Secuil Harapan Kebebasan Toto
Secuil Harapan Kebebasan Toto

Secuil Harapan Kebebasan Toto

0 Shares
0
0
0

Konon, ada sebuah dimensi yang tersembunyi di dunia manusia. Dunia itu adalah surganya para kucing. Salah satunya adalah roh pelindung harapan yang berwujud seekor kucing oranye dengan sayap emas yang sangat berkilau, serta memiliki bulu yang sangat lebat terawat. Namun, para manusia yang jahat mulai menyakiti kucing-kucing surga yang berkunjung ke dunia manusia. Akibatnya, dunia kucing mulai kehilangan keseimbangan. Kucing oranye itu tiba-tiba terpental dengan sendirinya dan sekarang ia berada di dunia manusia. Ia berubah wujud menjadi anak kucing yang sekarang tak berdaya, dan karena itu sepasang sayap emas miliknya juga perlahan mulai menghilang permanen. Untuk bisa mendapatkannya kembali maka ia harus memulainya dari nol, sebagai tugas roh pelindung harapan. 

Pak Mumun yang saat itu tengah berkebun, menemukan seekor anak kucing yang tergeletak di semak-semak dengan kondisi yang cukup parah. Merasa kasihan, anak kucing itu ia bawa pulang dan dijaga dengan penuh kasih sayang. Lalu, kucing itu ia beri nama Toto, kucing oranye yang sangat lucu, menggemaskan, dan berbadan gemuk. Beberapa bulan kemudian, terjadi kemarau panjang yang membuat hasil panen saat ini memburuk. Akibatnya, Pak Mumun dimarahi habis-habisan dan dipecat oleh bosnya karena hasil panen ini benar-benar turun drastis. 

Pak Mumun memutuskan untuk merantau ke kota Metropolis dengan harapan bisa mendapatkan pekerjaan yang lebih baik dengan upah yang sepadan. Pak Mumun dan Toto saat ini menanti bus yang sebentar lagi akan berhenti di halte tempat mereka menunggu. Bus itu pun telah sampai. Pak Mumun menggendong kucingnya, dan saat menaiki anak tangga di bus, tiba-tiba si sopir memperingatkan Pak Mumun untuk selalu menjaga kucingnya dari orang-orang di sana. Namun, Pak Mumun menghiraukan peringatan dari sopir bus itu dan menganggap bahwa tadi hanyalah candaan. Sementara, Toto percaya bahwa yang dikatakan oleh manusia ini benar-benar sedang terjadi. Karena sebelum terpental ke dunia manusia, Toto mendengar suara teriakan dan tangisan para kucing yang disiksa, entah dari mana asal suara itu. Toto melihat aura hijau terpancar dari si sopir bus, dan yang dikatakan oleh manusia ini benar-benar jujur dan akurat. 

Kota Metropolis adalah kota dengan pusat perdagangan yang sangat maju. Selain itu, kota ini juga memiliki bangunan dan gedung-gedung yang menjulang tinggi, berwarna coklat tua dan abu-abu. Tetapi dibalik keindahan itu semua, ada rahasia kelam yang ditutup rapat-rapat dari orang-orang luar. Masyarakat di sana banyak yang menyiksa kucing sekalipun itu peliharaan mereka, demi mendapatkan keuntungan yang lebih besar. Faktor lainnya adalah karena mengonsumsi daging kucing mengandung banyak manfaat dan meningkatkan kekebalan tubuh, entah dari mana rumor itu berasal. Perburuan ini biasanya dilakukan di waktu malam. 

Pak Mumun sekarang tiba di halte Metropolis. Ia sekarang sedang beristirahat, memangku sambil mengelus-elus bulu Toto yang lembut. Tetapi, orang-orang di sekitar halte bus itu tidak berhenti terus-terusan melihat Toto, dengan tatapan seperti pemburu mendapatkan mangsanya. Kali ini aura merah mulai terpancar di halte bus, warna orang jahat. Toto yang menyadarinya, mengeong dengan sangat keras sehingga suaranya cukup membuat penumpang lain terganggu. Merasa tidak enak dengan yang lain, Pak Mumun segera pergi meninggalkan halte. Pak Mumun kebingungan karena tidak biasanya Toto terus-menerus mengeong sekeras itu tanpa ada sebab. 

Pak Mumun dan Toto terus berjalan untuk sampai ke pemukiman yang letaknya sedikit jauh dari pusat kota Metropolis. Toto yang instingnya kuat tiba-tiba berlari entah ke mana, meninggalkan Pak Mumun berjalan sendirian dengan cuaca yang begitu terik. Ternyata, yang Toto lakukan saat ini adalah pergi ke gorong-gorong yang letaknya dekat dengan TPA (Tempat Pembuangan Akhir). Toto pun melangkahkan kakinya dan masuk ke dalam gorong-gorong itu. Betapa terkejutnya ia melihat tubuh kucing-kucing di sana yang sangat kurus, bahkan tulang-tulang mereka kelihatan dengan sangat jelas, yang satu matanya buta dan yang satunya lagi kakinya pincang. Salah satu dari kucing itu melihat Toto yang tengah mengintip dan melaporkannya ke Momo, si kucing liar buta, pemimpin kucing gorong-gorong. 

Momo menghampiri Toto dan terus mengendus-endus badan Toto mencermati apa dia sejenis kucing liar sepertinya atau bukan. Momo menyimpulkan bahwa Toto pasti bukan kucing sini dan bertanya tentang kekurangan dirinya. Karena gorong-gorong ini adalah tempat tinggal sekaligus tempat persembunyian para kucing yang masih selamat dari insiden malam hari. Toto dibuat bingung oleh pertanyaan kucing ini. Toto menjawab bahwa ia kucing yang sehat. Mendengar itu semua kucing yang dari tadi menonton mereka dari jauh, keluar dari persembunyian. Toto tak menyangka jika akan ada kucing sebanyak ini yang tinggal di tempat kumuh. Momo lalu menyuruh Toto untuk segera pergi dari tempat ini, karena gorong-gorong sudah tidak aman lagi. Terlebih Toto itu sejenis kucing yang sangat mahal dan langka, pasti mereka bakal menargetkan dirinya. 

Sementara itu, Pak Mumun masih sibuk mencari Toto yang tak kunjung kembali. Toto melihat Pak Mumun dari kejauhan, segera mengeong-ngeong. Pak Mumun lalu menggendong Toto dan kembali melanjutkan perjalanan. Setibanya di sana, Pak Mumun meminta maaf pada Toto karena rumah yang dihuninya saat ini kurang nyaman dan masih kotor. Toto membalas dengan senyuman yang lebar dan memutari kaki Pak Mumun dengan sikap manjanya. Hari sudah malam, dan sinar rembulan memenuhi penerangan. Pak Mumun sekarang tidur terlelap di kamarnya. Sementara Toto merenung sejenak di jendela, memikirkan keadaan kucing-kucing tadi yang ditemuinya. Tiba-tiba, suara tembakan terdengar sangat jelas di telinga Toto. Tembakan itu mengenai kaki anak kucing yang sedang diburu oleh manusia. Toto melihat dari bilik jendela seekor anak kucing yang tidak berdaya, sekarat. Saat nafas terakhirnya dimulai, para pemburu itu tak segan menginjak tubuh kucing mungil itu hingga sebagian anggota tubuhnya keluar. 

Ini sungguh kejam. Manusia bejat tak bermoral. Perlahan air mata Toto keluar setelah melihat peristiwa yang memilukan itu terjadi tepat di depannya. Manusia itu akhirnya pergi dengan tawa terbahak-bahak. Toto membuka pintu dengan sangat pelan. Ia berlari ke anak kucing yang telah mati itu. Toto menggali tanah, membentuk sebuah kuburan kecil sebagai bentuk pengikhlasan. Toto menggenggam kedua tangannya dengan rapat lalu memejamkan kedua matanya dan berdoa, supaya anak kucing ini mendapatkan tempat yang layak di surga-Nya para kucing. Di saat itu juga, sepasang sayap emas muncul di punggung Toto dengan cahaya yang sangat berkilau. 

Ini adalah tugas dari roh pelindung harapan. Meskipun aku tidak sekuat yang dulu, aku tetap akan terus melindungi para kucing ini walau hanya secuil harapan. Sayap Toto akan menyala ketika para kucing itu mulai terancam. Toto pun mengibaskan sayapnya dan terbang ke udara dengan secepat kilat. Saat Toto tiba di gorong-gorong, ia tak menyangka jika tempat itu telah hancur dan banyak kucing-kucing yang mati terkapar. Sementara Momo, telah berjuang sekuat tenaga melindungi anggotanya sampai kakinya dipatahkan oleh pemburu bejat itu. Pemburu itu mulai mendekati Momo sambil menodongkan sebuah bilah pisaunya. Toto yang sudah kehabisan kesabaran, mengeong dengan suaranya yang keras dan mengibaskan sayapnya yang sangat menyilaukan. Seketika sayap itu mengeluarkan kekuatan bola cahaya yang sangat besar dan berkilau hingga merusak penglihatan manusia-manusia ini. Manusia itu berlari ketakutan dan saling bertabrakan sambil berteriak “Mataku tidak bisa melihat! Tolong, mataku tidak bisa melihat!”

Selesai pertarungan, Toto menghampiri Momo yang kondisinya mulai melemah dan para kucing lainnya yang masih bisa diselamatkan. Sekali lagi Toto memejamkan kedua matanya mengucapkan sebuah mantra penyembuhan. Para kucing berterima kasih pada Toto, karena keadaan mereka mulai membaik. Toto lalu mengajak para kucing untuk pergi ke dunia mereka yang penuh kebebasan dan tidak ada lagi siksaan. Para kucing itu pun setuju dan mulai membentuk sebuah lingkaran besar, menggandeng satu sama lainnya. Portal dunia terbuka dan para kucing memasukinya dengan tawa dan kebahagiaan. Sebelum memasuki portal, Toto meminta tolong pada Momo untuk berjaga di pintu ini sebentar sampai ia benar-benar kembali. 

Toto terbang menemui Pak Mumun saat ia masih tertidur lelap. Toto memberikan sebuah pelukan hangat sebelum ia pergi ke portal itu. Toto juga memberikan makanan kesukaan Pak Mumun lalu diletakkannya di atas meja dengan hati-hati, dan menaruh selembar foto yang dimana dirinya telah mati, supaya Pak Mumun tak lagi khawatir mencari-cari dirinya.

“‘Toto’. Aku suka nama pemberian ini. Sekali lagi terima kasih telah merawat diriku, berkat Pak Mumun aku percaya jika masih ada manusia yang baik, namun kita yang sebagai kucing ini saja yang kurang beruntung.”

Citation is loading...
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *