Sepuluh Teknik Dasar Pelaksanaan Gerakan Literasi Sekolah di dalam Kelas
Sepuluh Teknik Dasar Pelaksanaan Gerakan Literasi Sekolah di dalam Kelas

Sepuluh Teknik Dasar Pelaksanaan Gerakan Literasi Sekolah di dalam Kelas

0 Shares
0
0
0

Abstrak

Gerakan Literasi di dalam kelas merupakan jantung pelaksanaan Gerakan Literasi Sekolah (GLS). Di tingkat sekolah menengah, pelaksanaan literasi di dalam kelas sangat bergantung pada motivasi dan kreativitas wali kelas. Teknik-teknik yang dapat diterapkan wali kelas untuk melaksanakan literasi dalam kelas adalah: (1) ciptakanlah lingkungan kaya- literasi, (2) dukunglah perpustakaan kelas berkualitas tinggi, (3) susunlah jadwal tambahan untuk membaca mandiri, (4) doronglah siswa untuk membaca secara luas, (5) doronglah aktivitas membaca nyaring, (6) bacalah apa yang sedang dibaca siswa, (7) kembangkanlah kampanye “Tertangkap Membaca” yang menampilkan guru sebagai pembaca, (8) doronglah siswa dan guru untuk menulis ulasan buku, (9) undanglah pembaca tamu ke ruang kelas, dan (10) dukunglah acara kunjungan penulis.

Kata kunci: Gerakan literasi; literasi dalam kelas; pembaca mandiri; wali kelas

Pendahuluan

Pada tahun 2016, UNESCO mengadakan penelitian tentang minat baca masyarakat di 61 negara, termasuk Indonesia. Hasil penelitian yang dipublikasikan melalui berbagai media sosial itu menohok berbagai institusi, baik pemerintah maupun swasta, terutama Kemendikbud karena ternyata minat baca masyarakat Indonesia hanya 0,001% (www.kaskus.co.id, 2017, juga Gewati, 2016:1). Artinya, hanya 1 dari 1.000 orang anggota masyarakat yang memiliki minat baca yang layak. Makna lain, hanya 1 dari 1.000 orang anggota masyarakat Indonesia yang dianggap layak untuk memiliki predikat pembaca mandiri atau pembaca independen (independent reader).

Banyak pihak yang dapat disalahkan dan akhirnya akan saling menyalahkan berkaitan dengan realitas menyedihkan tersebut. Namun, satu hal yang menggembirakan adalah langkah Kemendikbud yang sebenarnya sudah antisipatif karena semenjak tahun 2015 sudah mencanangkan Gerakan Literasi (GL) yang diawali oleh Permendikbud No 23 Tahun 2015 tentang Penumbuhan Budi Pekerti. Salah satu inti isi permen tersebut adalah membiasakan siswa membaca 15 menit pada setiap awal hari belajar. Maka, pada 18 Agustus 2015, Mendikbud (pada saat itu Anies Baswedan) meluncurkan Gerakan Literasi Sekolah. Peluncuran Gerakan Literasi Sekolah itu dilakukan secara simbolis dengan menyerahkan buku paket bacaan untuk 20 sekolah di DKI Jakarta sebagai bahan awal kegiatan literasi (www.kemdikbud.co.id, 2015). Sebagai perbandingan, Kementerian Pendidikan AS pada tahun 1985 sudah mencanangkan negara AS sebagai negara pembaca (Becoming a Nation of Readers) (periksa Richards, et.al., 1985). Jadi, dibandingkan dengan AS, Indonesia tertinggal 20 tahun.

Relevan dengan rasionalisasi tersebut, dalam makalah ini dibahas teknik-teknik yang dapat dikembangkan guru untuk melaksanakan kegiatan literasi di dalam kelas. Jadi, ruang lingkupnya adalah di dalam kelas. Deskripsi tentang teknik literasi di dalam kelas diadaptasi dari pemikiran Kimberly Tyson, dalam artikelnya “25 Ways Schools Can Promote Literacy and Independent Reading” (2016). Tentu saja, tidak ke-25 teknik literasi tersebut dideskripsikan karena kondisi umum sekolah di AS, termasuk musim, tidak sama dengan kondisi sekolah di Indonesia. Pertimbangan lain, teknik-teknik yang dideskripsikan diurutkan dari hal-hal yang sederhana hingga kompleks untuk diterapkan, serta mempertimbangkan anjuran pihak Kemendikbud (2016:12-3) tentang Strategi Membangun Budaya Literasi di Sekolah.

A. Pembahasan

Deskripsi teoretis tentang sepuluh teknik dasar pelaksanaan Gerakan Literasi Sekolah adalah sebagai berikut ini.

1. Ciptakanlah Lingkungan Kaya-Literasi (Create Literacy-Rich Environments)

Menurut Tyson (2016:1) lingkungan kelas yang kaya-literasi adalah yang lingkungan kelas yang memicu anak untuk membaca, menulis, dan mendiskusikan sesuatu secara otentik. Untuk itu, guru bisa menempelkan berbagai spanduk, poster, koran dinding, dan terutama bahan-bahan bacaan di pojok-baca. Sama halnya dengan menu masakan, peralatan kaya- literasi tersebut juga secara periodik hendaknya selalu diperbaharui. Kelak, jajaran pimpinan sekolah dapat mengadakan lomba kelas kaya-literasi untuk memicu minat dan kebiasaan baca-tulis-diskusi di kalangan siswa.

Untuk menciptakan lingkungan kelas yang kaya-literasi, dalam cakupan yang sederhana, tergantung pada dua faktor utama, yaitu guru (walas) dan orang tua siswa. Namun, yang paling berpengaruh adalah pihak jajaran pimpinan sekolah: kepala sekolah, para wakil kepala sekolah, pengurus OSIS, dan sebagainya.

Pertama, faktor guru atau wali kelas (walas). Walas merupakan ujung tombak penciptaan lingkungan kelas kaya-literasi. Misalnya, walas meminta sumbangan buku kepada orang tua siswa. Bahkan, boleh saja buku tersebut merupakan buku yang sudah dianggap usang oleh keluarga siswa. Hal lain yang amat penting, walas tersebut juga memiliki minat dan kebiasaan positif dalam membaca. Tidak mungkin walas bersemangat untuk memperkaya lingkungan kelas yang kaya-literasi jika walas tersebut bukan pencinta buku. Selain itu, antarwalas juga dapat bekerja sama. Misalnya bertukar bahan literasi, atau mengembangkan teknik kunjungan literasi: siswa kelas A melakukan aktivitas literasi di kelas B, siswa kelas B berliterasi di kelas C, dan seterusnya.

Kedua, faktor orang tua siswa. Tidak dapat dipungkiri, minat dan kebiasaan membaca siswa tidak terlepas dari faktor orang tua siswa. Dalam www.kaskus.co.id (2017) dinyatakan bahwa sebagian besar di lingkungan rumah tangga siswa di Indonesia tidak ada perpustakaan, ruang baca, atau fasilitas baca terutama media cetak seperti buku. Anehnya, dapat dipastikan pada sebagian lingkungan rumah tangga siswa tersebut ada televisi plus ruang untuk menonton televisi. Tidak aneh, jika siswa-siswa (yang berpredikat sebagai anak-anak dalam lingkungan rumah tangga) lebih suka menonton dibandingkan dengan membaca. Oleh karena itu, dengan adanya komunikasi antara guru (walas) dengan orang tua siswa, diharapkan ruang kelas kaya-literasi merupakan tanggung jawab serta kebanggaan bersama antara sekolah dengan orang tua siswa.

2. Dukunglah Perpustakaan Kelas Berkualitas Tinggi (Support High-Quality Classroom Libraries)

Relevan dengan penciptaan dan pengembangan ruang kelas yang kaya-literasi, setiap kelas hendaknya memiliki perpustakaan kelas. Diyakini, setiap siswa membutuhkan akses mudah ke buku dan bahan menarik, baik media cetak maupun online (untuk sekolah yang memiliki fasilitas memadai). Menurut laporan National Assessment of Education Progress (NAEP), AS, ketika siswa memiliki perpustakaan kelas yang dirancang dengan baik, mereka berinteraksi lebih banyak dengan buku, menghabiskan lebih banyak waktu untuk membaca, menunjukkan sikap positif terhadap membaca, dan menunjukkan tingkat pencapaian bacaan yang lebih tinggi (NAEP, 2002).

Koleksi (baik yang berasal dari pihak sekolah, iuran para siswa, bantuan para orang tua siswa, maupun bantuan pihak lain seperti guru) hendaknya dikemas secara menarik. Selain diberi sampul, juga diberi label buku (nomor panggil buku atau call number) serta disusun

katalognya. Dalam hal ini, siswa dilatih untuk tertib-buku. Siswa juga yang bertindak sebagai pengurus perpustakaan kelas.

Lazimnya, hal ini sudah dilaksanakan di sekolah-sekolah dengan membuat fasilitasi yang disebut “pojok-baca”. Mungkin, yang patut dikembangkan lagi adalah masalah kualitas dan kuantitas bahan bacaan yang disediakan. Guru, misalnya, dapat menginformasikan kepada para siswa untuk “menyumbangkan” buku-buku atau bahan-bahan bacaan lainnya yang sudah tidak dibaca lagi di rumah. Selain itu, kerja sama dengan komite sekolah juga sangat diperlukan.

3. Susunlah Jadwal Tambahan untuk Membaca Mandiri (Set Aside Time for Independent Reading)

Pembaca mandiri (independent reader) memang selalu memiliki kiat pribadi dan kesempatan untuk melakukan aktivitas membaca. Namun, guru dapat membantu siswa-siswa dalam kelas agar secara serentak para siswa di kelas tersebut diberi waktu yang sama untuk bebas memilih bahan bacaannya. Tentu saja, bahan bacaan tersebut disediakan guru, misalnya di pojok baca dalam ruang kelas itu atau di perpustakaan kelas. Dianjurkan, waktu untuk membaca tersebut berkisar antara 15 s.d. 20 menit setiap hari.

Relevan dengan isi Permendikbud Nomor 21 Tahun 2015 tentang Sikap dan Perilaku Peserta Didik, Guru, dan Orang Tua Murid di Sekolah dalam rangka mengoptimalkan pendidikan karakter serta Permendikbud No 23 Tahun 2015 tentang Penumbuhan Budi Pekerti, berarti kegiatan awal PBM di setiap kelas ada tiga. Ketiga kegiatan awal tersebut adalah: (1) berdoa bersama, (2) menyanyikan Indonesia Raya, dan (3) berliterasi selama 15 menit. Dengan demikian, diperlukan penyesuaian jadwal PBM di setiap kelas, bahkan di setiap sekolah.

4. Doronglah Siswa untuk Membaca secara Luas (Encourage Students to Read Widely)

Membaca adalah menjelajahi dunia tertentu sesuai dengan isi bacaan. Oleh sebab itu, wajarlah jika ada kelompok siswa yang gemar menjelajahi dunia cerita sedangkan kelompok siswa lain lebih gemar menjelajahi dunia olahraga, seni, sains, dan sebagainya. Untuk itu, guru perlu mengembangkan wawasan siswa bahwa dunia itu luas dan perlu dijelajahi. Jadi, doronglah siswa untuk membaca bukan hanya dunia-dunia yang digemarinya tetapi juga dunia lain. Salah satu caranya adalah dengan menetapkan hari-hari tertentu agar para siswa membaca satu jenis dunia atau genre sedangkan pada hari lain para siswa ditugasi membaca genre lainnya.

Untuk memastikan siswa menjelajahi dunia atau genre-genre teks yang variatif, guru dapat memberikan tugas tertentu agar siswa menunjukkan hasil bacaannya. Tugas yang lazim diberikan guru adalah siswa membuat laporan bacaan pada buku pribadi siswa yang diberi label tertentu, misalnya Buku Kegiatan Literasi. Buku tersebut, secara periodik diperiksa guru. Selayaknya, guru memberikan catatan-catatan khusus atas hasil pemeriksaannya. Tentu saja, catatan tersebut lebih bersifat memotivasi siswa, bukan menghakimi siswa, misalnya memberikan catatan pujian serta hal-hal lain yang perlu dibenahi siswa dalam membaca dan melaporkan hasil bacaannya.

5. Doronglah Aktivitas Membaca Nyaring (Encourage Read Alouds)

Dengan mengutip laporan penelitian Becoming a Nation of Readers (1985), Tyson (2016:2) menyatakan bahwa para pakar literasi berkeyakinan, “Satu aktivitas terpenting untuk membangun pengetahuan yang dibutuhkan agar sukses dalam membaca adalah membaca dengan suara keras kepada anak-anak.” Para pakar tidak hanya menyarankan untuk membaca dengan suara keras di rumah, tetapi mereka juga menyarankan untuk membaca dengan suara keras di sekolah. Membaca dengan keras tidak hanya memungkinkan guru mengembangkan cara terbaik untuk menghadapkan siswa ke kosakata yang lebih kompleks daripada yang biasa mereka dengar atau baca. Dalam realitas kehidupan, kemampuan membaca teknik, melafalkan dengan baik, dan menggunakan intonasi yang sesuai sangat diperlukan. Bahkan, dapat dijadikan sebagai salah satu peluang usaha, misalnya menjadi pembaca berita, penyiar atau reporter, serta pembawa acara.

Guru memiliki peran penting untuk mendorong siswa membaca nyaring. Misalnya, pada minggu-minggu pertama, gurulah yang membaca nyaring, siswa menyimak. Teknik lain, guru membacakan secara nyaring kemudian pada bagian tertentu guru menugasi siswa untuk mengulang bacaan tersebut dengan suara nyaring. Guru hendaknya meyakini bahwa seluruh siswa sudah menunjukkan lafal, tekanan, dan jeda yang tepat.

Pada minggu-minggu selanjutnya, tugas membaca nyaring tidak harus dikerjakan guru. Guru dapat menugasi salah seorang siswa untuk membaca nyaring dan siswa-siswa lain menyimak. Bahkan, mungkin saja guru membentuk kelompok-kelompok dan setiap kelompok memiliki seorang siswa sebagai pembaca nyaring. Tugas guru adalah memantau, baik memantau lafal, jeda, serta intonasi pembaca maupun keseriusan siswa lain dalam menyimak. Tugas membaca dalam kelompok tersebut hendaknya juga dipergilirkan sehingga seluruh siswa memiliki kesempatan untuk menunjukkan kemampuannya dalam membaca nyaring.

6. Bacalah Apa yang sedang Dibaca Siswa (Read What Students are Reading)

Dalam pandangan konstruktivistik, cara paling mudah dan aplikatif bagi individu untuk belajar serta menyerap  tatanan sikap serta nilai adalah dengan meniru, mencontoh, atau melalui percontohan. Dalam konteks pembelajaran, model atau contoh yang paling dekat bagi siswa adalah guru-guru, terutama guru wali kelas. Oleh sebab itu, sebelum menumbuhkembangkan siswa menjadi pembaca mandiri, siswa hendaknya mempunyai model bahwa guru atau wali kelasnya juga merupakan sosok pembaca mandiri.

Pengembangan guru sebagai model sosok pembaca mandiri dapat ditempuh dengan jalan guru juga membaca apa yang sedang disukai siswa pada saat itu. Lebih dari itu, dengan membaca serta memahami apa bacaan yang sedang disukai siswa, berarti guru juga membuka jalur komunikasi yang simpatik dengan siswa. Guru dapat dijadikan mitra komunikasi bagi siswa ketika mampu bercerita tentang tokoh Naruto, guru akan nyambung ketika siswa bercerita tentang Ang, Si Avatar, guru dapat memberikan penilaiannya terhadap tokoh-tokoh dalam serial Si Topi Jerami, dan sebagainya.

Diakui, tidak mudah mengikuti perkembangan buku baru dalam literatur dewasa dan anak-anak. Untuk mengatasi kendala tersebut, guru hendaknya rajin berselancar (browsing) di internet karena cukup banyak situs atau blog yang mengungkap daftar buku, ulasan, atau buku-buku terbaru yang digemari anak-anak atau siswa. Jadi, guru harus selalu up date wawasan dan pemahaman tentang buku-buku baru, terutama yang digemari siswa pada saat itu. Suatu usaha yang sia-sia jika guru meneriakkan betapa hebatnya novel Siti Nurbaya, Salah Asuhan, Tenggelamnya Kapal van Der Wijck, sementara siswa menemui kenyataan bahwa novel-novel tersebut tidak dapat dipahami karena wacana yang diungkapkan jauh dari tatanan wacana siswa pada saat itu, dipenuhi penggunaan bahasa yang usang, memuat isi yang asing (misalnya lamang baracun dalam Siti Nurbaya atau menyirih di kalangan ibu-ibu dalam Salah Asuhan, dan berkirim surat cinta dilengkapi dengan pantun dalam Tenggelamnya Kapal van Der Wijck).

Jika siswa mempunyai model sosok pembaca mandiri yang didapat dari guru atau wali kelasnya, penumbuhkembangan minat, sikap, dan kebiasaan membaca siswa akan lebih mudah. Siswa akan menghormati apa yang disarankan wali kelasnya tentang bagaimana menjadi pembaca mandiri, apa keuntungannya, dan bagaimana prospeknya bagi kehidupan masa depan. Dalam paradigma pembelajaran yang sederhana, ada ungkapan, “Masukilah dunia siswa, sesudah itu ajaklah siswa ke dunia kita”. Dunia kita adalah dunia pembaca mandiri.

7. Kembangkanlah Kampanye “Tertangkap Membaca” yang Menampilkan Guru sebagai Pembaca (Create a “Caught Reading” Campaign that Features Teachers as Readers)

Relevan dengan teknik sebelumnya, yaitu guru sebagai model pembaca mandiri, salah satu usaha penting dalam menciptakan budaya membaca di seluruh sekolah serta untuk mempromosikan membaca sebagai gaya hidup adalah melalui visualisasi. Siswa perlu melihat guru mereka sebagai pembaca. Untuk itu, buatlah serta tempelkanlah poster para guru dan staf membaca buku favorit mereka dan tampilkan di lorong-lorong di seluruh sekolah. Ada ungkapan klasik yang tidak dapat dipungkiri kebenarannya, yaitu, “A picture speaks more than thousand words”, sebuah gambar mengungkap lebih dari ribuan kata. Jika siswa mengakui bahwa guru-gurunya adalah sosok pembaca mandiri, diperkuat oleh visualisasi tentang sosok para guru sebagai pembaca mandiri, tidak perlu lagi guru atau pimpinan sekolah merepotkan dirinya menceramahi siswa tentang pentingnya sikap, minat, dan kebiasaan membaca. Ceramah adalah input auditif, sedangkan model, contoh, keteladanan adalah input visual. Jangan sampai siswa berpendapat, “Apa yang kami dengar berbeda dengan apa yang kami lihat”. Amat berdampak negatif bagi penumbuhkembangan siswa sebagai pembaca mandiri jika siswa berpandangan bahwa para guru hanya pandai menceramahi siswa tentang urgensi minat, aktivitas, dan pengalaman membaca namun guru sendiri tidak menunjukkan dirinya sebagai sosok pembaca mandiri.

8. Doronglah Siswa dan Guru untuk Menulis Ulasan Buku (Encourage Students & Teachers to Write Book Reviews)

Ulasan buku berisi tentang pandangan pembaca tentang sebuah buku. Bahkan, kadang- kadang bukan sekedar pandangan tetapi juga penilaian. Penilaian tersebut dikaitkan dengan isi, bahasa, ilustrasi, dan aspek fisik serta nonfisik buku. Setidak-tidaknya, dengan ulasan buku ada pembuktian bahwa pengulas sudah membaca buku yang diulasnya. Jadi, ulasan buku merupakan salah satu jembatan bagi para pembaca untuk memperoleh gambaran awal tentang suatu buku.

Kebiasaan membuat ulasan buku hendaknya juga dikembangkan di kalangan para siswa, terutama di kalangan para guru. Lebih dari itu, kemampuan menulis ulasan buku juga merupakan salah satu kemampuan yang perlu dikembangkan di kalangan siswa karena terdapat rumusan Kompetensi Dasar (Kurikulum 2013 dan Kurikulum 2013 Edisi Revisi). Jadi, dengan menumbuhkembangkan kemampuan mengulas buku, siswa dilatih untuk menunjukkan penilaiannya terhadap buku yang sudah dibaca. Inti kegiatan tersebut pada awalnya adalah mengembangkan minat dan kemampuan membacanya, selanjutnya menunjukkan penilaiannya terhadap hasil aktivitas membaca tersebut.

Jika guru mampu memberikan model ulasan buku, misalnya ditempel di majalah dinding sekolah. Siswa semakin meyakini bahwa membaca itu penting, membaca itu mengembangkan wawasan, dan membaca itu merupakan kebutuhan utama seseorang untuk mengembangkan dirinya. Siswa merasa terdukung karena mendapatkan model bahwa guru juga seorang pembaca mandiri dan mampu mengungkapkan hasil aktivitas membacanya melalui ulasan buku.

9. Undanglah Pembaca Tamu ke Ruang Kelas (Invite Guest Readers into Classrooms)

Salah satu teknik literasi dalam kelas yang dapat memotivasi siswa untuk menempa dirinya menjadi pembaca mandiri adalah dengan mengundang pembaca tamu ke ruang kelas. Pembaca tamu itu menunjukkan kemampuan membacanya, mungkin membaca teknik, mungkin juga membaca estetik. Apa lagi, sesudah unjuk kemampuan membaca itu aktivitas ditindaklanjuti dengan tanya-jawab berkaitan dengan apa yang sudah dibacakannya.

Pembaca tamu yang diundang tidak harus warga di luar sekolah. Mungkin, para siswa akan lebih antusias jika ternyata pembaca tamu itu adalah orang tua atau saudara salah seorang siswa di kelas tersebut. Mungkin juga, pembaca tamu itu adalah alumnus sekolah tersebut. Cara lain, pembaca tamu itu adalah salah seorang tokoh yang dikagumi para siswa pada umumnya.

10. Dukunglah Acara Kunjungan Penulis (Support Author Visits)

Teknik literasi dalam kelas yang terakhir diungkapkan dalam makalah ini adalah mengadakan acara kunjungan penulis ke dalam kelas. Dapat dipastikan, ungkapan “Penulis yang hebat adalah pembaca yang hebat” akan terbukti kebenarannya. Tidak ada penulis hebat jika penulis tidak memiliki minat, kebiasaan, dan keterampilan membaca yang tinggi. Jadi, dengan adanya acara kunjungan penulis ke dalam kelas, tatanan keyakinan siswa tentang urgensi menjadi pembaca mandiri akan semakin kokoh.

Unjuk kerja nyata aktivitas membaca adalah menulis. Dengan adanya kunjungan penulis ke dalam kelas, siswa akan membuka wawasan bagaimana kiat-kiat menunjukkan hasil dan pengalamannya dalam bentuk tulisan. Pembaca mandiri adalah pembaca yang khas secara individual. Demikian juga halnya dengan penulis. Masing-masing penulis memiliki kiat personal bagaimana menuangkan hasil dan pengalaman bacanya dalam bentuk tulisan. Dengan demikian, jika siswa sudah kokoh sebagai pembaca mandiri, kelak juga mempunyai banyak peluang mengembangkan potensi untuk menjadi penulis mandiri.

Penutup

Pelaksanaan Gerakan Literasi Sekolah di dalam kelas merupakan tanggung jawab bersama antara wali kelas, guru-guru, dan jajaran pimpinan sekolah, bahkan juga orang tua siswa serta komite sekolah. Jika salah satu pihak tidak memiliki persepsi yang sama tentang urgensi pelaksanaan literasi di dalam kelas bagi penumbuhkembangan para siswa menjadi pembaca mandiri. Program GLS di kelas juga akan terhambat. Oleh sebab itu, sebelum kesepuluh teknik dasar yang telah dideskripsikan dilaksanakan, perlu dikembangkan komunikasi dan penyamaan persepsi antarpihak-pihak tersebut.

Referensi
1 comment
  1. Terima kasih atas Sepuluh Teknik Dasar Pelaksanaan Gerakan Literasi di atas, Pak. Sebagai calon guru bahasa Indonesia di masa depan kelak tentu saja hal ini sangat penting untuk kami ketahui 🙏

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *