untuk memproses, merespons, dan memproduksi bahasa. Latihan, yang akhirnya mengembangkan keterampilan memproses hingga memproduksi bahasa ini sangat penting karena merupakan fondasi keterampilan berkomunikasi.
10. Pelatihan Scaffolding Bahasa (Pelatihan Menggunakan Perancah Bahasa)
Seperti diungkapkan sebelumnya, scaffolding adalah perancah, alat bantu, agar AUD terbimbing untuk memahami sesuatu. Dalam hal ini, guru perlu dilatih memberikan bantuan bahasa sesuai dengan kebutuhan anak. Jika anak belum memahami sebuah kata, guru tidak harus langsung memberikan definisi. Guru dapat menggunakan gambar, gerakan, contoh, pengulangan, atau kalimat yang lebih sederhana. Itulah yang dimaksudkan sebagai salah satu scaffolding.
Contoh pemberian perancah yang lazim adalah ketika AUD belum memiliki kosakata tertentu, misalnya tersesat. Dalam konteks kedaerahan, ada kecenderungan guru menerjemahkan ke dalam bahasa daerah. Misalnya, AUD belum memahami kata tersesat, guru menerjemahkan ke bahasa Minangkabau, sasek, tasasek. Dalam konteks teori, penerjemahan ke bahasa daerah itu justru merusak ketertiban berpikir AUD. Sebab, bahasa merupakan media utama untuk berpikir. Lebih ideal jika guru memberikan contoh kepada AUD yang belum memahami kata tersesat melalui pernyataan yang berbeda namun mengarah ke makna yang sama. Misalnya, “Ini anak ayam. Anak ayam sedang tersesat.” Setelah itu, guru menambahkan “Ini anak ayam yang tidak tahu jalan pulang. Ia lupa, tidak ingat di mana rumahnya.”
Pemanfaatan teknik pemberian perancah relevan dengan ide kreatif tentang penggunaan bahasa guru PAUD ketika mengelola pembelajaran. Benar, bahasa yang digunakan guru adalah bahasa yang sederhana tetapi janganlah menyederhanakan pengalaman bahasa anak secara berlebihan. Penerjemahan suatu kata ke kata bahasa daerah adalah salah satu bentuk penyederhanaan pengalaman bahasa AUD.
11. Pelatihan Pengulangan dan Perluasan Ujaran Anak
Pembelajaran melalui unjuk keterampilan guru dalam membaca nyaring merupakan salah satu peluang untuk memanfaatkan ujaran anak sebagai titik awal untuk memberikan model bahasa yang lebih lengkap. Dalam kajian psikolinguistik dan neurologi, dipahami bahwa dalam sistem kognisi anak memiliki potensi mengembangkan struktur bahasa (lazim disebut elaborated codes). Sederhananya, ketika AUD menunjukkan keterampilan berbahasanya, misalnya mengucapkan “ayam”, dalam sistem kognisinya terbuka peluang untuk mengembangkan struktur tersebut.
Contoh sederhananya adalah sebagai berikut. AUD mengucapkan “Ayam!”, guru pun (sambil menunjuk gambar), mengucapkan, “Ya. Ini gambar anak ayam”. Selanjutnya, guru menugasi AUD untuk mengulang ucapan, “Ini, gambar anak ayam”. Jika guru merasa ucapan AUD masih belum tepat, baik pengucapan, pelafalan, maupun kelengkapan strukturnya, guru pun menugasi, “Bagus. Coba ulangi kembali dengan jelas dan keras, ‘Ini, gambar anak ayam.'”
Teknik ini memungkinkan guru memberikan input yang lebih kaya berdasarkan potensi aktual anak. Anak mencermati serta mengulang tuturan yang berupa bentuk bahasa yang lebih lengkap tanpa merasa sedang “diajari tata bahasa”. Dalam perspektif pemerolehan bahasa, strategi semacam ini penting karena anak memperoleh model bahasa yang berada dalam jangkauan perkembangan mereka, tetapi sekaligus memberikan perluasan.
12. Pelatihan melalui Peer Feedback (Umpan Balik Rekan Sebaya)
Pelatihan membaca nyaring juga akan sangat bernas jika dilaksanakan dalam konteks informal maupun nonformal yang melibatkan rekan seprofesi. Misalnya, melalui team teaching untuk konteks informal atau forum majelis guru untuk konteks formal. Pelatihan dapat dilakukan melalui telaah kasus. Misalnya, tim guru atau anggota forum majelis guru memutar video unjuk membaca nyaring seorang guru PAUD. Secara bersama-sama, video rekaman itu ditelaah berdasarkan rambu-rambu atau indikator-indikator: (1) kejelasan dan kesesuaian pelafalan, (2) kesesuaian tempo pembacaan dengan kemampuan AUD, (3) pemanfaatan intonasi yang variatif, (4) kesesuaian ekspresi dengan isi dan pesan teks, (5) pemanfaatan media (misalnya media gambar), (6) kesesuaian penggunaan bahasa guru dengan kemampuan pemahaman AUD, serta (7) pemberian kesempatan kepada AUD untuk merespons.
Teknik pelatihan membaca nyaring melalui pencermatan, pengkritisan, serta pengungkapan penilaian rekan-rekan sebaya guru PAUD ini sangat fungsional. Dipahami, kesalahan yang dibuat oleh seseorang akan lebih terlihat jelas jika dari pencermatan atau kacamata orang lain, apalagi orang-orang yang memiliki kesamaan profesi dan tujuan yaitu pengembangan keprofesionalan guru. Dalam hal ini, pelatihan diusahakan seobjektif mungkin, tanpa dilabeli guru senior atau junior. Sebab, tujuannya jelas: memperbaiki unjuk kerja atau performansi keterampilan membaca nyaring. Dengan demikian, peer feedback menjadi alat untuk meningkatkan keterampilan secara konkret dalam hal membaca nyaring.
D. Penutup
Keterampilan membaca nyaring, bagi guru-guru lembaga pendidikan PAUD, adalah keterampilan yang fungsional. Bukan saja fungsional dipandang dari kinerja guru sehari-hari, namun juga pengembangan AUD. Terutama, untuk mengembangkan potensi-potensi AUD dalam hal berbahasa, berpikir, bersosialisasi, serta berbagai potensi yang mendukung perkembangan kehidupan AUD. Oleh karena itu, perlu dikembangkan pelatihan-pelatihan membaca nyaring. Pelatihan-pelatihan hendaknya juga didasarkan atas prinsip-prinsip yang jelas.
Siniar Audio
Latih Pemahaman Membaca
Uji pemahaman Anda tentang artikel ini dengan menjawab beberapa pertanyaan interaktif yang dirancang khusus oleh AI kami.
Mulai Latihan Sekarang →