Seratus Ribu Rupiah
Seratus Ribu Rupiah

Seratus Ribu Rupiah

0 Shares
0
0
0

Perlahan mataku terbuka dan melihat sekeliling. Sinar matahari dari celah jendela kamarku sudah mulai mengintipku dari jauh. Dengan badan yang begitu lelah, aku mencoba mendudukkan badan di atas kasurku. Kutarik ponselku untuk melihat beberapa notifikasi yang masuk semalam. Ada dari Nia, adik kos sebelah, teman sekampus, dan lainnya. Aku beranjak dari tempat tidur, berjalan menuju kamar mandi untuk bersiap-siap mendatangi fakultasku pagi ini. Setelah mandi, kukenakan baju berwarna merah muda dengan bawahan berwarna hitam. Sambil mempersiapkannya, kulihat teman sekamarku juga mulai bangun.

“Selamat pagi, Lin,” ucapku dengan semangat.

“Pagi juga, Zahra,” balasnya sambil menguap.

“Bangun-bangun, banyak aktivitas yang harus kita selesaikan hari ini, Lin,” sambungku untuk menyemangatinya.

“Oh iya, iya, satu per satu harus kita selesaikan, Ra,” balasnya.

Kami adalah teman satu jurusan di fakultas. Kami adalah anak rantau dari daerah yang berbeda. Aku berasal dari Solok, sementara Lina berasal dari Pariaman. Kami dipertemukan oleh jurusan yang sama, kelas yang sama, dan sama-sama tinggal di kos Pak Syahrin.

Tiap hari kami harus mendengar ocehan Pak Syahrin untuk mematikan stopkontak lampu teras, karena stopkontak lampu teras itu berada tepat di kamar kami. Jadi setiap pagi, kami mempunyai tugas khusus untuk mematikan listrik dan menghidupkannya kembali pada pukul 17.30 WIB.

“Kalau mau makan, samba ada di dapur, Lin,” kataku kepada Lina yang masih belum bangun dari kasur.

“Kapan dimasak, Ra?” tanya Lina dengan perasaan kurang semangat.

“Itu kiriman dari Ibu, kemarin,” jawabku.

Lina mengangguk memahami perkataanku. Hari ini aku agak cepat berangkat ke kampus, mendahului Lina. Sepertinya Lina akan pergi ke kampus sedikit lebih siang. Sambil siap-siap berangkat, aku melihat Lina juga bergegas mandi. Berbeda denganku, Lina menyiapkan laptop dan beberapa alat tulisnya ke dalam tas. Setelah itu, aku sendirian di kamar, ditinggal Lina yang menuju kamar mandi.

Aku mengenakan jilbab kesukaanku, model mahasiswa dengan pin berbentuk kupu-kupu. Aku sangat menyukai pin ini. Aku mengambil tasku, notifikasi ponsel muncul. Kulihat segera, ternyata itu dari grup kelas. Notifikasi itu berisi informasi bahwa kelas kami akan diadakan daring, bukan luring. Jadi, tidak perlu datang ke kampus, dan 10 menit lagi akan ada meeting Zoom.

Sambil menunggu link Zoom, aku merebahkan badanku kembali di atas kasur. Lina datang dari kamar mandi, bersiap-siap juga untuk berangkat ke kampus.

“Nggak jadi berangkat, Ra?” tanya Lina padaku dengan heran.

“Kelasku meeting Zoom, Lin,” jawabku sambil menatap ponselku.

“Kasihan, sudah siap-siap dari pagi ternyata Zoom,” kata Lina meledekku. Kami sudah biasa bercanda seperti ini.

“Nggak apa-apa kok, penampilan ini juga bisa digunakan untuk Zoom,” jawabku membela diri. Lina pun tidak menghiraukan pembelaanku dan melanjutkan bergegas siap-siap berangkat. Mulai dari menyiapkan tas, sepatu, kunci motor, dan lain sebagainya.

Link Zoom kelas kami sudah masuk di grup WhatsApp. Kubuka laptop di atas meja belajarku dan menyiapkan alat tulisku. Aku mencoba bergabung di ruang Zoom itu. Baru 10 menit memasuki Zoom, Lina sudah pamit berangkat ke kampus.

“Ra, aku berangkat dulu, ya,” izin Lina keluar menuju pintu.

“Iya, Lin, hati-hati naik motor,” jawabku dengan pandangan tetap menatap layar laptop.

“Iya, Ra,” jawab Lina dengan suara yang sudah agak menjauh keluar.

Sekarang aku sendirian di kamar kos sambil mengikuti perkuliahan di ruang Zoom. Sambil menunggu semua anggota Zoom masuk, kami mengadakan absensi oleh dosen pada hari itu. Setelah dua nomor absensi terpanggil setelah namaku, Lina mendadak muncul di depan pintu. Aku terkejut melihat wajahnya sengaja mengagetkanku.

“Ra, pinjam uangmu sepuluh ribu dulu untuk beli bensin,” pinta Lina di depan pintu karena dia sudah pakai sepatu.

“Ini! Bikin kaget saja,” kataku sambil menyerahkan uang lima ribu sebanyak dua lembar.

“Terima kasih, ya,” jawabnya sambil berlari menuju garasi.

“Iya,” jawabku.

Setelah itu, aku kembali fokus pada ruang Zoom di layar laptopku. Dosenku menjelaskan materi dan beberapa dari kami mencoba menanggapi materi tersebut. Ada yang setuju dan ada juga yang tidak setuju. Detik demi detik akhirnya perkuliahan Zoom selesai juga. Perutku sudah mulai memberontak meminta makan. Ingin rasanya kumasukkan makanan ke perut ini tanpa harus dikunyah dulu. Begitulah hebatnya pemberontakan mereka dari dalam perutku. Aku memasak nasi tadi malam di rice cooker. Kuambil nasi itu dan kuletakkan di piring berwarna hijau daun. Nasinya dibiarkan dulu sekitar 15 menit agar dingin. Aku kurang suka makan nasi yang panas, harus didinginkan dulu. Sambil menunggu nasi dingin, aku keluar kamar sambil bercerita dengan teman dari kamar yang lain. Kebetulan dia juga tidak masuk kuliah pagi ini. Kami bercerita tentang proses perkuliahan yang kami rasakan masing-masing. Di tengah perbincangan, aku mencoba menyela sedikit untuk mengambil nasi yang telah kudinginkan sekitar 15 menit lalu.

“Yori, sudah makan?” tanyaku.

“Sudah, Kak. Baru saja tadi bersama Silfa, kami makan di luar,” jawab Yori.

“Kakak mau ambil nasi dulu ya, belum makan,” jawabku sambil mulai beranjak dari tempat duduk.

Yori dan Silfa memanggilku kakak karena aku lebih tua empat tahun dari mereka. Mereka adalah anak semester 1 dengan jurusan matematika di kampus yang sama denganku. Setelah nasi dan sambal kuambil, aku mengajak Yori kembali makan lagi. Yori menolak karena perutnya sudah kenyang. Kami kembali bercerita panjang lebar dengan segala macam cerita.

Keesokan harinya

“Ra, ini uangmu yang kemarin aku pinjam sepuluh ribu,” ucap Lina sambil memberikan uang seratus ribu.

Aku menerima uang seratus ribu itu dengan tangan kanan. Tak sengaja, mataku melihat bahwa uang itu sobek, memanjang ke bawah dekat angka serinya. Panjang sobekannya sekitar lebih kurang 1 cm. Sejujurnya, aku tak mau menerima uang ini. Bagaimana aku harus mengatakan kepada Lina kalau uang yang diberikannya padaku sobek begini? Nanti kalau disampaikan, takutnya Lina tersinggung. Uang seratus ribu itu, untuk anak kos-an, sangat berarti. Aduh, bingung sekali, gerutuku dalam hati.

“Nggak ada uang kecil, Lin? Ini uangku tak cukup untuk kembalian sembilan puluh ribu lagi untukmu,” kataku halus kepada Lina agar ia tak tersinggung.

“Nggak apa-apa, Ra, pegang saja dulu uang itu. Kalau sudah ada uangmu, baru kembalikan lebihnya untukku, aku masih ada uang yang lain,” jelas Lina padaku.

“Sepertinya, Lina juga mau mengelak dari uang ini. Jadi diberikannya padaku agar ia menerima uang kembalian yang bagus dariku. Ah, Lina ada-ada saja,” pikirku kecewa.

Aku berpikir sejenak tentang uang ini. Kalau dipergunakan nanti, pasti orang warung komentar. “Uangnya sobek, Dek. Uangnya nggak laku, Dek. Ada uang yang lain, Dek,” kan malu jadinya.

“Ah, nggak deh. Aku nggak mau menerima uang ini,” jawabku dalam hati.

Aku orangnya pemalu dan tak enakan kepada orang. Jadi sebisa mungkin aku akan mencari cara dan mencari pernyataan yang bagus agar orang tak tersinggung saat aku menolak sesuatu. Akhirnya, uang itu kuletakkan saja dulu di atas meja belajarku di samping tumpukan penaku. Aku yakin uang ini tak akan hilang, karena pasti tak ada yang mau, karena sobekannya.

Dua hari kemudian

Uang seratus ribu itu masih terletak manis di atas meja belajarku. Tak ada yang menyentuhnya, bahkan menggesernya sedikitpun. Lina pun tak ada mengingatkan uangnya kepadaku. Akupun begitu juga. Aku tak mau memberikan uang kembalian sembilan puluh ribu kepada Lina, karena kalau iya, otomatis uang seratus ribu yang cacat ini menjadi milikku. Aku tak mau menerima uang sobek itu. Biarlah kutunggu kapan waktunya Lina ada uang pecahan sepuluh ribu. Toh, hutang Lina padaku cuma sepuluh ribu, tak seberapa. Kalau uang sepuluh ribu pun Lina tidak ada, sudah tidak apa-apa.

Biasanya uang seperti ini adalah uang yang sangat diimpikan oleh setiap orang, baik itu pedagang, mahasiswa, guru, pegawai atau siapapun. Uang seratus ribu adalah uang yang paling besar nilainya di negaraku tapi karena hanya cacat sedikit, tak ada yang mau memilikinya, termasuk si pemilik uang.

“Ah sangat malang nasibmu, wahai uang. Biasanya kamu dikejar mati-matian siang dan malam,” kataku dalam hati.

Hari sudah mulai senja. Aku dan Lina seperti biasa. Sehabis seharian ada kegiatan di kampus, sorenya kami duduk di teras kos sambil menikmati sunset. Lina duduk di mulut pintu dengan pandangan keluar sementara aku duduk di dekat meja belajarku yang bisa dipindahkan ke mana-mana. Sinar sunset sudah mulai tampak. Indahnya cahaya sunset sampai ke tempat kos kami. Kos ini sangat dekat dengan pinggir pantai. Berjalan kaki sekitar seratus meter sudah bisa menikmati ciptaan Tuhan yang sangat indah. Setiap sore, para nelayan bersiap-siap dengan segala perlengkapan nelayannya untuk berlayar. Burung-burung bergerombolan menari menikmati awan. Sore ini sangat cerah. Beberapa penikmat pantai berganti-ganti mengunjungi dan duduk dengan cemilannya. Ada kerupuk ditambah sedikit mi putih, bakso bakar, dan teh es. Seperti inilah suasana di pekarangan kos kami ketika sore hari.

“Hai Kak Lin, hai Kak Ra,” suara Nia mengejutkanku dan Lina yang sedang melepas penat sore itu.

“Hai juga Nia, mau pergi ke mana?” tanyaku.

“Mau keluar, Kak, beli makan dulu. Dari siang tadi Nia belum makan,” jawabnya lemas sambil duduk dekat kami sejenak.

“Kok tidak makan?” tanyaku lagi.

“Ini baru pulang dari kampus, Kak,” jawab Nia.

Sembari menjawab pertanyaan ringan dariku, kuperhatikan mata Nia berjalan-jalan sedikit melirik lembaran merah yang terbaring di atas meja belajarku sejak dua hari yang lalu. Lembaran merah dengan gambar Pak Presiden RI pertama itu sudah tak tahan untuk diajak jalan ke warung-warung.

“Wah, lagi banyak uang ya, Kak? Udah main letak-letakin aja uang tu,” canda Nia meruncingkan bibirnya menunjukkan ke arah uang seratus ribu yang di atas meja belajarku.

“Ah, mana ada,” elakku pada Nia.

“Nia mau keluar, Kak Zahra dan Kak Lina ada mau titip? Nanti Nia belikan sekalian,” tanya Nia lagi.

“Ada, Ni,” jawab Lina langsung.

“Mau dibelikan apa, Kak?” tanya Nia.

“Kakak mau titip sate, boleh?” tanya Lina menatap Nia.

“Boleh, Kak,” jawab Lina sambil memasukkan tangan kanannya ke dalam saku bajunya.

Lina meraih uang seratus ribu yang terbaring di atas meja yang ada di depanku. Uang itu adalah miliknya yang belum dia ambil semenjak dua hari yang lalu. Pas ia meraihnya, aku juga berdiri untuk mengambil segelas air minum. Kemudian, Lina menyerahkan uang itu kepada Nia yang sedang menghadap ke jalan depan kos kami.

“Ini uangnya, Ni,” kata Lina kepada Nia.

Nia menerima uang itu dengan tangan kanan sambil memegang kunci motor miliknya.

“Haa, uangnya sobek, Kak Lin. Nggak mau pakai uangnya sobek, Kak Lin,” kata Nia langsung menolak uang yang diberikan Lina.

Aku hanya terdiam sambil memegang secangkir air di gelas. Aku memperhatikan Lina dan Nia sedang ngobrol. Aku tak mau terlibat dalam obrolan mereka. Toh uang itu bukan milikku dan aku tak ada hak untuk ikut campur dengan topik yang mereka bicarakan.

“Hah, sobek?” bantah Lina terkejut.

“Iya, sobek, Kak Lin,” kata Nia menunjukkan bagian uang yang sobek tersebut.

“Eh, kok bisa sobek ya?” tutur Lina karena malu uang miliknya sobek.

“Wah, bagaimana ini lagi. Kakak ada lem kertas?” tanya Lina ke arahku.

“Nggak ada, Lin,” jawabku.

“Kalau seandainya aku punya lem kertas, sudah sejak dua hari yang lalu ku coba memperbaikinya,” bisikku dalam hati.

“Ya, sudahlah dulu. Tak jadi kakak menitip sate, Nia,” kata Lina kepada Nia.

“Serius, nggak jadi, Kak?” tanya Nia menegaskan.

“Iya, Nia. Kakak mencari lem kertas dulu. Siapa tahu teman-teman yang lain punya,” jawab Lina.

“Okelah, Kak. Nia pergi dulu,” jawab Nia.

Setelah itu, Nia menghidupkan motor Scoopy miliknya dan pergi meninggalkanku dan Lina di kos. Aku masih saja setia dengan tempat dudukku. Lina sibuk bertanya ke kamar yang lain apakah mereka mempunyai lem kertas untuk uang yang sobek itu. Terdengar dari kamarku, tak ada satupun yang punya lem kertas. Dari selembar uang kertas ini, saya belajar bahwa sebernilai apapun kita di mata orang, sepandai apapun kita dalam satu bidang, setinggi apapun jabatan, jika kita memiliki karakter yang cacat, sekalipun jumlahnya sedikit, maka kita tidak akan diterima oleh orang banyak.

Siniar Audio

Citation is loading...
34 comments
  1. Nama: Jessika Putri
    NIM: 24016079
    Prodi: Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
    Cerita sangat menginspirasi buat semua yang membaca, ternyata hanya dengan sedikit kekurangan dapat menutupi hal yang seharusnya sangat berharga.

    1. Cerpen Seratus Ribu Rupiah menghadirkan pesan moral yang mendalam melalui peristiwa sederhana dalam kehidupan mahasiswa. Pengarang berhasil menggambarkan nilai kejujuran, ketulusan, dan kehati-hatian dalam menjaga perasaan orang lain melalui tokoh Zahra dan Lina. Simbol uang seratus ribu yang sobek menjadi metafora yang kuat tentang makna harga diri dan kesempurnaan moral manusia. Selain itu, gaya penceritaan yang realistis membuat pembaca mudah memahami konteks sosial dan emosional tokoh-tokohnya. Secara keseluruhan, karya ini mengajak pembaca untuk merefleksikan pentingnya menjaga integritas pribadi dan etika dalam hubungan sosial sehari-hari.

    2. Cerita ini menarik karena menggambarkan kehidupan anak kos yang sederhana dan penuh kejujuran.Kisahnya terasa dekat dengan kehidupan mahasiswa, terutama soal saling membantu dan menghadapi masalah kecil seperti uang sobek.Dari cerita ini, kita bisa belajar bahwa kejujuran dan rasa tidak enakan sering membuat kita bingung untuk mengambil keputusan dan tindakan.Selain itu,cerita ini juga memberikan pelajaran penting bahwa sehebat atau setinggi apa pun kemampuan dan posisi kita, kalau sikap dan karakter kita buruk, orang lain tetap akan sulit menerima dan menghargai kita.Secara keseluruhan, cerita ini ringan, bermakna, dan mudah dipahami.

  2. Nama : Diva
    Nim : 24052110
    Prodi : Ppkn
    BI-NS-0532 NUA 33
    Menurut saya cerita ini sangat menginspirasi bagi siapapun yang membaca. Cerita ini juga mudah dipahami karena penggunaan bahasa yang
    sederhana. Melalui cerita ini kita dapat belajar bahwa uang seratus ribu yang paling besar nilainya tak ada yang mau memiliki termasuk si pemilik uang hanya karena cacat sedikit. Dan dari selembar uang kertas ini kita dapat mengetahui bahwa sebernilai apapun kita dimata orang lain, jika kita memiliki karakter yang cacat, walaupun sedikit, maka kita tidak akan diterima oleh banyak orang.

  3. Nama: Sri Permata Putri
    Nim: 24042383
    BI-NS-0970
    Dari cerita ini, saya belajar bahwa sehebat atau sepandai apapun kita, kalau ada sedikit kekurangan atau kesalahan dalam diri, orang lain mungkin akan sulit menerima kita sepenuhnya.

  4. ceritanya sangat menarik dan menginspirasi, jika dihadapkan dengan kehidupan hal ini sangat relate. pada dasarnya walaupun sebaik apapun kita jika ada cacat sedikit saja baik itu sikap, tingkah laku kita maka akan ada saja orang-oarang yang tidak bisa menerimanya.

  5. Cerita ini menyampaikan pesan yang mendalam tentang bagaimana nilai seseorang tidak hanya diukur dari tampilan luar atau status sosial, tetapi juga dari karakter dan integritas yang dimiliki. Meskipun uang seratus ribu itu tampak bernilai besar, sobekan kecil pada uang tersebut menjadi simbol bahwa sedikit cacat pada karakter bisa menghalangi penerimaan orang lain. Interaksi antara Zahra dan Lina juga menggambarkan kedekatan persahabatan yang penuh perhatian dan saling mendukung, meskipun dalam hal yang sederhana seperti pinjaman uang. Melalui cerita ini, kita diajak untuk merenung bahwa kesempurnaan sejati terletak pada sikap dan kualitas diri, bukan semata-mata pada penampilan atau materi.

  6. Menurut saya, cerita ini sangat menggugah karena menyampaikan pesan yang dalam tentang nilai karakter dan bagaimana hal kecil, seperti uang yang sobek, dapat mencerminkan bagaimana kita dipandang oleh orang lain. Interaksi antara Zahra dan Lina terasa sangat alami dan menunjukkan kedekatan teman sejawat yang saling mengerti satu sama lain, meskipun terkadang ada situasi yang memicu kebingungannya. Hal ini mengingatkan kita bahwa, meskipun memiliki kualitas baik, jika ada kekurangan yang terlihat, bisa membuat kita merasa kurang dihargai. Secara keseluruhan, cerita ini menyampaikan pesan moral yang relevan tentang penerimaan dan pentingnya memperbaiki kekurangan dalam diri untuk diterima oleh orang lain.

  7. Nama: Nurmaiyah Lubis
    Nim: 23016033
    Priodi: Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia

    Cerita ini sangat menginspirasi buat semua yang membaca, ternyata hanya dengan sedikit kekurangan dapat menutupi hal yang seharusnya sangat berharga.

    1. Perkenalkan saya Dewi Sartika perwakilan dari kelompok 6, GTBI-NS-048.

      Keberadaan audio dalam artikel ini turut membantu pembaca dalam memahami materi dengan lebih baik, apalagi kualitas audionya yang baik membuatnya nyaman untuk didengarkan. Artikel ini juga dapat dijadikan referensi yang bermanfaat bagi mahasiswa maupun peneliti yang ingin mempelajari dan memahami dasar-dasar metodologi penelitian. Namun, alangkah baiknya jika artikel ini dilengkapi dengan penjelasan teknis dan contoh-contoh yang lebih konkret agar lebih aplikatif.

  8. Cerita “Seratus Ribu Rupiah” sangat menyentuh karena menggambarkan nilai kehidupan melalui hal sederhana. Cerita ini mengajarkan bahwa sekecil apa pun cacat dalam sikap atau karakter, bisa membuat seseorang kehilangan nilai di mata orang lain, sama seperti uang sobek yang tak lagi dianggap berharga meski nilainya besar.

  9. Melalui kejadian yang terjadi dalam cerita ini, penulis menyampaikan pesan moral bahwa nilai manusia tidak ditentukan oleh penampilan, kepintaran, atau kedudukan, tetapi oleh kejujuran dan karakter yang baik. Seperti uang sobek yang ditolak meskipun bernilai besar, manusia dengan cacat moral juga akan sulit diterima di lingkungan sekitarnya. Menurut saya, cerita ini sederhana namun penuh makna, mengajarkan pentingnya menjaga integritas dan hati yang bersih.

  10. Cerita ini menyampaikan pesan moral yang sederhana tetapi kuat tentang bagaimana sedikit kekurangan dapat memengaruhi penilaian orang lain. Uang seratus ribu yang bernilai besar tetap tidak diterima hanya karena cacat kecil, memperlihatkan bagaimana manusia sering kali menilai berdasarkan “cacat” yang tampak, bukan nilai yang sebenarnya

  11. Teks ini menghadirkan kisah sederhana yang dekat dengan kehidupan mahasiswa perantau, sehingga mudah dipahami dan dirasakan pembaca. Penulis berhasil menggambarkan dinamika keseharian di kos—mulai dari kelas daring mendadak, kebiasaan teman sekamar, hingga masalah kecil namun berarti seperti uang sobek. Konflik utama yang muncul dari uang seratus ribu rupiah memberi pesan moral yang kuat: manusia sering menilai sesuatu dari tampilan luar, bukan dari nilai sebenarnya. Selain itu, cerita ini juga menyoroti sifat sungkan, rasa tidak enakan, dan hubungan sosial antar teman kos yang sangat realistis dalam budaya Indonesia.

    Bahasanya ringan, alurnya runtut, dan tokoh-tokohnya terasa hidup. Pembaca dapat merasakan dilema Zahra dan memahami bagaimana hal kecil dapat menimbulkan kebingungan emosional dalam hubungan pertemanan. Akhirnya, cerita ini memberikan refleksi bahwa sesuatu yang sedikit cacat pun tetap memiliki nilai—dan bahwa kejujuran serta komunikasi terbuka jauh lebih baik daripada memendam rasa tidak enak.

  12. Dari judul cerita ini saya sudah tertarik dan ketika membacanya ternyata saya tenggelam dalam ceritanya, karena cerita ini sangat relate dengan kenyaataan saya sebagai seorang perantau dan anak kos.

  13. Cerita nyaa bagus dan inspiratif. Cerita nya disusun dengan rapi dan mudah di mengerti. Bahasa yang di gunakan mudah di pahami sehingga pembaca tidak terlalu berpikir untuk memahami maksud dari apa yang di sampaikan. Ceritanya juga memiliki makna yang bagus.
    Cerita yang di tulis relate dengan dunia nyata. Alur dari ceritanya juga runtut. Penulis nya berhasil membuat pembaca jadi masuk ke cerita dan merasakan bagaimana dilema nya zahra. Cerita ini juga mengajarkan kepada kita, mau se sempurna ataupun se berharga apapun kita, jika kita memiliki karakter yang cacat, maka tak ada artinya.

  14. Cerita ini hangat, realistis, dan penuh detail kehidupan sehari-hari yang menyenangkan untuk dibaca. Pesan moralnya kuat dan disampaikan dengan cara yang halus. Karakter dan latarnya hidup, membuat pembaca tenggelam dalam keseharian tokoh-tokohnya.

  15. Cerita ini menggambarkan kehidupan anak kos dengan sangat realistis dan hangat, sambil menghadirkan konflik kecil yang justru terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari. Humor dan interaksi antar tokoh berjalan natural sehingga membuat ceritanya menyenangkan untuk diikuti. Pesan moral tentang nilai diri yang diibaratkan melalui uang sobek juga disampaikan dengan sederhana namun bermakna. Secara keseluruhan, cerita ini ringan, mengalir, dan meninggalkan kesan reflektif bagi pembaca.

  16. Cerita ini sangat menarik karena mulai dari judulnya saja sudah membuat orang penasaran apasih isi ceritanya dan juga memberikan pesan yang sangat berharga. Dari cerita kita dapa mengambil pelajaran bahwa sekaya apapun kita, setinggi apapun jabatan kita dan sepintar apapun otak kita kalau kita memiliki karakter atau sikap yang kurang baik maka kita tidak akan diterima atau dihargai oleh orang.

  17. Cerita ini secara apik mengilustrasikan metafora uang sobek yang ditolak semua orang, mencerminkan sila kedua Pancasila “Kemanusiaan yang Adil dan Beradab” yang menuntut kita menghargai martabat setiap individu tanpa diskriminasi atas “cacat” kecil, karena semua manusia setara sebagai ciptaan Tuhan dan layak diperlakukan adil serta bermartabat.

  18. Cerita ini sederhana namun penuh makna. Penulis berhasil menangkap
    dinamika kehidupan anak kos terburu-buru kuliah, meminjam uang, bercanda,
    hingga perkara sepele seperti uang sobek yang bisa memunculkan dilema batin.
    Konflik kecil ini justru terasa sangat nyata dan dekat dengan kehidupan
    mahasiswa.

  19. Dari cerita ini, kita belajar bahwa uang seratus ribu yang biasanya menjadi incaran banyak orang namun, karena kerusakan sedikit saja orang tidak lagi mau menerimanya. Begitu juga manusia yang memiliki cacat karakter walaupun sedikit tapi, banyak juga yang sulit untuk menerimanya. Oleh karena itu, kita harus menjadi orang yang jujur dan bersikap baik agar kita dihargai oleh orang lain. Selain itu, kita harus tetap menjaga rasa percaya diri dan terus memperbaiki diri meskipun memiliki kekurangan. Cerita ini juga mengingatkan kita agar saling menghargai dan menolong sesama manusia dalam kehidupan sehari-hari dengan penuh tanggung jawab dan keikhlasan.

  20. Kisah ini sangat rilet dengan kehidupan anak kos, terutama dalam menggambarkan dilema “tidak enakan” saat harus menolak permintaan atau pemberian teman. Saya belajar bahwa bersikap jujur dan tegas itu penting untuk kebaikan bersama, bukan hanya demi menjaga perasaan orang lain.

  21. Pertama tentang isi, cerita ini dibungkus dengan apik. Memasukan kenyataan layaknya kehidupan anak kos pada umumnya, dimasukan ke dalam cerita membuat saya tergugah untuk membaca. Memiliki konflik yang tidak terlalu berat membuat cerita ini nyaman untuk di baca. Cerita yang tidak disangka berfilosofi dari uang seratus ribu membuat saya yang awalnya tidak mengerti menjadi paham atas konflik uang yang sobek tersebut.
    Saya menyadari kenapa uang seratus ribu yang di pilih dan kenapa tidak nilai uang yang lain, karena uang seratus adalah nilai tukar uang paling tinggi atau paling bernilai. Jadi pesan yang dapat diambil yakni seberapa tinggi atau bernilaipun kita, namun cacat dalam karakter, sekalipun itu sedikit maka kita tidak akan di terima orang banyak. Dalam alur juga urut dan terstuktur. Walaupun teks ini menceritakan zaman sekarang penulis masih memasukan unsur budaya dalam ceritanya. Dari keseluruhan cerita ini, saya sangat mengapresiasi penulis karena bisa membuat cerita dengan hanya mengangkat masalah uang yang sobek namun memiliki pesan yang sangat bermakna.

  22. Menurut saya bagian paling kuat dalam cerita ini adalah bagaimana penulis menyisipkan pesan moral melalui hal yang sangat sederhana. Uang seratus ribu yang bernilai tinggi tetapi ditolak karena cacat kecil, menjadi metafora yang efektif tentang bagaimana seseorang bisa saja tidak diterima karena kekurangan yang mungkin terlihat sepele. Penyampaian pesannya tidak dipaksakan, justru muncul alami dari rangkaian kejadian sehari-hari.

  23. Teks ini menceritakan tentang peristiwa kecil yang mungkin sering terjadi di kehidupan anak kos, yaitu soal uang seratus ribu yang sobek. Ceritanya mudah dipahami dan terasa nyata. Dari masalah sederhana itu, kita bisa belajar bahwa sedikit saja sikap buruk dalam diri seseorang bisa membuat orang lain tidak nyaman. Seperti uang yang sobek, meskipun nilainya besar, tetap tidak ada yang mau.

  24. Cerita ini membuat saya mengerti dengan konsep uang yang rusak. Bagaimana si penulis mendapatkan sebuah pelajaran hanya dari lingkungan di sekitar menunjukkan bahwa pelajaran itu bukan hanya datang dari sekolah saja tapi bisa dari orang orang terdekat dan lingkungan tempat kita berada.

  25. Konflik tentang uang seratus ribu yang sobek menjadi bagian paling menarik karena memuat pesan moral yang kuat. Melalui benda yang tampak sepele, penulis menyampaikan bahwa nilai seseorang tidak hanya dilihat dari “besar kecilnya”, tetapi dari keutuhan karakter. Uang yang nilainya besar sekalipun tetap ditolak kalau ada cacatnya, begitu juga manusia kepintaran, jabatan, atau prestasi tidak akan berarti jika karakter dan kejujurannya rusak walau sedikit.

  26. Prodi: PBSI
    Cerita ini menggunakan benda sederhana yaitu, uang sobek, sebagai simbol dari kejujuran dan integritas. Meskipun materi bukan segalanya, sikap jujur terhadap sesama jauh lebih penting agar hubungan tetap sehat. Uang sobek yang tetap dipaksakan menunjukkan bahwa keinginan untuk membayar utang dengan “jalan pintas” bisa merugikan diri sendiri dan orang lain. Cerita ini mengingatkan kita agar tidak pernah menyepelekan integritas hanya karena urusan materi.

  27. Sikap Lina dan Nia pada cerita ini menunjukkan bahwa cacat kecil sulit diterima oleh orang lain. Pelajaran tentang karakter di akhir cerita adalah poin yang sangat kuat. Sekecil apapun cacat karakter, itu bisa membuat kita ditolak masyarakat.

  28. Kisah ini menggambarkan bagaimana situasi kecil dalam keseharian dapat menjadi refleksi mendalam tentang nilai dan karakter seseorang. Melalui uang yang sobek, penulis menunjukkan bahwa cacat sekecil apa pun dapat memengaruhi cara orang lain memandang dan menerima kita. Pesan moralnya terasa kuat, bahwa kualitas pribadi jauh lebih menentukan dibandingkan sekadar penampilan atau kemampuan. Cerita sederhana ini pada akhirnya mengingatkan bahwa menjaga integritas diri adalah hal yang tidak boleh diremehkan.

  29. Cerita ini menggambarkan keseharian dua mahasiswi rantau yang hidup sederhana dan saling membantu. Dari rutinitas pagi, kuliah daring, sampai urusan kecil seperti meminjam uang, semua terasa dekat dengan kehidupan kos pada umumnya. Bagian tentang uang seratus ribu yang sobek memberi pesan yang cukup dalam: sesuatu yang bernilai tinggi pun bisa tidak diterima kalau memiliki cacat, walaupun kecil. Lewat kejadian sederhana itu, cerita ini mengajak kita berpikir bahwa karakter seseorang jauh lebih penting dari penampilan luar. Ceritanya ringan, mudah diikuti, dan punya makna yang relate dengan banyak orang.

  30. Cerpen ini menyajikan kisah sederhana namun sarat makna melalui pengalaman sehari-hari anak kos. Alurnya mengalir alami, penggambaran tokoh dan setting hidup, serta pesan moralnya kuat: nilai seseorang tidak hanya ditentukan oleh kemampuan atau pencapaian, tetapi oleh karakter yang ia bawa. Akhir cerita memberikan refleksi yang menyentuh dan relevan dengan kehidupan nyata.

  31. Nama : Axel Dewa Maulana
    Nim : 25137031
    Prodi: S1 Teknik Pertambangan
    NU : 05
    BI-NS-251
    Cerita ini menggambarkan dilema etika pertemanan sehari-hari di kos-kosan, di mana objek sepele seperti uang sobek menjadi katalisator bagi konflik internal dan kecanggungan sosial yang sangat bisa dipahami.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *